JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM,– Ki Hadjar Dewantara mewariskan pemikiran bahwa pendidikan harus menuntun manusia mengenali dan mengembangkan seluruh potensi dirinya. Gagasan serupa hadir dalam pemikiran Pierre de Coubertin, penggagas Olimpiade modern, yang memandang olahraga sebagai sarana pendidikan karakter, kedisiplinan, dan persaudaraan. Dua pemikiran dari latar berbeda itu memberikan satu pelajaran di balik arti sebuah capaian prestasi olahraga. Kiprah olahraga membutuhkan manusia yang sedia untuk dibina, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan luas untuk berkembang, hingga Presiden sebuah negara berucap prestasi anak bangsa ini “luar biasa.”

Seorang juara tidak muncul begitu saja di atas podium. Ada proses panjang yang mendahului sebuah kemenangan. Latihan berulang, penguasaan teknik, kekuatan fisik, ketahanan mental, strategi, pemulihan tubuh, hingga disiplin menjaga pola hidup menjadi bagian dari perjalanan atlet. Medali emas mungkin hanya memiliki berat beberapa gram, tetapi perjuangan untuk meraihnya dapat berlangsung bertahun-tahun dan mungkin mereka “acap kali” mengalami berbagai tantangan dan hambatan yang menanti ditaklukkan.

Di banyak negara, dunia olahraga mengenal kemenangan sebagai hasil pertandingan. Namun, ukuran kemajuan sebuah negara juga terlihat dari kemampuannya membangun sistem yang melahirkan atlet berprestasi secara berkelanjutan. Negara tidak cukup merayakan para juara yang sudah berdiri di podium. Negara juga perlu menemukan bakat-bakat baru yang hari ini masih berlatih di sekolah, desa, dan daerah dengan fasilitas terbatas seperti di KABUPATEN SINJAI, SULAWESI SELATAN, di sana ada Stadion sepak bola dan kolam renang olahraga dan fasilitas lainnya, amat sangat membutuhkan perhatian langsung dari PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO agar mas ERICK THOHIR ‘lekas Peka.’

Atlet Asian Games yang berprestasi hari ini patut mendapatkan apresiasi, baik dari pemerintah maupun masyarakat nasional.

Perspektif itulah yang membuat pemberian bonus kepada atlet peraih medali Asian Games ke-20 dan Asian Para Games ke-5 Aichi-Nagoya 2026 memiliki arti lebih luas. Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan kepada atlet dan pelatih kontingen Indonesia dalam acara di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.

“Atas nama negara, bangsa, dan rakyat Indonesia, atas nama pemerintah saya ucapkan terima kasih kepada seluruh hadirin, seluruh atlet, pelatih, dan semua yang ikut serta dalam kontingen Indonesia dalam Asian Games dan Asian Para Games,” ujar Prabowo.

Kontingen Indonesia mencatat hasil menggembirakan dalam dua ajang olahraga tersebut. Pada Asian Games, para atlet membawa pulang 39 medali, terdiri atas lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Perolehan lima emas itu melampaui target awal empat medali.

Sementara itu, kontingen Indonesia mengumpulkan 73 medali dalam Asian Para Games. Rinciannya, 15 emas, 21 perak, dan 37 perunggu. Jumlah emas tersebut juga melampaui target awal tujuh medali.

Capaian itu memberikan gambaran tentang kemampuan atlet Indonesia bersaing di tingkat Asia. Asian Para Games juga membawa pesan penting mengenai ruang prestasi yang terbuka bagi atlet dengan beragam kemampuan fisik. Arena olahraga menyediakan kesempatan bagi setiap atlet untuk menunjukkan kecakapan, ketekunan, dan daya juang melalui cabang yang mereka tekuni.

Pemerintah kemudian memberikan bonus dengan nilai berbeda berdasarkan jenis medali dan nomor pertandingan. Untuk nomor perorangan, atlet peraih emas menerima Rp3 miliar, perak Rp525 juta, dan perunggu Rp262,5 juta.

Pada nomor ganda, bonus emas mencapai Rp2,4 miliar, perak Rp420 juta, dan perunggu Rp210 juta. Adapun atlet nomor beregu memperoleh Rp1,5 miliar untuk emas, Rp315 juta untuk perak, dan Rp157,5 juta untuk perunggu.

Penghargaan tersebut juga mencakup para pelatih. Pelatih nomor perorangan atau ganda menerima Rp900 juta untuk emas, Rp157,5 juta untuk perak, dan Rp78,75 juta untuk perunggu.

Untuk nomor beregu, pelatih memperoleh Rp1,2 miliar bagi peraih emas, Rp210 juta untuk perak, dan Rp105 juta untuk perunggu. Pemerintah juga menetapkan bonus bagi pelatih atas medali kedua dan seterusnya, yakni Rp450 juta untuk emas, Rp78,75 juta untuk perak, serta Rp39,375 juta untuk perunggu.

Menpora Erick Thohir menjelaskan bahwa besaran bonus menyesuaikan nomor pertandingan.

“Apresiasi langsung beliau berikan dengan langsung menyerahkan bonus sebesar Rp3 miliar untuk peraih medali emas. Tetapi kalau yang ganda atau yang berdua itu nilainya Rp2,4 miliar dan kalau yang beregu nilainya Rp1,5 miliar,” kata Erick.

Dalam acara tersebut, Prabowo menyerahkan apresiasi secara simbolis kepada sejumlah perwakilan atlet dan pelatih. Mereka terdiri atas Desak Made dari panjat tebing, Nurisa Dian Ashrifah dari panahan, I Kadek Dwi dari para atletik lempar cakram, Muhammad Iqbal dari menembak, Junaidi dari para judo, Eugenia Diva dari para wushu, serta Yayang Gunaya dari para tenis meja. Pelatih bulu tangkis Indra Wijaya turut menerima penghargaan.

Prabowo menyebut bonus sebagai bentuk pengakuan negara atas perjuangan atlet dan pelatih. Ia meminta para atlet terus meningkatkan pencapaian dan mengajak seluruh pemangku kepentingan olahraga menyusun pembinaan yang lebih sistematis.

“Kita tidak boleh cepat puas, kita negara keempat terbesar di dunia, kita harus berjuang lebih keras lagi,” ujar Prabowo.

Presiden juga mengarahkan pembinaan atlet sejak usia sekolah dasar. Ia meminta Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memperhatikan perbaikan sekolah di seluruh Indonesia, termasuk penyediaan fasilitas olahraga. Pemerintah turut mengarahkan setiap kabupaten memiliki sekolah unggulan.

Arahan tersebut membawa perhatian pada fondasi olahraga nasional. Pembinaan sejak usia dini membutuhkan sistem yang mampu mengenali bakat, mengembangkan kemampuan, dan mengantar atlet melalui tahapan latihan yang sesuai. Sekolah dapat menjadi tempat awal pencarian bibit atlet, sedangkan klub, pelatih, pusat latihan, dan kompetisi berjenjang menjadi bagian dari perjalanan menuju prestasi.

Pekerjaan itu perlu menjangkau seluruh wilayah. Anak-anak di daerah memiliki peluang untuk menjadi juara, tetapi bakat mereka membutuhkan dukungan yang sepadan. Lapangan yang layak, peralatan latihan, pelatih berkualitas, pendampingan, serta kesempatan mengikuti kompetisi perlu tersedia. Tanpa fasilitas dan pembinaan yang memadai, potensi seorang anak dapat terhenti sebelum sempat memasuki arena pertandingan.

Dalam olahraga prestasi, bonus memberikan penghargaan atas hasil yang telah dicapai. Sementara itu, pembinaan berkelanjutan menentukan peluang untuk meraih hasil berikutnya. Keduanya memiliki peran berbeda, tetapi saling berkaitan. Atlet membutuhkan penghargaan atas perjuangan mereka, sedangkan generasi penerus membutuhkan ekosistem yang memberi ruang untuk tumbuh.

Para penakluk arena Asia telah membawa pulang medali dan kebanggaan untuk Indonesia. Kini, pekerjaan berikutnya menanti di sekolah-sekolah, lapangan latihan, pusat pembinaan, dan berbagai daerah yang menyimpan bakat olahraga mendapatkan perhatian pemerintah.

Jurnalis: Redho Fitriyadi

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL