INSERTRAKYAT.COM – Dalam competitive landscape olahraga modern, prestasi tidak selalu berawal dari arena megah atau pusat kekuatan olahraga nasional. Kadang, sebuah gagasan tumbuh dari kepengurusan daerah, menemukan mitra strategis, membangun jejaring kompetisi, lalu membuka pintu menuju panggung internasional.
Papan catur menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan bagaimana kecermatan berpikir bertemu dengan kapasitas organisasi. Enam puluh empat petak, 32 buah catur, dan jutaan kemungkinan langkah menghadirkan disiplin kompetisi yang menuntut kalkulasi, antisipasi, konsentrasi, serta ketahanan mental.
Di tengah lanskap itulah Sekretaris Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) Sulawesi Tenggara, Drs. Basiran, M.Si., memberikan apresiasi kepada Ketua PERCASI Kabupaten Muna, Jalaluddin Madjinuhu. Ia menilai inisiatif Jalaluddin menggagas dan memfasilitasi Bali Chess International Kapal Api FIDE Rated 2026 membawa kebanggaan tersendiri bagi olahraga Sulawesi Tenggara.
Turnamen yang berlangsung pada 31 Oktober–5 November 2026 di Bali itu diikuti sekitar 150 pecatur dari delapan negara. Kompetisi ini menghadirkan international competitive exposure, yakni kesempatan bagi pecatur untuk menguji kapasitas permainan dalam lingkungan pertandingan lintas negara.
“Kami dari Pengurus PERCASI Provinsi Sulawesi Tenggara menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya turnamen internasional ini. Terlebih lagi, salah satu penggagas dan fasilitator kegiatan tersebut adalah putra Sulawesi Tenggara, yakni Ketua PERCASI Kabupaten Muna, Bapak Jalaluddin Madjinuhu, yang juga merupakan pengurus PB PERCASI,” ujar Basiran.
Apresiasi tersebut menyentuh dimensi sporting leadership. Kepemimpinan olahraga tidak hanya diukur melalui struktur kepengurusan, tetapi juga kemampuan menginisiasi program, mengonsolidasikan sumber daya, membangun kemitraan, dan menciptakan kompetisi yang memiliki jangkauan lebih luas.
Jalaluddin memperlihatkan bahwa organisasi olahraga tingkat kabupaten dapat mengambil bagian dalam international sporting network. Daerah tidak harus menunggu menjadi pusat kompetisi untuk melahirkan agenda bertaraf dunia. Dengan kapasitas organisasi dan jejaring yang tepat, daerah dapat ikut membentuk kalender pertandingan internasional.
“Ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat catur Sulawesi Tenggara. Seorang Ketua PERCASI Kabupaten ternyata mampu menggagas dan memfasilitasi kegiatan berskala internasional. Artinya, keterbatasan wilayah administratif bukanlah penghalang untuk melahirkan gagasan besar dan membangun prestasi olahraga,” jelasnya.
Dari perspektif athlete development, turnamen FIDE Rated memiliki fungsi lebih luas daripada perebutan gelar juara. Setiap babak menyediakan ruang pengujian kemampuan teknis dan strategis. Pecatur harus membaca struktur posisi, mengembangkan perwira, menghitung variasi, mengelola waktu, serta menjaga stabilitas psikologis ketika menghadapi tekanan pertandingan.
Di sini, Elo Rating berperan sebagai instrumen pengukuran kekuatan relatif pecatur dalam sistem pemeringkatan FIDE. Hasil pertandingan dapat menjadi bagian dari proses evaluasi performa, pemetaan kemampuan, dan pengembangan kapasitas kompetitif atlet.
Basiran juga melihat nilai strategis konsep Sport Tourism yang mewarnai penyelenggaraan turnamen tersebut. Kompetisi olahraga bertemu dengan industri perjalanan, perhotelan, ekonomi kreatif, dan promosi destinasi. Bali menyediakan panggung yang mempertemukan sporting event dengan daya tarik pariwisata internasional.
Namun, dimensi olahraga catur tidak berhenti pada angka rating dan klasemen. Permainan ini membangun cognitive performance, melatih kemampuan analitis, pengendalian emosi, disiplin berpikir, pengambilan keputusan, serta sportivitas.
“Olahraga catur memiliki keunggulan tersendiri karena selain membangun prestasi, juga melatih kecerdasan, kesabaran, kedisiplinan, kemampuan mengambil keputusan, dan sportivitas. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam pembentukan karakter generasi muda,” tambahnya.
Basiran berharap inisiatif tersebut menjadi pemantik bagi seluruh pengurus PERCASI kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara untuk memperkuat grassroots development. Pembinaan perlu bergerak dari klub, sekolah, komunitas, hingga kompetisi berjenjang yang menyediakan jalur perkembangan atlet.
Penguatan kualitas pelatih, wasit, penyelenggara, serta tata kelola organisasi juga menjadi bagian penting dalam membangun sporting ecosystem yang sehat. Tanpa kesinambungan pembinaan dan kompetisi, potensi atlet sulit berkembang menjadi prestasi yang konsisten.
Pandangan Basiran kemudian mengarah ke masa depan Sulawesi Tenggara. Ia berharap daerah ini memperoleh kesempatan menjadi tuan rumah kejuaraan catur nasional hingga internasional. Potensi atlet, sumber daya manusia, dan destinasi wisata dapat menjadi modal untuk membangun event portfolio olahraga daerah.
“Kita berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti di Bali. Suatu saat Sulawesi Tenggara juga dapat menjadi tuan rumah turnamen catur internasional. Kita memiliki potensi atlet, sumber daya manusia, dan destinasi wisata yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara PERCASI, pemerintah daerah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Basiran menyampaikan selamat kepada Jalaluddin Madjinuhu, seluruh panitia, PB PERCASI, sponsor, dan pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan turnamen tersebut.
“Selamat dan sukses kepada Bapak Jalaluddin Madjinuhu beserta seluruh jajaran panitia. Semoga kegiatan ini menjadi momentum untuk semakin memajukan olahraga catur Indonesia dan mengharumkan nama Sulawesi Tenggara di pentas nasional maupun internasional.”
Dalam tradisi federasi catur dunia, Gens Una Sumus berarti kita semua satu keluarga. Semboyan FIDE ini menempatkan persaudaraan sebagai nilai yang berjalan berdampingan dengan kompetisi. Lawan boleh berbeda bendera, strategi boleh saling berhadapan, tetapi penghormatan terhadap sesama pecatur tetap menjadi bagian dari etika olahraga.
Inisiatif Jalaluddin memberikan satu referensi penting bagi perjalanan olahraga Sulawesi Tenggara: sporting ambition tidak mengenal batas administratif. Dari Muna, gagasan itu bergerak ke Bali, memasuki arena internasional, dan membuka cakrawala baru bagi pengembangan catur daerah.
Tantangan sesungguhnya kini berada pada kesinambungan. Bagaimana momentum penyelenggaraan berkembang menjadi tradisi kompetisi, bagaimana pengalaman internasional memperkuat pembinaan atlet, dan bagaimana Sulawesi Tenggara kelak memiliki tempat dalam peta kejuaraan catur dunia.
Sebab, dalam olahraga prestasi, sebuah turnamen dapat berakhir ketika babak terakhir selesai. Namun, nilai strategisnya baru benar-benar tumbuh ketika pengalaman pertandingan berubah menjadi pengetahuan, jejaring menjadi kolaborasi, dan gagasan menjadi fondasi prestasi berikutnya.
Jurnalis: Ibhar
Editor: Supriadi Buraerah



























































