Kajian lain dari Júlia Ferreira Rezende dan Nadia Shigaeff, peneliti yang berafiliasi dengan Universidade Federal de Juiz de Fora, Brasil, menelaah 16 publikasi empiris mengenai fiksi dan kognisi sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa cerita dapat membantu pembaca memahami niat, tindakan, dan hubungan antarmanusia. Pengaruhnya bergantung pada karakter pembaca, bentuk bacaan, serta kegiatan pendamping seperti diskusi.

Artinya, membaca cerita tidak serta-merta membuat seseorang lebih bijaksana. Namun, narasi memberi kesempatan untuk berlatih memahami kehidupan dari pengalaman yang berbeda. Pembaca dapat mengenali kecemasan tokoh, menimbang keputusan yang rumit, atau mengikuti akibat dari sebuah tindakan tanpa harus mengalami seluruh peristiwa itu secara langsung.

Kemampuan tersebut dekat dengan istilah perspective-taking, yakni kecakapan memahami keadaan melalui sudut pandang orang lain. Dalam kehidupan sosial, kemampuan ini membantu seseorang menahan penilaian yang tergesa-gesa, membaca konteks, dan mempertimbangkan alasan di balik tindakan orang lain. Buku tidak menggantikan pengalaman hidup, tetapi dapat memperluas bekal seseorang sebelum berhadapan dengan pengalaman tersebut.

Perjalanan membaca bahkan memiliki jalur yang tidak selalu melewati mata. Sebagian orang mengakses pengetahuan melalui suara, sebagian menggunakan teknologi pembaca layar, dan sebagian meraba huruf Braille. Cara berbeda itu tidak mengurangi nilai pengetahuan yang mereka peroleh.

Huruf Braille merupakan sistem tulisan sentuh yang memungkinkan penyandang disabilitas netra membaca dan menulis melalui pola titik-titik timbul. Sistem ini lahir dari pemikiran seorang pemuda Prancis bernama Louis Braille, yang kehilangan penglihatan setelah mengalami kecelakaan di bengkel kerja ayahnya. Kecelakaan itu terjadi saat ia berusia tiga tahun. Pada usia lima tahun, ia telah kehilangan penglihatan sepenuhnya.

Kisah penemuan Braille memiliki hubungan menarik dengan dunia militer. Sebelum Louis mengembangkan sistemnya, seorang perwira artileri Prancis bernama Charles Barbier menciptakan metode komunikasi yang dikenal sebagai night writing atau tulisan malam. Sistem tersebut memungkinkan tentara membaca pesan dalam gelap tanpa menyalakan lampu yang dapat mengungkap posisi mereka kepada musuh.

Louis mengenal sistem titik timbul karya Barbier saat belajar di lembaga pendidikan bagi tunanetra di Paris. Ia melihat peluang untuk mengembangkan metode tersebut agar lebih sederhana dan mudah dibaca melalui sentuhan. Pada usia 15 tahun, tepatnya sekitar 1824, Louis berhasil merancang sistem enam titik yang menjadi dasar huruf Braille modern.

Susunan enam titik itu menghasilkan 64 kemungkinan kombinasi. Setiap pola dapat mewakili huruf, angka, tanda baca, dan berbagai simbol. Inovasi seorang remaja yang dahulu kehilangan penglihatan tersebut kemudian membuka akses membaca dan menulis bagi jutaan penyandang disabilitas netra di berbagai negara.

Tidak semua orang terlahir dengan penglihatan yang sama. Ada yang mengalami kebutaan sejak lahir, ada pula yang kehilangan kemampuan melihat setelah menjalani sebagian perjalanan hidup. Mereka tidak memilih keadaan tersebut. Namun, keterbatasan penglihatan tidak menghapus rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, atau hak untuk memperoleh pendidikan.

BERITA TERKINI EDITORIAL