BAYANGKAN Era 1980-an menyimpan potret kehidupan remaja yang tumbuh dalam suasana sosial yang khas. Kala itu, nilai kesopanan masih lekat dalam pergaulan, penghormatan kepada orang tua menjadi bagian dari pendidikan keluarga, dan kebersamaan tumbuh dari perjumpaan sehari-hari. Di banyak lingkungan, anak muda mengenal arti persaudaraan bukan dari layar, melainkan dari empati, sapaan di beranda rumah, dan kesediaan belajar hingga kelak bertumbuh bersama.

Masa remaja pada dekade itu; belum ada media sosial yang mengatur pertemanan, belum ada pesan instan yang mengabarkan setiap gerak, dan belum ada telepon pintar yang selalu melekat di tangan. Kabar beredar melalui pertemuan, cerita dari mulut ke mulut, surat, radio, atau telepon rumah bagi keluarga yang memilikinya.

Di kampung, gang kecil, dan halaman sekolah, pergaulan memiliki panggungnya sendiri. Anak-anak muda berkumpul selepas belajar, mengayuh sepeda menuju rumah teman, atau duduk di teras sambil merangkai obrolan tentang sekolah, musik, cita-cita, dan kisah pendahulu. Sore tidak selalu membutuhkan agenda. Kehadiran teman saja sudah cukup untuk membuat waktu terasa berharga.

Dalam banyak keluarga pada era 80-an, anak belajar menghormati orang yang lebih tua melalui kebiasaan sehari-hari. Mereka dibiasakan menyapa tetangga, menggunakan tutur kata yang santun, serta meminta izin sebelum bepergian. Saat berkunjung ke rumah teman, sebagian anak juga mengenal tata krama untuk mengetuk pintu, memberi salam, dan berpamitan sebelum pulang.

Nilai tersebut tidak tumbuh dengan cara yang sama di setiap rumah atau daerah. Namun, bagi banyak orang yang melewati masa remaja pada dekade itu, pendidikan budi pekerti dari keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter.

Teguran orang tua, Nasehat guru bisa membuat anak / murid menunduk, lalu tak mengulang kesalahan bila ada. Sementara tatapan tetangga yang mengenal keluarga sering membuat anak berpikir dua kali sebelum bertindak. Lingkungan sosial yang saling mengenal turut membentuk batas perilaku, meskipun tidak selalu berjalan tanpa tekanan.

Dari kebiasaan sederhana itu, anak muda belajar bahwa kebebasan berjalan bersama tanggung jawab. Bergaul boleh luas, tetapi tata krama tetap dijaga. Berbeda pendapat boleh saja, tetapi perkataan tidak semestinya melukai orang lain.

Permainan dan hiburan dari bahan non tekhnologi menjadi salah satu denyut kehidupan remaja pada masa itu. Kelereng beradu di atas tanah, layang-layang menari di langit, bulu tangkis berlangsung di halaman, dan sepak bola menyulap lapangan sederhana menjadi stadion kebanggaan.

Tidak diperlukan tiket untuk masuk ke gelanggang pertemanan tersebut. Cukup membawa diri, mematuhi aturan yang disepakati, dan bersedia menerima hasil pertandingan. Kadang, perdebatan kecil muncul karena gol yang dipersoalkan atau kekalahan yang sulit diterima. Namun, suasana kembali cair saat seseorang mengajak bermain lagi.

Di sanalah persahabatan menempa wataknya. Anak belajar bekerja sama, berbagi giliran, menjaga barang milik teman, dan menyelesaikan perselisihan. Semua berlangsung melalui pengalaman langsung, bukan lewat petunjuk yang muncul di layar.

Meski begitu, kehidupan anak muda kala itu tidak seragam. Permainan, fasilitas, dan kebiasaan pergaulan berbeda menurut wilayah, kondisi keluarga, serta lingkungan tempat mereka tumbuh. Kenangan satu orang tidak otomatis menjadi pengalaman semua orang.

Radio memiliki tempat tersendiri dalam keseharian banyak keluarga. Suara penyiar menemani pagi, mengisi waktu senggang, dan memperkenalkan lagu yang kemudian menjadi kegemaran anak muda. Kaset pita menyimpan suara yang bisa diputar berulang kali, sementara sampul kaset kerap menjadi benda koleksi bagi pencinta musik.

Merekam lagu dari radio membutuhkan kesabaran. Pendengar harus menunggu lagu favorit diputar, lalu menekan tombol rekam pada saat yang tepat. Gangguan suara penyiar atau potongan iklan terkadang ikut masuk ke dalam rekaman. Justru dari pengalaman semacam itu, sebuah kaset bisa memiliki cerita tersendiri.

Lagu-lagu populer menjadi bahan percakapan di sekolah dan tempat berkumpul. Nama penyanyi dibicarakan, lirik dihafalkan, dan kaset dipinjamkan kepada sahabat. Musik bukan sekadar hiburan yang lewat di telinga, melainkan bagian dari suasana yang melekat pada suatu masa.

Bertahun-tahun kemudian, satu lagu lawas dapat membuka kembali ruang ingatan. Seseorang mungkin teringat pada perjalanan menuju sekolah, wajah teman sebangku, atau sore yang pernah dihabiskan tanpa menyadari bahwa hari-hari itu kelak akan dirindukan.

BERITA TERKINI EDITORIAL