INSERTRAKYAT.COM,– Ada perjalanan yang ditempuh dengan kaki, ada yang dilalui kendaraan, dan ada pula perjalanan yang seluruh jalurnya berlangsung di dalam pikiran. Perjalanan intelektual Rocky Gerung berada di wilayah yang terakhir. Ia berangkat dari Manado, sempat menoleh ke arah fisika, ekonomi, teknik, hubungan internasional, dan hukum, sebelum akhirnya menetap di filsafat. Dari ruang kuliah, perjalanan itu bergerak menuju pengajaran, tulisan, televisi, forum publik, perdebatan politik, perkara hukum, dan berbagai ruang akademik. Pada 2026, perjalanan itu memasuki sebuah institusi negara. Seperti seorang pengelana yang terus berpindah lanskap tanpa meninggalkan kompas di tangannya, setiap persinggahan Rocky menyisakan pengalaman yang kemudian ikut membentuk perjalanan berikutnya.

Rocky Gerung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Januari 1959. Dalam wawancara dengan media pada 2019, Rocky menceritakan bahwa sekitar dekade 1970-an ia sempat ingin masuk Institut Teknologi Bandung mengambil fisika murni. Rencana itu tidak terlaksana karena ia terlambat datang saat ujian masuk. Setelah itu, ia mencoba masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan diterima, tetapi kemudian memilih belajar di Fakultas Teknik Universitas Trisakti. Pada periode yang sama, ia juga belajar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia. Setelah itu, ia sempat berpindah ke Fakultas Hukum sebelum akhirnya memilih filsafat dan menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada 1986.

Perpindahan itu kemudian dijelaskan Rocky sebagai bagian dari pencarian bidang yang sesuai dengan cara berpikirnya. Dalam wawancara yang sama, ia mengatakan bidang-bidang yang pernah dipelajarinya tidak memberikan tantangan intelektual seperti yang ia temukan dalam filsafat. Ia menyebut filsafat menyediakan ruang untuk abstraksi, spekulasi, penundaan argumen, dan pendalaman kontradiksi. Di antara berbagai disiplin yang pernah disinggahinya, filsafat menjadi ruang yang memberinya kesempatan untuk tidak buru-buru tiba pada jawaban. Di sana, pertanyaan justru memperoleh tempat yang sama pentingnya dengan kesimpulan.

Setelah menyelesaikan pendidikan filsafat, Rocky kembali ke lingkungan Universitas Indonesia sebagai pengajar. Sejumlah laporan mengenai riwayat akademiknya menyebut ia mengajar sekitar 15 tahun di Departemen Filsafat UI dan berhenti mengajar pada awal 2015. Selama berada di kampus, ia mengampu sejumlah mata kuliah dan terlibat dalam pengembangan mata kuliah di bidang filsafat.

Lintasan pendidikan Rocky kemudian mempertemukan beberapa bidang yang mempunyai bahasa pengetahuan berbeda. Fisika berbicara tentang hukum alam dan pengukuran, teknik mengenai rekayasa, hubungan internasional mengenai relasi antarnegara, hukum mengenai norma dan institusi, sedangkan filsafat bergerak pada pertanyaan mengenai pengetahuan, logika, etika, manusia, dan realitas. Ia seperti seorang pengelana yang berkali-kali berganti peta. Setiap disiplin menawarkan koordinat yang berbeda, tetapi perjalanan itu akhirnya bermuara pada filsafat sebagai bidang yang ia selesaikan.

Setelah masa pengajaran di UI, aktivitas Rocky berkembang ke berbagai ruang diskusi. Ia kemudian dikenal lebih luas melalui televisi dan forum publik. Salah satu ruang yang memperkenalkan namanya kepada audiens yang lebih besar adalah Indonesia Lawyers Club. Pemberitaan mengenai perjalanan Rocky mencatat bahwa kemunculannya dalam forum televisi itu ikut memperluas pengenalannya di tengah masyarakat.

