JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM– Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat menjadi modal utama kepala daerah dalam menjalankan pemerintahan. Keberhasilan kepemimpinan tidak cukup diukur dari capaian program dan prestasi administratif, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

Bima menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan pada Forum Diseminasi Studi Pembelajaran Penjabat Kepala Daerah dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pada Pilkada Serentak dalam Isu Layanan Dasar di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Menurut Bima, kepercayaan masyarakat tidak tumbuh hanya dari besarnya anggaran, kecakapan politik, atau pencapaian administratif. Kepercayaan terbentuk melalui konsistensi antara kebijakan pemerintah, kinerja birokrasi, dan pengalaman masyarakat saat menerima pelayanan.

“Satu hal yang tidak ada di APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah), satu hal yang tidak pernah ditulis di RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah), yaitu kepercayaan atau trust. Ini adalah modal utama,” jelasnya.

Kepercayaan tersebut juga menentukan keberhasilan penjabat (Pj.) kepala daerah. Bima menyoroti sejumlah tantangan yang mereka hadapi, mulai dari persoalan legitimasi politik dan ketidakpastian masa jabatan hingga tuntutan beradaptasi dengan dinamika politik dan sosial di daerah.

Namun, Pj. kepala daerah juga memiliki sejumlah keunggulan. Mereka relatif memiliki ruang pengambilan keputusan yang lebih independen serta pengalaman birokrasi dan jejaring pemerintahan di tingkat nasional.

“Tidak punya mindset memperjuangkan kepentingan-kepentingan tertentu kecuali soal kinerja birokrasi,” ujarnya.

Bima menilai peluang dan tantangan Pj. kepala daerah tidak jauh berbeda dengan kepala daerah definitif. Kualitas kepemimpinan masing-masing individu menjadi faktor penting dalam menentukan cara mereka menghadapi situasi tersebut.

“Karena plus minusnya sama [dengan kepala daerah definitif], peluang dan tantangannya sama. At the end of the day, it’s all about personal leadership,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan yang efektif harus berangkat dari kemauan melayani masyarakat. Prinsip tersebut perlu diterapkan melalui pelayanan publik yang memudahkan urusan warga, bukan hanya memastikan pemerintah hadir secara administratif.

Bima berharap studi pembelajaran tentang Pj. kepala daerah yang telah dibukukan dapat menjadi referensi untuk memperkuat kepemimpinan pemerintahan daerah. Pengalaman para penjabat kepala daerah itu diharapkan memberi bahan refleksi bagi para pemimpin dalam memahami tanggung jawab dan makna kepemimpinan.

“Ini akan menjadi sosok-sosok yang memberikan kontemplasi, memberikan sosok-sosok tidak saja menginspirasi, tapi membuat kita merenung tentang arti kepemimpinan,” tandasnya.

Forum tersebut turut dihadiri Counsellor Governance and Human Development DFAT Kedutaan Besar Australia Joanna O’Shea, Team Leader Program SKALA Petra Karetji, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Akmal Malik, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Safrizal ZA, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.

 

Jurnalis : Muhammad Subhan

Editor: Supriadi Buraerah

BERITA TERKINI EDITORIAL