Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh. Angka itu mengingatkan bahwa akses terhadap informasi dan sarana bantu bukan persoalan kecil. Buku yang mudah dijangkau pembaca awas belum tentu dapat digunakan oleh pembaca dengan disabilitas netra.

Di Indonesia, Kementerian Agama menyusun Iqro’na, panduan praktis membaca Al-Qur’an Braille yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas sensorik netra Muslim. Penyusunannya melibatkan ahli, praktisi, serta komunitas tunanetra dari sejumlah daerah. Materinya disusun bertahap, mulai dari pengenalan huruf hingga kaidah bacaan Al-Qur’an.

Mushaf Braille memungkinkan pembaca mengenali huruf hijaiyah dan tanda baca melalui ujung jari. Titik-titik timbul itu membentuk sistem tulisan yang dapat dipelajari, dibaca, dan dilatih. Jari menjadi jalur pengenalan huruf; pendengaran dapat membantu pembelajaran; ingatan dan pemahaman bekerja bersama dalam proses membaca.

Kajian Ahmad Jaeri yang diterbitkan dalam jurnal Ṣuḥuf mengenai penerapan Braille pada Mushaf Standar Braille Indonesia juga membahas penyesuaian sistem tulisan tersebut untuk kebutuhan membaca Al-Qur’an. Upaya itu menunjukkan bahwa akses keagamaan memerlukan perangkat yang sesuai dengan kebutuhannya.

pengetahuan bertemu dengan sisi kemanusiaan yang lebih luas. Tuhan memiliki kuasa atas ciptaan-Nya. Manusia hadir dengan keadaan fisik, kemampuan, dan pengalaman yang beragam. Ada orang yang membaca melalui mata, ada yang melalui ujung jari, ada pula yang mengandalkan pendengaran. Perbedaan jalur itu tidak menjadikan martabat seseorang lebih rendah atau lebih tinggi.

Manusia diberi akal untuk belajar, hati untuk merasakan, dan kemampuan untuk mengembangkan diri. Kesempurnaan penciptaan tidak layak diukur hanya dari kelengkapan fungsi tubuh. Seseorang mungkin memiliki keterbatasan pada satu kemampuan, tetapi mengembangkan kecakapan lain melalui latihan, pendidikan, lingkungan yang mendukung, dan ketekunan.

Karena itu, aksesibilitas menjadi bagian penting dari budaya literasi. Buku Braille, buku audio, teks digital yang kompatibel dengan pembaca layar, perpustakaan inklusif, serta pendampingan yang tepat dapat membuka jalan menuju pengetahuan. Teknologi bantu bukan kemurahan hati yang diberikan sesekali, melainkan sarana agar setiap orang dapat belajar dan mengambil keputusan secara mandiri.

BERITA TERKINI EDITORIAL