JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM,– Pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencatat progres 96–98 persen untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dianggarkan pada Tahun Anggaran 2026. Kamis (29/10).Namun, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) masih menghadapi tantangan berupa banjir susulan dan sedimentasi sungai yang menghambat pemulihan di sejumlah wilayah.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono mengapresiasi kerja Satgas PRR setelah sekitar 11 bulan proses pemulihan berjalan. Ia menyampaikan apresiasi tersebut saat mengunjungi Posko Nasional Satgas PRR Pascabencana Sumatera di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta baru – baru ini.

Dalam kunjungan itu, Sugiono selaku Ketua Tim Pengarah Satgas PRR menerima laporan perkembangan pemulihan dari Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, yang memimpin Satgas PRR. Laporan tersebut mencakup capaian kegiatan, kendala di lapangan, serta langkah yang masih perlu dipercepat.

Sugiono menilai pemerintah telah bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak melalui penerbitan regulasi, dukungan anggaran, serta pemulihan fasilitas dan layanan dasar di tiga provinsi tersebut.

“Dan saya kira ini merupakan suatu kerja keras yang luar biasa yang patut diapresiasi di tengah berbagai keadaan, kita pemerintah yang dipimpin oleh Bapak Presiden [Prabowo Subianto] masih bisa menyelesaikan tanggung jawabnya dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat mengatasi masalah-masalah yang ada di daerah bencana,” ujar Sugiono.

Meski progres kegiatan yang telah memperoleh anggaran pada 2026 mencapai 96–98 persen, pemulihan secara keseluruhan masih berlangsung. Sejumlah pekerjaan perlu diselesaikan secara bertahap sesuai rencana rehabilitasi dan rekonstruksi.

Sugiono meminta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan unsur terkait terus berjalan agar pekerjaan yang tersisa dapat segera dituntaskan. Ia juga mengingatkan pentingnya memasukkan mitigasi bencana ke dalam perencanaan pemulihan.

Menurut Sugiono, perubahan iklim dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia. Wilayah di utara khatulistiwa diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan, sedangkan wilayah di selatan khatulistiwa cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal dalam beberapa dekade mendatang.

“Oleh karena itu, upaya-upaya mitigasi juga harus kita masukkan dalam perhitungan kita sehingga jika terjadi bencana kita lebih siap dan upaya-upaya penanggulangan maupun rehabilitasi bisa kita lakukan dengan secepat-cepatnya,” kata Sugiono.

Sementara itu, Tito melaporkan bahwa bencana susulan masih mengganggu proses pemulihan. Curah hujan tinggi memicu banjir kembali di sejumlah wilayah, antara lain Padang dan Solok di Sumatera Barat, Tapanuli Tengah di Sumatera Utara, serta beberapa daerah di Aceh.

Tito menjelaskan, sedimentasi di sungai-sungai terdampak meningkatkan risiko luapan saat hujan deras. Akibatnya, sejumlah infrastruktur yang telah diperbaiki kembali terdampak banjir. Penanganan sungai karena itu menjadi salah satu kebutuhan mendesak untuk mengurangi risiko kerusakan berulang.

Satgas PRR mencatat 137 sungai terdampak sedimentasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat perlu mendapat penanganan. Tito meminta dukungan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mempercepat pembersihan dan penanganan sungai tersebut.

Percepatan penanganan sungai diharapkan dapat menekan risiko banjir susulan sekaligus membantu menjaga keberlanjutan rehabilitasi dan rekonstruksi. Dengan demikian, pemulihan tidak hanya berfokus pada perbaikan kerusakan yang sudah terjadi, tetapi juga memperhitungkan ancaman yang dapat kembali mengganggu kehidupan masyarakat.

Jurnalis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL