LAUT masih biru.
Tetapi bagi Abunawas, pagi itu laut lebih mirip papan catur yang belum selesai dimainkan.
Sembilan raja datang dari sembilan arah.
Mereka membawa kapal, bidak, dan cerita masing-masing.
Katanya, mereka sedang mencari cinta.
Abunawas tidak langsung percaya.
Dalam percaturan, kata cinta kadang hanya nama lain dari gambit.
Raja pertama membuka permainan dengan emas.
Ia mengira semua bidak bisa dibeli. Bahkan angin ingin dijadikannya sekutu.
Namun langkah pertamanya menjadi blunder.
Kapalnya semakin berat dan perlahan tenggelam.
Abunawas mencatat:
Bidak yang terlalu mahal belum tentu memenangkan permainan.
Raja kedua memilih suara.
Ia berteriak melakukan skak kepada laut. Ketika gema kembali, ia menganggap lawan sudah menyerah.
Padahal itu hanya pantulan langkahnya sendiri.
Raja ketiga membawa kekuasaan.
Ia ingin melakukan rokade sebelum lawan sempat bergerak. Tetapi bidaknya saling memakan.
Tidak ada lawan.
Tidak ada skak.
Hanya kesalahan langkah.
Raja keempat membawa cermin.
Ia mencari pasangan di papan permainan.
Yang ditemukannya hanya dirinya sendiri.
Ia memecahkan cermin.
Abunawas tersenyum.
Dalam percaturan cinta, lawan paling sulit kadang bukan orang lain, melainkan ambisi dan egois diri
Raja kelima datang membawa 40 pion berbentuk telur.
Ia ingin seluruh bidak tetap berada di posisi semula.
Namun satu telur retak.
Satu pion berubah.
Dan dari retakan itu muncul sesuatu yang tidak bisa lagi dikembalikan ke posisi awal.
Raja keenam membawa buku aturan.
Ia yakin setiap langkah dapat dikendalikan.
Tetapi papan tidak pernah tunduk kepada pemain yang hanya hafal aturan.
Satu hembusan angin membuat lembarannya beterbangan.
Raja ketujuh memainkan strategi paling keras.
Ia memilih kapal batu.
Tidak mau mundur.
Tidak mau menyerah.
Tidak mau mengubah langkah.
Skak.
Lalu tenggelam.
Raja kedelapan datang tanpa bidak.
Tanpa strategi.
Tanpa klaim kemenangan.
Ia hanya mencicipi air laut.
Asin.
Ia menerima kenyataan sebagaimana adanya.
Raja kesembilan bahkan tidak bergerak.
Ia mengamati papan.
Mendengar.
Menunggu.
Lalu perlahan berkata:
“Tidak semua permainan harus dimenangkan.”
Abunawas menatapnya.
“Benar.”
“Tetapi setiap langkah meninggalkan jejak.”
Seketika suasana berubah.
Sembilan raja terdiam.
Abunawas melihat papan catur di antara mereka.
Ada bidak yang hilang.
Ada langkah yang tidak tercatat.
Ada pion yang tiba-tiba berubah posisi.
Dan ada satu bagian papan yang sejak awal sengaja ditutup.
Di situlah permainan sebenarnya berada.
“Jadi kalian bukan mencari cinta,” kata Abunawas.
“Kalian sedang mencari cara agar permainan ini terlihat seperti cinta.”
Tidak ada yang menjawab.
Sebab dalam permainan yang panjang, kebohongan bisa menjadi strategi.
Tetapi bukti adalah langkah yang tidak bisa di-undo.
Dari kejauhan, dua nama mulai muncul di cakrawala. Ini menjadi rahasia dibalik kelambu papan catur. Di sana 9 raja aduh bibir kering. .
Abunawas menutup papan.
“Sekarang kita lihat,” katanya.
“Siapa sebenarnya yang sedang melakukan gambit.”
Angin bergerak.
Bidak-bidak tetap diam.
Tetapi satu hal sudah jelas:
Dan jika langkah berikutnya adalah skak, tidak semua raja masih punya jalan untuk melakukan rokade.
Karena dalam percaturan cinta, hati boleh menyimpan rahasia.
Tetapi papan selalu menyimpan jejak langkah.
(Bersambung©Insertrakyat.com)





























































