KOLAKA, INSERTRAKYAT.com — Enam poin mengantarkan Asdar Mustamin meraih gelar Master Nasional. Di papan yang sama, Kamsil menyelesaikan Kejuaraan Nasional Catur ke-51 dengan 5,5 poin dan gelar Master Percasi. Dua pecatur asal Kolaka, Sulawesi Tenggara, itu membawa pulang capaian berbeda dari Serang, Banten, tetapi menghadapi ujian yang sama: bertahan dalam persaingan panjang melawan pemain dari berbagai daerah.

Kejurnas Catur ke-51 berlangsung pada 23–29 Oktober 2026 di Convention Hall Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin, Serang. Sebanyak 964 pecatur dari 30 provinsi mengikuti kejuaraan tersebut. Jumlah peserta itu menggambarkan luasnya persaingan sekaligus menempatkan atlet daerah dalam arena pengujian kemampuan yang lebih kompetitif.

Asdar meraih enam poin setelah mengalahkan Master Nasional Sarmadoli Siringo Ringo dari Jambi. Kamsil mengumpulkan 5,5 poin dan menutup babak terakhir dengan hasil remis melawan Taufiqu Rahman dari Jawa Timur. Sementara itu, pecatur junior Ismail Aufhar Khafi masuk tujuh besar. Hasil ketiganya menjadi bagian dari catatan atlet Kolaka dalam kompetisi nasional tersebut.

Namun, capaian di Serang bukan cerita yang dimulai dari satu turnamen. Dalam setahun terakhir, aktivitas catur Kolaka bergerak melalui pembenahan organisasi, pertandingan terbuka, dan upaya memperluas jalur pembinaan atlet. Prestasi nasional menjadi hasil yang terlihat; pekerjaan yang lebih panjang berlangsung di tingkat daerah.

Pada 14 Januari 2026, Ivan Darmawan, ST, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Percasi Kolaka periode 2026–2030. Musyawarah Kabupaten Luar Biasa yang berlangsung di Marz Cafe itu diikuti perwakilan 12 pengurus kecamatan dan dua klub catur. Forum tersebut mengangkat tema “Konsolidasi Menuju Prestasi Emas Porprov XV Tahun 2026”.

Ivan merencanakan penguatan kompetisi internal dan pembinaan yang menjangkau sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Sasaran ini penting karena kemampuan seorang pecatur tidak terbentuk hanya melalui pertandingan sesekali. Pemain membutuhkan jam terbang, evaluasi langkah, latihan terstruktur, dan kesempatan menguji strategi menghadapi lawan dengan karakter permainan berbeda.

Kepengurusan Percasi Kolaka periode 2026–2030 kemudian dikukuhkan pada 3 Oktober 2026 di Alun-Alun 19 November, Kolaka. Ketua Percasi Sulawesi Tenggara, Hugua M. Ling, memimpin pengukuhan tersebut. Ivan menyatakan ingin membawa pembinaan atlet senior dan junior menuju prestasi tingkat nasional hingga internasional.

Agenda organisasi itu berjalan bersama Open Turnamen Catur Percasi Kolaka pada 2–4 Oktober. Kompetisi tersebut menarik 240 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Panitia menerapkan Sistem Swiss dengan sembilan babak untuk kategori putra terbuka dan tujuh babak untuk kategori putri. Pertandingan juga mencakup kelompok pelajar SD, SMP, dan SMA.

Jumlah peserta membuat turnamen tersebut menjadi ruang perbandingan kemampuan bagi atlet tuan rumah dan pecatur dari luar daerah. Mereka tidak hanya mengejar posisi juara, tetapi juga memperoleh pengalaman menghadapi lawan yang mungkin belum pernah ditemui dalam kompetisi lokal.

Hasil pertandingan menunjukkan atlet Kolaka mampu bersaing di beberapa kategori. Irma Sari meraih peringkat pertama kategori putri tingkat SMA dengan enam poin. Ismail Aufhar Khafi menempati posisi ketiga pada kategori pelajar SD/SMP. Pada kategori senior putra, Master Nasional Muhammad Ishak Riiandjar dari Ambon meraih juara pertama dengan 8,5 poin. Imran M dari Kabupaten Muna mengumpulkan delapan poin untuk posisi kedua, sedangkan Master Nasional Sutan AB, juga dari Muna, berada di urutan ketiga dengan 7,5 poin.

Ketua Harian Percasi Kolaka, Herman Syahruddin, menyampaikan apresiasi kepada para peserta dan berharap turnamen itu menjadi agenda tahunan. Ia juga menyampaikan rencana penyelenggaraan berikutnya pada Agustus 2027, dengan hadiah yang lebih besar, termasuk satu unit mobil. Rencana tersebut masih menjadi agenda yang perlu dipersiapkan agar kompetisi memiliki kesinambungan.

Dua bulan sebelumnya, Kolaka juga menjadi tempat berlangsungnya Open Turnamen Catur Se-Sulawesi Tenggara pada 22–23 Agustus 2026. Ormas Tamalaki Wonua Kolumba Sultra dan Percasi Kolaka menyelenggarakan pertandingan itu di Top Swalayan. Sebanyak 68 pecatur mengikuti kompetisi, terdiri atas 56 putra dan 12 putri.

Fernandez, atlet dari Percasi Wolo, menempati peringkat pertama setelah mengumpulkan enam poin. Master Nasional Bimbi Badriawan meraih posisi kedua dengan poin yang sama, sedangkan Sukmardin dari Konawe berada di posisi ketiga. Penyelenggara juga menyampaikan harapan agar turnamen dapat berlangsung rutin dan pembinaan menjangkau atlet usia sekolah.

Di Wolo, kegiatan catur mengambil bentuk lain. Pada Agustus 2026, Percasi Wolo menggelar turnamen tingkat kabupaten yang diikuti 34 peserta di Tribun Lapangan Sepak Bola Juang Wolo. Pertandingan itu menjadi bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia dan memberi ruang kompetisi bagi pecatur setempat.

Bimbi Badriawan sendiri lebih dahulu mencatat capaian nasional pada November 2025. Ia meraih gelar Master Nasional dalam Kejurnas Catur ke-50 di Mamuju, Sulawesi Barat, setelah mengumpulkan enam poin dari sembilan babak. Pada kejuaraan nasional sebelumnya, Kolaka juga melahirkan Mawdhuna sebagai pemegang gelar Master Nasional Wanita.

Rangkaian itu menunjukkan bahwa prestasi catur Kolaka tidak bertumpu pada satu nama. Bimbi lebih dahulu meraih gelar MN, kemudian Asdar memperoleh gelar serupa, sementara Kamsil meraih gelar MP. Ismail, yang masih berada pada kelompok junior, menambah catatan dari kategori usia muda. Setiap hasil memiliki tingkat dan konteks berbeda, tetapi semuanya memberi bahan evaluasi untuk pembinaan berikutnya.

Ketua Harian Percasi Sulawesi Tenggara, Muh Usman, berharap hasil Kejurnas menjadi bekal bagi atlet daerah untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Tenggara pada Desember 2026 dan persiapan menuju Pra-PON yang direncanakan berlangsung di Sulawesi Tenggara.

Target itu membutuhkan lebih dari sekadar semangat bertanding. Pengurus perlu menjaga kalender kompetisi, memperluas akses latihan, menyiapkan pelatih, serta memastikan atlet junior memperoleh kesempatan menghadapi lawan yang lebih kuat. Turnamen daerah dapat menjadi titik awal; kompetisi nasional menguji seberapa jauh pembinaan tersebut berkembang.

Catur mengajarkan bahwa satu langkah yang tampak kecil dapat mengubah arah pertandingan. Dalam olahraga daerah, kemajuan juga terbentuk dari rangkaian keputusan yang saling berhubungan: memilih pengurus, menggelar kompetisi, menemukan pemain muda, mengevaluasi hasil, lalu kembali berlatih.

Gelar Asdar dan Kamsil memberi Kolaka dua capaian baru di panggung nasional. Posisi Ismail di kelompok junior menghadirkan alasan untuk melanjutkan regenerasi. Tantangan Percasi Kolaka kini bukan hanya melahirkan juara, melainkan membangun sistem yang membuat prestasi bisa tumbuh, berulang, dan bertahan melampaui satu kejuaraan.

Penulis: Ibnu Hajar/Ibhar 

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL