JAKARTA, INSERTRAKYAT.com — Jika  diintip ke dalam kerangka Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pemulihan Sumatera berkaitan erat dengan tanggung jawab negara melindungi warga, memulihkan pelayanan publik, dan menjaga penghidupan masyarakat pascabencana. Tumpukan sedimen dan material sisa bencana di sungai, misalnya, perlu ditangani agar hujan deras tak kembali mengancam permukiman dan merusak fasilitas yang mulai pulih. Sebab, warga yang baru menata kembali usaha dan kehidupan keluarga tentu tak ingin kembali menghitung kerugian akibat persoalan yang belum tuntas. Di sinilah pekerjaan rumah (PR) negara berada. Negara wajib membenahi kerusakan sekaligus mengurangi risiko bencana susulan, agar pemulihan memberi warga kesempatan untuk bangkit tanpa terus dibayangi ancaman bencana yang sama.

History pemulihan telah berjalan sebelas bulan. Namun imunitas kekompakan Kementerian dan Lembaga (K/L) dalam melakukan pemulihan secara berkelanjutan masih acap kali mengalami Fluktuatif, bahkan dalam pantauan sejak Agustus hingga kini masih menyisakan bingkai kosong dalam aspek dokumenter. Galeri dan memori publik masih sebagian kosong melompong, indikator kekompakan idealnya di uji secara massif. Agar Asta Cita tidak lagi terkesan sebatas isapan jempol di mata rakyat.

Di tengah variabel tersebut, pemulihan pascabencana menghadapi pekerjaan yang saling berkaitan. Infrastruktur harus kembali melayani masyarakat, risiko bencana perlu ditangani, dan usaha warga membutuhkan dukungan agar kegiatan ekonomi berangsur pulih. Tak kalah mendesak pengerukan sedimen yang sedikitnya tersebar di 13 Sungai pada Wilayah pulau Sumatera ini.

Meskipun demikian, bukan berarti pemerintah tidak memiliki kepedulian.

Informasi terkini, pemerintah merencanakan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) Sumatera hingga 2028. Program ini mencakup penanganan infrastruktur serta pemulihan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) mengawal pelaksanaannya.

Ketua Satgas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian membahas perkembangan program tersebut dalam rapat di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (28/10/2026). Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Apri Artoto turut hadir.

Tito menyampaikan bahwa rencana induk menetapkan periode pemulihan pada 2026–2028. Pemerintah melanjutkan penanganan secara bertahap sesuai kebutuhan wilayah terdampak.

“Poin yang paling penting adalah pemulihan percepatan rehab-rekon bencana Sumatera terus berjalan dan ini berjalan sampai tahun 2028,” kata Tito.

Pekerjaan Kementerian PU mencakup jalan, jembatan, sungai, irigasi, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan tempat peribadatan. Infrastruktur tersebut menentukan kelancaran aktivitas warga, mulai dari perjalanan menuju sekolah hingga distribusi barang dan hasil usaha.

Penanganan sungai juga menjadi perhatian. Endapan sedimen dapat menghambat aliran air dan meningkatkan risiko banjir saat hujan deras. Jika persoalan itu berulang, warga kembali menghadapi ancaman, sedangkan fasilitas yang telah diperbaiki berisiko mengalami kerusakan.

“Karena sedimen ini kalau tidak ditangani, hujan lebat sedikit, banjir lagi,” ujar Tito.

Ia menegaskan pemerintah akan terus menangani tantangan tersebut demi keselamatan masyarakat.

“Tapi itu tantangannya kita, kita enggak akan berhenti untuk menangani dalam rangka untuk menyelamatkan rakyat,” katanya.

Sekretaris Jenderal Kementerian PU Apri Artoto menyampaikan bahwa proses pemulihan perlu berjalan cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

“Proses pemulihan akan terus kami dorong agar tidak hanya cepat tetapi juga tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujar Apri.

Sementara itu, pemulihan ekonomi menyasar pelaku UMKM di tiga provinsi terdampak. Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan empat fokus program, yakni Bantuan Presiden (Banpres) untuk 200.000 usaha mikro, penyediaan alat produksi, pemberdayaan UMKM, dan Klinik UMKM Bangkit. Pemerintah menjalankan program tersebut secara bertahap.

Sasaran 200.000 usaha mikro menjadi target program. Data penyaluran bantuan dan perkembangan usaha diperlukan untuk menilai sejauh mana dukungan tersebut menjangkau pelaku usaha dan membantu mereka kembali berproduksi.

Bencana yang melanda Sumatera pada akhir 2025 telah memasuki bulan kesebelas dalam proses penanganan dan pemulihan. Pemerintah kini menargetkan rehab-rekon berlangsung hingga 2028, dengan pekerjaan yang mencakup infrastruktur, keselamatan warga, dan pemulihan ekonomi.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL