JAKARTA, INSERTRAKYAT.com –Pembangunan nasional membutuhkan keselarasan kebijakan pusat dan daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka, tetapi menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sinkronisasi menjadi kunci untuk menerjemahkan agenda Indonesia Emas 2045 ke dalam program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto mengangkat persoalan tersebut dalam acara 2 Tahun Prabowo-Gibran: Rapor untuk Rakyat di Universitas Tarumanagara, Jakarta, Selasa (27/10/2026). Ia menilai pemerintah perlu menyatukan arah kebijakan dan langkah pembangunan agar setiap daerah bergerak menuju sasaran nasional yang sama.

“Nomor utama yang paling penting adalah bagaimana kita harus bergerak bersama membangun narasi dan orkestrasi menuju 2045,” ujar Bima.

Kementerian Dalam Negeri mengoordinasikan pemerintah daerah melalui pembinaan, retret kepala daerah, dan koordinasi berkelanjutan. Langkah tersebut bertujuan menyelaraskan prioritas nasional dengan pelaksanaan program di daerah.

Namun, keselarasan kebijakan perlu berjalan bersama penguatan ekonomi berbasis potensi wilayah. Setiap daerah memiliki karakteristik dan sektor unggulan yang berbeda, mulai dari pangan, perdagangan, hingga jasa. Pemerintah daerah perlu menghubungkan kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi agar potensi tersebut menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

Bima mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup mengandalkan belanja pemerintah. Aktivitas produksi, konsumsi, dan keterhubungan antarpelaku ekonomi juga menentukan kemampuan suatu wilayah menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Pertumbuhan ekonomi adalah produksi. Pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi. Pertumbuhan ekonomi adalah membawa ekosistem,” tegasnya.

Stabilitas harga juga menjadi bagian penting dari agenda pembangunan. Kemendagri mengoordinasikan pengendalian inflasi bersama pemerintah daerah untuk mengidentifikasi hambatan produksi dan distribusi barang kebutuhan masyarakat. Kelancaran pasokan berperan menjaga daya beli sekaligus mendukung kegiatan ekonomi daerah.

Sinkronisasi turut menentukan efektivitas program prioritas Presiden. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, memerlukan pasokan pangan yang memadai. Sementara itu, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih perlu menyesuaikan pengembangan usaha dengan kebutuhan masyarakat dan sumber daya setempat agar manfaat ekonominya dapat dirasakan pelaku usaha lokal.

Di sektor pelayanan publik, integrasi data kependudukan lintas kementerian dan lembaga menjadi salah satu agenda transformasi digital. Pengembangan identitas kependudukan tunggal diharapkan mempermudah masyarakat mengakses layanan kesehatan, bantuan sosial, dan pendidikan.

Bima juga mendorong pemerintah daerah mempelajari inovasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing. Ia mencontohkan penerapan split bill di Kota Medan untuk mengoptimalkan pemungutan pajak daerah serta pengolahan sampah menjadi energi di sejumlah kota.

“Kota-kota di Indonesia harus terus bergerak menuju kota masa depan, saling menginspirasi, dan saling berbagi dengan semangat efisiensi untuk menuju Indonesia Emas 2045,” tandasnya.

Penulis: Syamsul Bahri

Editor: Tim Redaksi

BERITA TERKINI EDITORIAL