SEANDAINYA kami punya legal standing untuk memerintah, “Gak Usah Ke MK” ingin ku katakan sekarang. Sebab ihwal itu adalah rival ajakan dan harapan yang amat dalam, “Mas Gibran Ayo ke Sinjai aja.” Ini hanya harapan dari kami yang ingin pemerintah pusat melihat lebih dekat daerah yang dikenal sebagai Bumi Panrita Kitta dan punya semangat Ehao hingga Sinjai Bersatu yang dicetuskan oleh Bupati Sinjai, Andi Rudianto Asapa kala itu.

Terus terang, kami masih belum berani menelepon Mas Gibran. Mengirim WhatsApp pun belum berani. Pengalaman menghubungi pejabat mengajarkan kami satu hal “trauma kecil”, pesan bisa sampai lebih dulu, sementara balasan kadang datang belakangan macam bang Toyib. Jadi, untuk sementara, kami memilih menyampaikan harapan lewat hujan huruf.

Presiden Joko Widodo pernah datang ke Sinjai pada 4 Juli 2024. Ketika itu T.R. Fahsul Falah masih menjabat Penjabat Bupati. Jokowi mengunjungi RSUD Kabupaten Sinjai untuk melihat pelayanan dan fasilitas kesehatan. Sekarang Indonesia bersama RI1, Prabowo – Gibran dan Sinjai dipimpin Bupati Hj. Ratnawati Arif bersama Wakil Bupati Andi Mahyanto Mazda, dia (Ramah) untuk semua masyarakat.

Pemimpin boleh berganti. Harapan masyarakat tetap ada. Sebab itu Kami melihat Lappa sebagai salah satu kawasan yang layak mendapat perhatian para pemilik kekuasaan se-tanah air dan sedang duduk di kursi empuk Istana Negara sebagai pelayan rakyat.

Lappa sudah lama hidup dengan lautnya. Nelayan bekerja, hasil perikanan bergerak, perdagangan tumbuh dan permukiman terus berkembang. Dalam perencanaan daerah, kawasan ini juga dikenal sebagai Minapolitan Lappa. Dan semoga Mas Rocky Gerung lekas tahu potensi ini, lalu kemudian memberi pertimbangan khusus, agar ia punya fungsi sehingga tidak Manikmati gaji siluman tanpa keringat atas mandatnya.

Maka ketika berbicara tentang Lappa, jangan hanya melihat jalan dan bangunan. Ada kehidupan masyarakat yang sudah berlangsung jauh sebelum rencana pembangunan dibuat. Dan ada Rocky di lingkungan Istana. Telinganya lebar saat ini untuk mendengar masyarakat lalu menyampaikan kepada (majikan formalnya) Presiden RI.

Ada pula Laha Bete. Makanan khas Sinjai ini punya cerita sendiri, karena dikenal sebagai makanan masyarakat dan bahkan pernah diabadikan dalam sebuah lagu.

Kami ingin pembangunan berjalan tanpa menghilangkan cerita itu juga. Rumah rakyat semakin layak. Jalan semakin baik. Drainase berfungsi. Lingkungan terjaga. Nelayan tetap punya ruang bekerja. Pedagang mendapat tempat yang baik. Anak muda punya peluang kerja. Hasil laut tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi bisa memberi nilai ekonomi lebih besar.

Data BPS juga memperlihatkan betapa pentingnya sektor tersebut bagi Sinjai. Pada 2025, ekonomi Sinjai mencapai sekitar Rp17,62 triliun. Pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi penyumbang terbesar PDRB dengan kontribusi 46,49 persen. Perdagangan menyumbang 13,29 persen dan konstruksi 12,31 persen.

Angka itu membuat pembicaraan tentang Lappa menjadi masuk akal. Kawasan pesisir, perikanan, perdagangan, perumahan dan konstruksi mempunyai hubungan dengan denyut ekonomi Sinjai.

Wajibnya Dinas Perkimtan memiliki pekerjaan penting. Penataan perumahan, kawasan permukiman dan pertanahan tidak berhenti pada membangun rumah. Kawasan tempat orang tinggal harus ikut ditata agar jalan, lingkungan dan fasilitas dasarnya dapat berkembang dengan baik.

Di tingkat pemerintah pusat ada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman atau PKP. Kementerian ini menangani urusan perumahan dan kawasan permukiman, termasuk kebijakan pengembangan kawasan serta pembangunan perumahan di wilayah perkotaan dan perdesaan.

Jadi, kalau suatu hari Mas Gibran datang ke Lappa, banyak hal yang bisa dilihat.
Lihat nelayan. Lihat kawasan pesisir.
Lihat permukiman. Lihat kegiatan ekonomi.
Lalu, kalau ada waktu luang, makan “Laha Bete.”

Kami menyebut Lappa Minapolitan sebagai gagasan. Bukan berarti kota itu sudah ada. Kami hanya ingin Lappa mulai dipikirkan sebagai kawasan yang bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan Sinjai.

Kalau infrastrukturnya siap, tata ruangnya jelas dan ekonominya terus bergerak, tentu akan lebih mudah membuka ruang bagi dunia usaha dan investor. Tidak perlu menjanjikan investor tertentu. Yang penting daerahnya disiapkan lebih dahulu.

Soal Mas Gibran, kami memang masih malu-malu. Mau menelepon, masih berpikir.
Mau WhatsApp, juga masih melihat-lihat layar. Kami tahu akhir – akhir ini ia sangat sibuk dengan urusan kenegaraan.

Kami tidak ingin pesan kami bernasib seperti pesan kepada sejumlah pejabat yang kadang belum mendapat jawaban. Bukan masalah besar. Mungkin mereka memang sedang banyak urusan formal yang lebih berkelas dan penting untuk masyarakat (baginya).

Maka untuk sekarang, kami titipkan saja lewat tulisan yang amburadul apa adanya.

Barangkali dari tulisan ini, harapan kecil kami bisa sampai lebih jauh.

Jokowi sudah pernah datang ke Sinjai ketika T.R. Fahsul Falah menjadi Penjabat Bupati. Kini pemerintahan daerah berada di bawah Ratnawati Arif dan Andi Mahyanto Mazda.

Kami hanya ingin satu hal, ialah Lappa dipersiapkan dengan baik. Bukan cuma menjadi kawasan yang semakin ramai, tetapi menjadi tempat yang memberi manfaat lebih besar bagi orang-orang yang sudah lama hidup di sana hingga masyarakat luas.

Lappa belum menjadi kota masa depan. Namun lautnya ada, masyarakatnya ada, ekonominya bergerak, budayanya hidup dan Laha Bete punya cerita. Tinggal bagaimana semua itu dirangkai menjadi masa depan Sinjai. Dan tulah harapan kami, rakyat Sinjai.

(Oleh : Supriadi Buraerah).

TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com
Memuat berita...