Televisi kemudian menjadi ruang pertemuan antara bahasa filsafat dan bahasa politik. Istilah, metafora, pertanyaan, dan argumentasi yang sebelumnya berkembang dalam ruang akademik hadir dalam forum yang memiliki audiens lebih luas. Setelah televisi, media digital memberikan ruang baru. Sebuah ucapan dapat direkam, dipotong, dikutip, dan disebarkan kembali melalui berbagai platform. Satu percakapan kemudian dapat memiliki perjalanan yang lebih panjang daripada forum tempat percakapan itu pertama kali berlangsung.

Pada fase itu, Rocky dikenal melalui pembahasan politik, demokrasi, kebijakan pemerintah, dan berbagai persoalan sosial. Frasa “akal sehat” menjadi salah satu istilah yang kemudian sering muncul dalam komunikasi publiknya. Aktivitas itu berlangsung di berbagai tempat, mulai dari televisi, kampus, seminar, hingga forum masyarakat. Dengan berpindahnya ruang komunikasi, audiens yang berhadapan dengan Rocky juga berubah. Perjalanan intelektual yang bermula di ruang akademik perlahan memasuki ruang publik yang jauh lebih gaduh, cepat, dan terbuka terhadap benturan gagasan.

Pada 10 April 2018, dalam sebuah diskusi di Indonesia Lawyers Club, Rocky mengucapkan kalimat yang kemudian dikenal luas melalui frasa “kitab suci adalah fiksi”. Ucapan itu dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Cyber Indonesia. Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi pembicaraan mengenai makna istilah “fiksi”, konteks filsafat, kebebasan berekspresi, dan hukum.

Rocky memberikan penjelasan mengenai ucapannya. Ia membedakan istilah “fiksi” dan “fiktif” serta mengatakan penggunaan kata itu berada dalam konteks filsafat. Dalam pemeriksaan pada 2019, ia kembali menjelaskan konteks pemakaian istilah itu dan mengaitkannya dengan metode pengajaran serta silogisme. Penjelasan Rocky menjadi bagian dari keterangannya dalam perkara itu, sedangkan laporan polisi merupakan bagian dari proses hukum yang muncul setelah kalimat disampaikan.

Peristiwa itu membuat perjalanan Rocky bergerak dari ruang diskusi menuju ruang hukum. Sebuah ucapan yang awalnya muncul dalam forum televisi kemudian memiliki konsekuensi di luar forum itu. Sejak saat itu, nama Rocky tidak hanya muncul dalam pembicaraan mengenai filsafat dan politik, tetapi juga dalam pemberitaan mengenai proses hukum yang berkaitan dengan ucapannya.

Aktivitas Rocky kemudian berlangsung di berbagai forum masyarakat dan politik. Ia hadir sebagai pembicara dalam seminar, diskusi, kegiatan kampus, forum masyarakat, dan berbagai acara yang membicarakan persoalan politik serta kehidupan bernegara.

Dalam perjalanan itu, Rocky sebagai individu perlu dipisahkan dari kelompok atau kegiatan yang menggunakan istilah yang pernah ia gunakan. Kesamaan sebuah istilah tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan kelembagaan. Hubungan antara seseorang dan suatu organisasi berkaitan dengan struktur, posisi, serta keterangan yang dapat diverifikasi.

Riwayat Rocky juga mencatat keterlibatan dalam aktivitas politik sebelum dirinya dikenal luas melalui televisi. Media mencatat bahwa ia ikut mendirikan Partai Indonesia Baru pada 2002 dan kemudian bergabung dengan Partai Serikat Rakyat Independen pada 2011 sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai. Catatan itu menjadi bagian lain dari perjalanan Rocky di luar lingkungan akademik.

Pada 2023, Rocky kembali berhadapan dengan proses hukum setelah ucapannya mengenai Presiden Joko Widodo dalam sebuah kegiatan konsolidasi buruh memicu sejumlah laporan polisi. Perkara itu kemudian ditangani Bareskrim Polri.

Bareskrim pada November 2023 menyatakan telah memeriksa 61 saksi dalam perkara dugaan penyebaran berita bohong yang berkaitan dengan ucapan Rocky mengenai Presiden Joko Widodo. Menurut keterangan Dirtipidum Bareskrim saat itu, 61 saksi itu berasal dari 26 laporan polisi yang diajukan di Bareskrim.

Peristiwa 2023 kembali mempertemukan bahasa politik dengan mekanisme hukum. Sebuah ucapan yang disampaikan dalam forum publik dapat tetap menjadi bagian dari perdebatan politik, tetapi ketika laporan dibuat dan proses hukum berjalan, peristiwa itu memasuki ruang dengan prosedur dan ukuran pembuktian yang berbeda.

Setelah Pemilu 2024, Rocky tetap hadir dalam forum akademik. Pada 11 Mei 2024, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero menggelar talkshow bertajuk “Mendiagnosis Kesehatan Republik Indonesia Pascapemilu 2024” dengan Rocky Gerung dan Edu Lemanto sebagai pembicara.

Kegiatan itu berlangsung di Aula St. Thomas Aquinas Seminari Tinggi Ledalero dan diikuti civitas akademika serta masyarakat umum. Diskusi dipandu Tony Mbukut dan dilanjutkan dengan sesi pertanyaan dari peserta.

Forum itu mempertemukan Rocky dengan lingkungan pendidikan yang sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Tema yang dibicarakan juga kembali membawa filsafat dan politik ke dalam satu ruang percakapan.

Pada 19 Agustus 2025, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada melalui Departemen Hukum Tata Negara bersama Pandekha dan Constitutional Law Society menyelenggarakan Notonagoro Public Lecture dengan Rocky Gerung sebagai narasumber utama. Tema yang dibahas adalah “Filosofi Negara dan Demokrasi”.

Forum itu berlangsung di Auditorium Gedung B FH UGM dan diikuti mahasiswa, akademisi, serta masyarakat umum, baik secara langsung maupun daring.

Setelah perjalanan panjang melalui televisi, media digital, forum masyarakat, dan perdebatan politik, Rocky kembali hadir dalam ruang akademik. Tema mengenai negara dan demokrasi juga membawa pembicaraan kembali pada bidang yang sejak awal menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya.

Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres di Istana Negara, Jakarta.

Pelantikan itu merupakan bagian dari pengangkatan 26 anggota Wantimpres berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 107/P tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia. Pratikno dilantik sebagai Ketua Wantimpres dan Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua.

Dengan pelantikan itu, Rocky memasuki lembaga negara yang memberikan pertimbangan kepada Presiden. Posisi itu berbeda dari ruang yang selama bertahun-tahun ditempatinya sebagai pengajar, penulis, pembicara, dan pengamat politik.

Setelah pelantikan, Rocky menjelaskan posisinya kepada wartawan. Ia mengatakan dirinya “hanya pindah dari luar ke dalam”. Ia juga mengatakan bahwa kedekatan dengan Presiden membuat gagasan dapat disampaikan lebih cepat. Dalam keterangannya, Rocky menyebut Wantimpres memiliki fungsi untuk bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Perubahan posisi itu bukan sekadar perpindahan alamat politik. Ada perubahan arena. Seorang pengamat atau pengkritik pemerintah berbicara dari ruang publik, sementara anggota Wantimpres bekerja dalam lingkungan kelembagaan yang memiliki tugas, hubungan kerja, serta tanggung jawab berbeda.

Rocky memasuki ruang baru itu dengan membawa rekam jejak lama. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia pernah mengkritik kekuasaan, melainkan bagaimana kritik itu bekerja setelah ia berada di dalam salah satu lembaga yang berhubungan langsung dengan Presiden.

Tiga hari setelah dilantik, Rocky kembali berbicara mengenai perubahan posisinya. Dalam acara serah terima jabatan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026, ia meminta Syahganda Nainggolan membantu memulihkan nama baiknya di hadapan publik.

Rocky menyampaikannya dengan nada gurauan. Ia mengatakan selama tiga hari setelah dilantik sebagai anggota Wantimpres dirinya menjadi sasaran cacian dan hinaan. Ia terlihat cengeng dalam pada itu. “Sudah tiga hari nih, dicaci, dihina, enggak ada satu pun yang belain gue,” ujar Rocky dikutip InsertRakyat.com.

Ia kemudian mengatakan tugas pertama Syahganda adalah memulihkan nama baiknya di publik.

Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah Rocky resmi masuk ke lingkungan pemerintahan. Respons publik terhadap perpindahan itu menjadi bagian dari cerita baru yang tidak bisa dipisahkan dari reputasinya selama bertahun-tahun sebagai pengkritik pemerintah.

Rocky sebelumnya mengatakan dirinya hanya berpindah dari luar ke dalam. Pernyataan pada 6 Oktober menunjukkan bahwa perpindahan itu juga membawa konsekuensi baru pada cara publik membaca dirinya.

Ilmu politik mengenal berbagai kajian mengenai hubungan antara kelompok di luar kekuasaan dan institusi kekuasaan. Salah satu konsep yang sering dibahas dalam literatur politik komparatif adalah kooptasi, yakni proses ketika aktor atau kelompok tertentu masuk atau diintegrasikan ke dalam struktur kekuasaan.

Johannes Gerschewski membahas kooptasi sebagai salah satu mekanisme yang digunakan rezim otoriter bersama represi dan legitimasi. Konsep itu lahir dari kajian tentang rezim otoriter dan tidak dapat begitu saja diterapkan pada Indonesia yang memiliki sistem demokrasi elektoral.

Karena itu, masuknya Rocky ke Wantimpres tidak otomatis dapat disebut sebagai kooptasi. Yang dapat dicatat secara langsung adalah perubahan posisi: dari figur yang selama bertahun-tahun menyampaikan kritik dari luar struktur pemerintahan menjadi anggota lembaga yang memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Bagaimana posisi itu dijalankan baru dapat dinilai melalui rekam jejak setelah pelantikan. Sikap terhadap kebijakan pemerintah, gagasan yang disampaikan kepada Presiden, aktivitas kelembagaan, serta pernyataan-pernyataan publik Rocky akan menjadi bagian dari catatan yang dapat digunakan untuk membaca perubahan itu.

Kritik dari luar kekuasaan memiliki ruang artikulasi yang berbeda dari kritik yang disampaikan seseorang yang berada di dalam struktur kelembagaan. Di dalam lembaga negara, gagasan berhadapan dengan mandat, prosedur, hubungan kerja, dan tanggung jawab institusional.

Karena itu, pertanyaan tentang Rocky setelah 2 Oktober 2026 bukan semata apakah ia masih kritis. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kritik itu bekerja dalam ruang yang sekarang ia tempati.

Rocky memasuki Wantimpres dengan membawa perjalanan panjang. Ada riwayat pendidikan yang berpindah dari fisika, ekonomi, teknik, hubungan internasional, dan hukum sebelum berakhir pada filsafat. Ada pengalaman mengajar di Universitas Indonesia. Ada tulisan dan aktivitas dalam berbagai forum. Ada kemunculan di televisi dan media digital. Ada perdebatan mengenai ucapan politik. Ada pula proses hukum yang pernah membawanya berhadapan dengan aparat penegak hukum.

Namun setiap perkara memiliki status dan prosesnya sendiri. Karena itu, rekam jejak itu tidak tepat dirangkum sebagai satu kesimpulan hukum yang seragam. Status hukum suatu perkara harus dibaca berdasarkan perkembangan dan keputusan resmi yang tersedia.

Kini Rocky memasuki babak berbeda. Ia tidak lagi semata berbicara dari luar pagar kekuasaan. Ia berada di dalam sebuah lembaga yang tugasnya memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Pintu itu telah terbuka. Tetapi pintu kelembagaan tidak pernah netral. Ia mengubah jarak, mengubah akses, mengubah tanggung jawab, dan pada akhirnya mengubah cara setiap gagasan dibaca.

Perjalanan Rocky berikutnya akan ditentukan oleh apa yang ia lakukan setelah melewati pintu itu.

Baca berita terbaru InsertRakyat.com langsung di WhatsApp. Pastikan aplikasi WhatsApp sudah terpasang di HP, lalu buka Channel InsertRakyat.com dan klik Ikuti.

Jurnalis : Afri Juang

Editor    : Supriadi Buraerah

InsertRakyat.com di WhatsApp
Ikuti berita terbaru langsung melalui WhatsApp.