Oleh Wyaz Ibn Sinentang
HUJAN pertama menyambut Windu ketika kereta ekonomi yang ditumpanginya memasuki Jakarta. Kota itu tampak seperti lautan lampu tanpa ujung. Gedung-gedung tinggi berdiri dingin di balik kaca basah. Orang-orang berjalan cepat seolah hidup mereka selalu terlambat.
Windu memandang keluar jendela sambil menggenggam naskah novel lusuh di tasnya. Di kampung, istrinya yang lumpuh masih menunggu. Namanya Laras.
Tiga tahun lalu kecelakaan telah merenggut kemampuan perempuan itu untuk berjalan. Sejak saat itu hidup mereka berubah menjadi kumpulan utang dan doa yang mulai kehilangan arah.
Windu sebenarnya bisa tetap tinggal di kota kecil mereka. Menjadi guru les atau penjaga toko seperti kebanyakan lelaki lain. Tapi ia terlalu keras kepala untuk menyerah pada mimpi.
Ia ingin novelnya hidup. Difilmkan. Dikenal orang. Dan lebih dari itu, ia ingin membawa pulang uang cukup untuk mengobati Laras.
Maka ketika Jody, sahabat masa SD yang kini menjadi sutradara sinetron, menawarinya pekerjaan di rumah produksi kecil di Jakarta, Windu langsung berangkat tanpa pikir panjang.
“Jakarta nggak sesederhana cerita novelmu,” kata Jody sambil menyetir mobil tuanya melewati jalanan Kemang yang macet.
“Aku juga nggak sesederhana itu.”
Jody tertawa.
“Masih sok bijak ternyata.”
Mereka sedang menuju rumah milik seorang pengusaha bernama Handoko. Rumah mewah itu akan dijadikan lokasi syuting sinetron terbaru produksi Jody.
“Rumahnya bagus banget,” gumam Windu saat gerbang besar terbuka perlahan.
Bangunan putih tiga lantai berdiri megah di tengah taman luas yang dipenuhi pohon kamboja. Entah kenapa Windu langsung merasakan sesuatu yang aneh. Rumah itu terlalu sunyi. Seperti ada kesedihan panjang yang tinggal di dalamnya.
Baru beberapa langkah masuk ke ruang utama, tiba-tiba seseorang berlari dari arah tangga.
“Mas Raka!” Seorang wanita muda langsung memeluk Windu erat. Windu kaget setengah mati.
Perempuan itu memakai piyama merah muda bergambar kelinci. Rambutnya dikepang dua dengan pita warna-warni seperti mahasiswa ospek. Bedak dan gincunya terlalu tebal hingga wajah cantiknya terlihat aneh.
“Mas Raka jangan pergi lagi…” bisiknya sambil menangis.
Jody justru tertawa keras.
“Waduh… kena sambut.” Windu mencoba melepaskan pelukan perempuan itu perlahan.
“Maaf… saya bukan Raka.”
Perempuan itu mendongak. Matanya kosong.
Lalu tiba-tiba ia menjerit keras.
“Bohong!”
Suara benda pecah menggema di seluruh ruangan.
Beberapa pembantu rumah langsung berlari menghampiri.
“Non Vina… Non… tenang…”
Windu terpaku.
Untuk pertama kalinya ia melihat kesedihan berubah menjadi kegilaan di depan mata.
Malamnya, Jody baru menjelaskan semuanya.
“Harusnya tadi gue kasih tahu dulu,” katanya sambil merokok di balkon rumah produksi.
“Kasih tahu apa?”
“Vina itu depresi berat.”
Jody bercerita bahwa Vina adalah putri tunggal Handoko. Dulu ia gadis normal, pintar, dan sangat cantik. Sampai seorang pria bernama Raka datang ke hidupnya. Raka bukan hanya kekasih. Ia tunangan Vina.
Namun beberapa minggu sebelum pernikahan, lelaki itu menghilang membawa uang perusahaan Handoko miliaran rupiah. Vina hancur. Lebih parah lagi, beberapa bulan kemudian Raka ditemukan tewas mengenaskan di sebuah hotel.
Sejak saat itu kondisi mental Vina memburuk. Kadang ia normal. Kadang seperti anak kecil. Kadang mengamuk sambil memanggil nama Raka.
“Anehnya…” ujar Jody pelan, “muka lo mirip banget sama Raka.”
Windu diam. Entah kenapa dadanya terasa sesak.
“Ada satu hal lagi,” lanjut Jody. “Pak Handoko mau bantu pendanaan rumah produksi gue kalau Vina membaik.”
Windu langsung menoleh tajam.
“Jadi kamu sengaja ngajak aku?”
Jody tertawa hambar.
“Ya… mungkin.”
Windu kesal. Namun bayangan Laras di rumah sakit membuat emosinya runtuh perlahan. Ia butuh uang. Sangat butuh.
Hari-hari berikutnya Windu mulai sering datang ke rumah Handoko. Awalnya hanya untuk observasi lokasi syuting. Tapi lama-lama ia benar-benar memperhatikan Vina. Perempuan itu sebenarnya sangat cantik. Kulit putih bersih. Tubuh tinggi semampai. Namun, semua tertutup oleh dandanan menor dan tingkah anehnya. Kadang Vina tertawa sendiri di taman. Kadang duduk memeluk boneka sambil menyanyi lagu anak-anak. Kadang menangis semalaman memanggil nama Raka. Yang paling aneh, Vina selalu tenang jika dekat Windu.
“Dia merasa kamu Raka,” ujar Reyna suatu sore.
Reyna adalah psikiater keluarga Handoko.
Perempuan berusia tiga puluhan itu memiliki kecantikan dingin yang membuat orang sulit mengalihkan pandangan. Windu beberapa kali memergoki Reyna memperhatikannya terlalu lama.
“Apa itu normal?” tanya Windu.
“Trauma berat bisa membuat seseorang melekat pada sosok yang mirip kenangannya.”
“Kasihan ya.”
Reyna tersenyum tipis.
“Kadang orang paling sakit justru yang paling ingin dicintai.”
Entah kenapa kalimat itu terasa seperti berbicara tentang dirinya sendiri.
Hubungan Windu dan Vina perlahan berubah aneh. Vina mulai menunggu kedatangannya setiap hari. Bahkan hanya Windu yang bisa membuatnya makan dengan tenang. Suatu malam saat hujan deras, Windu menemukan Vina duduk sendirian di ruang piano. Wajahnya polos tanpa makeup menor. Cantik sekali.
“Mas Raka…” bisiknya pelan.
“Aku Windu.”
Vina tersenyum kecil.
“Kalau begitu jangan tinggalin aku juga.”
Kalimat itu menusuk aneh di dada Windu. Karena ia tahu rasanya ditinggalkan harapan. Sementara itu, Reyna mulai semakin dekat dengan Windu. Mereka sering berbicara hingga malam di balkon rumah Handoko. Tentang hidup. Tentang kesepian. Tentang pernikahan Reyna yang hancur karena ia dianggap mandul.
“Aku capek dianggap perempuan gagal,” katanya sambil menatap hujan.
Windu diam mendengarkan.
Dan mungkin itu kesalahan awalnya. Karena perempuan yang terlalu lama kesepian mudah jatuh pada lelaki yang mau mendengar. Suatu malam Reyna tiba-tiba memeluk Windu.
“Aku pengen punya alasan untuk hidup lagi.”
Windu perlahan melepaskan pelukan itu.
“Aku masih punya istri.”
“Tapi dia lumpuh.”
Kalimat itu membuat Windu marah.
“Jangan rendahkan dia.”
Reyna terdiam.
Namun sejak malam itu, sesuatu berubah di mata perempuan itu. Obsesi.
Di tengah kekacauan hubungan mereka, kejadian-kejadian aneh mulai muncul di rumah Handoko. Lampu sering mati sendiri. Vina tiba-tiba menjerit tengah malam. Beberapa kru syuting melihat bayangan perempuan hitam di lorong rumah. Bahkan seorang kameramen jatuh pingsan sambil muntah darah.
“Ini bukan gangguan biasa,” bisik Windu.
Ia teringat ilmu-ilmu lama dari tanah kelahirannya di Kalimantan. Dulu neneknya sering mengajarinya tentang tanda-tanda kiriman mistis. Dan tanda itu semuanya ada di rumah ini. Kecurigaannya mengarah pada satu orang. Rosa. Asisten Jody yang selalu bersikeras memakai rumah Handoko sebagai setting utama syuting. Rosa terlihat biasa saja. Pendiam. Sering memakai hoodie hitam. Namun, Windu beberapa kali memergokinya masuk ke gudang belakang tengah malam.
Suatu malam Windu mengikutinya diam-diam. Di belakang rumah, Rosa sedang membakar foto Vina sambil membaca sesuatu dalam bahasa asing. Angin mendadak dingin. Tanah berbau busuk.
“Berhenti.”
Rosa kaget. Matanya merah.
“Aku cuma mau dia merasakan penderitaan yang sama!”
Windu langsung sadar.
“Kamu yang ngirim guna-guna?”
Rosa tertawa pahit.
“Bapaknya pembunuh.”
Ternyata bertahun-tahun lalu ayah Rosa bangkrut setelah bisnisnya dihancurkan Handoko. Lelaki itu bunuh diri. Rosa tumbuh dengan dendam. Dan ia yakin kegilaan Vina adalah balasan paling pantas.
“Tapi Vina nggak salah apa-apa,” ujar Windu.
“Semua keluarga itu salah!”
Tiba-tiba angin berembus keras. Lampu taman mati bersamaan.
