Keadaan itu memberi cermin tentang cara manusia menggunakan kemampuan yang dimilikinya. Keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup kesempatan belajar. Sebaliknya, kelebihan juga tidak patut menjadi alasan untuk berhenti mengembangkan diri. Setiap orang memiliki ruang untuk bertumbuh, selama akses, kemauan, dan kesempatan memperoleh dukungan yang layak.

Maka, akhir pekan dapat menjadi waktu yang baik untuk menanam kebiasaan kecil: membaca beberapa halaman, menyimak buku audio, mempelajari istilah baru, atau mendiskusikan satu gagasan bersama keluarga. Kebiasaan sederhana itu dapat berkembang menjadi kecakapan memahami informasi, berbahasa, mengambil keputusan, dan menghargai pengalaman orang lain.

Panen pengetahuan tidak ditentukan oleh berapa banyak buku yang tersusun di rak. Ukurannya tampak pada cara seseorang memahami persoalan, menggunakan bahasa, memperlakukan sesama, serta mengambil keputusan setelah memperoleh informasi. Ada yang membaca dengan mata, ada yang meraba dengan jari, dan ada yang menyimak melalui suara. Jalurnya beragam, tetapi kesempatan untuk belajar semestinya terbuka bagi semua.

Satu halaman dapat menjadi awal perjalanan. Satu istilah dapat membuka pemahaman. Satu cerita dapat memperluas empati. Dan satu kebiasaan membaca, apabila dirawat, dapat mengubah cara seseorang melihat dunia, dan bahkan bagi mereka yang tidak melihat dunia melalui biji mata.

Manakala berbicara mengenai literasi, acap kali angka terlihat berkilau di atas tabel,  membentuk estetika yang sedemikian rumit untuk dinalar secara sekilas. Sebab, satu nilai naik, nilai lain turun, lalu sebuah daerah mendapat predikat tertentu. Apa pernah ada pertanyaan, di balik angka survei, apa sebenarnya yang sedang diukur, siapa yang menjadi responden, dan kondisi apa yang hendak digambarkan?

Indonesia memiliki sejumlah indikator yang berkaitan dengan literasi. Perpustakaan Nasional mengukur Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), sedangkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) menggambarkan kebiasaan masyarakat dalam memperoleh pengetahuan dan informasi melalui berbagai media.

Kedua indikator itu tidak mengukur hal yang sama. IPLM menggambarkan upaya pemerintah daerah dalam membina dan mengembangkan perpustakaan sebagai sarana belajar sepanjang hayat. TGM mengukur perilaku membaca masyarakat melalui survei.

Perpusnas melaporkan TGM nasional 2024 mencapai 72,44. Survei tersebut melibatkan 174.226 responden berusia 10–69 tahun di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Angka itu memberikan gambaran mengenai kegemaran membaca berdasarkan instrumen survei yang digunakan.

BERITA TERKINI EDITORIAL