Dan dari arah belakang rumah terdengar jeritan Vina.
Malam itu menjadi awal teror sesungguhnya. Vina mengamuk hebat. Ia menjerit sambil membenturkan kepalanya ke dinding.
“Raka datang… Raka datang…”
Ketika Windu memegang tubuhnya, Vina mendadak menatap lurus ke matanya.
“Dia belum mati.”
Darah Windu terasa dingin.
“Apa?”
“Raka belum mati…”
Keesokan harinya Windu mulai menyelidiki kematian Raka. Dan apa yang ia temukan membuat semuanya berubah. Pria yang ditemukan tewas di hotel ternyata bukan Raka. Mayat itu sengaja dibakar agar identitasnya sulit dikenali. Raka masih hidup. Dan lebih mengejutkan lagi, Raka ternyata bekerja sama dengan Rosa selama ini. Mereka ingin menghancurkan Handoko dari dalam. Raka memanfaatkan cinta Vina untuk mencuri uang perusahaan. Sementara Rosa menghancurkan mental Vina lewat kiriman mistis. Semua demi balas dendam bisnis lama keluarga mereka. Namun sesuatu berjalan di luar rencana. Vina benar-benar jadi gila. Dan Rosa diam-diam mulai menyesali semuanya setelah mengenal Windu.
“Aku nggak pernah niat sejauh ini…” katanya sambil menangis suatu malam.
“Terus kenapa lanjut?”
“Karena dendam lebih gampang dipelihara daripada kehilangan.”
Windu menatap perempuan itu lama. Ia iba. Namun juga marah. Karena terlalu banyak hidup yang rusak akibat permainan mereka.
Puncaknya terjadi saat syuting episode terakhir. Raka muncul di rumah Handoko. Dengan pistol.
Vina langsung histeris melihatnya.
“Mas Raka…”
Namun lelaki itu justru tertawa dingin.
“Kamu masih segila ini ternyata.”
Windu langsung sadar. Vina tidak gila hanya karena ditinggalkan. Tetapi karena trauma berat setelah mengetahui lelaki yang dicintainya ternyata monster.
Raka menodongkan pistol pada Handoko. Namun, sebelum sempat menembak, Rosa berdiri di depannya.
“Sudah cukup.
Raka kaget.
“Kamu belain mereka?”
“Aku capek hidup buat dendam.”
Perdebatan mereka berubah kacau.
Tembakan meledak. Dan Rosa jatuh bersimbah darah.
Vina menjerit. Sementara Raka kabur sebelum polisi datang.
Di pelukan Windu, Rosa tersenyum lemah.
“Aku pengen jadi orang baik sekali aja…”
Lalu matanya tertutup perlahan.
Beberapa bulan kemudian rumah Handoko kembali sunyi. Vina mulai membaik sedikit demi sedikit. Tidak sepenuhnya sembuh. Namun setidaknya ia mulai bisa membedakan kenyataan dan masa lalu. Reyna memilih pindah ke luar negeri. Dan Jody akhirnya berhasil membuat sinetron yang sukses besar dari kisah mereka. Judulnya Rumah Adegan. Novel Windu ikut diangkat menjadi serial sinetron. Namanya mulai dikenal. Uang mulai datang.
Namun, di tengah semua keberhasilan itu, Windu justru sering termenung sendiri. Karena Jakarta akhirnya memberi satu pelajaran penting; bahwa manusia paling berbahaya bukanlah mereka yang marah. Melainkan mereka yang terluka terlalu dalam, lalu menjadikan dendam sebagai alasan hidup.
Dan di antara semua luka itu, yang paling menakutkan adalah ketika seseorang terlalu lama berpura-pura menjadi karakter dalam hidup orang lain, hingga lupa cara kembali menjadi dirinya sendiri.[]
WYAZ (Wahyudi Abdurrahman Zaenal) Ibn Sinentang. Tinggal di kota Ketapang, Kalimantan Barat. Karyanya puisi dan cerpen di muat beberapa media cetak dan online. Karyanya terangkum dalam beberapa antologi cerpen bersama; Orang-orang di Batas Garis (Tuas Mediamja, 2012), Kalbar Berimajinasi (STAIN Press, 2012), 22 Cerpen Pilihan Borneo 2012 (Metro, 2013), Kacamata (Kelopak Poedjangge, 2014), Mutiara Borneo (Kelopak Poedjangge, 2016), A Bunch of Stories (Pena Baswara Publisher, 2026). Antologi Cerpen tunggalnya PUING (Jentera Pustaka, 2014). Saat ini menetap di Kota Ketapang, Kalimantan Barat.
Penulis: Wyaz Ibn Sinentang
Editor: Neneng J.K.
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.




















































