Oleh Hidaiyatul Lasaina

PAGI itu kabut yang masih menari-nari di antara pepohonan dan angin mengembus pelan menyentuh dedaunan menggantung lemas. Pukes adalah seorang gadis cantik yang memiliki bakat melukis, ia tinggal di Aceh Tengah, tepatnya di daerah Bebesen. Daerah itu dikenal dengan kekayaan kerawang Gayo dan banyak penduduk memproduksikan tenun kerawang.

Pukes hanya tinggal bersama Ayahnya yang sering ia panggil Ama, dikarenakan Ibunya meninggal sejak ia masih kecil. Kini, Pukes duduk di kelas 11 SMKN 1 Takengon, yang berada tidak jauh dari rumahnya. Pukes selalu dibully oleh teman sekolah karena ia dikenal murid yang dianggap bodoh dan pendiam.

Pagi itu, matahari mulai mengintip dari celah-celah kamar Pukes. Sudah waktunya ia berangkat sekolah. Pukes berjalan kaki menuju sekolah. Pukes menikmati suasana yang sangat indah. Desa yang masih diselimuti kabut tipis, sejuknya udara di perbukitan. Saking indahnya, pagi itu ia duduk di bibir jalan desa dan mulai mengeluarkan alat lukis seadanya.

Pukes mulai melukis. Beberapa menit kemudian, lukisan yang ia buat pun selesai. Setelah itu, Pukes melanjutkan perjalannya ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Pukes melangkah ke kelas sambil memandangi lukisan yang tadi pagi ia buat. Salah seorang teman kelas Pukes yang bernama Raja, anak terpandang di sekolahnya, mengambil lukisan Pukes dan menghinanya.

“Emun-emun, retem lukesen anak cipe ni, uken bem bana, ya!”

‎Pukes hanya terdiam dan menunduk. Tetapi Raja malah merobek lukisan Pukes dan pergi meninggalkannya begitu saja. Pukes sangat sedih melihat serpihan lukisan yang telah di robek oleh Raja. Namun ia tak bisa apa-apa selain bersedih.

‎Ting ting ting.

‎Waktunya istirahat. Pukes menuju ke kantin sendiri tanpa seorang teman. Setibanya di kantin, Pukes hanya membeli sepotong roti dan duduk di meja paling pojok. Pukes selalu saja membawa alat lukisan kemana pun ia pergi, begitu juga di kantin. Pukes melukis suasana kantin. Selesai istirahat, ia kembali menuju ke kelas. Raja melihat Pukes yang sedang berjalan sendirian menuju ke kelas. Raja langsung menghina Pukes didepan teman-temannya.

“Keh enda mun emun, kah?”

Sindir Raja sambil tertawa.”

“Aduh, kasian banget, sih. Ga punya temen, dasar anak cupu.”

Sahut salah seorang teman Raja.

“Iya, bener banget udah cupu, bodoh, haha.”

Ujar teman Raja yang lain.

Pukes tak mempedulikan perkataan mereka, ia terus berjalan menuju kelas dengan kepala menunduk.

Seperti biasa, sepulang sekolah, Pukes selalu menyepatkan waktunya untuk bercerita di sebuah dinding besar dekat persawahan. Ia menuangkan semua isi pikirannya dengan cara melukis di sebuah dinding itu, karena menurut Pukes, melukis adalah salah satu tempat ia bercerita. Pukes menggambar lukisan abstrak yang penuh makna, menyerupai motif kerawang Gayo, penuh warna dan jiwa.

Menjelang senja kota tempat Pukes tinggal mulai diselimuti hawa sejuk. Pukes duduk sendirian didekat jendela kamarnya, ia melihat ke arah langit dan meneteskan air mata. Ia selalu bertanya-tanya kepada diri sendiri mengapa hidupnya sangat menyedihkan. Namun, di tengah kesedihan itu, Pukes teringat kata-kata Ayahnya yang selalu ia genggam erat di hati.

“Hidup tanpa tantangan tidak pernah menyenangkan.”

Keesokan harinya, Pukes kembali ke sekolah, tak sengaja ia mendengar kabar bahwa di sekolahnya akan mengadakan perlombaan melukis. Hatinya sempat berbunga, namun segera layu Ketika salah satu gurunya melarangnya ikut serta. Pukes dianggap tidak bisa melukis dengan baik. Perlahan Pukes merasa dikucilkan, hatinya perih, kecewa, dan sedih.

“Bu, saya ingin mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba itu.” Kata Pukes dengan semangat. Matanya berbinar.

“Maaf sekali Pukes, Ibu tidak bisa mengizinkan kamu mengikuti lomba itu, karena kamu belum menyelesaikan tugas yang Ibu berikan. Ibu juga tidak yakin bahwa kamu bisa melukis.” Jawab guru dengan tegas. Pukes lari menuju taman dengan rasa yang berat.

“Mengapa semua orang mengira aku murid yang paling bodoh, mengapa mereka memandang ku dengan sebelah mata?” Keluh Pukes sambil terduduk lesu dan mengembuskan napas Panjang.

Saat Pukes sedang duduk sendirian di taman, tiba-tiba Raja dan teman-temannya kembali menghina Pukes.

“Kasihan banget, ya… ga bisa ikut lomba, bodoh, sih.”

Bel sekolah berbunyi. Pukes tak pernah lupa menyapa dinding besar yang berada di sudut desa dekat persawahan, tempat ia mencurahkan segala isi hati dan pikirannya sepulang sekolah. Pukes bercerita tanpa berkata. Ia merasa sangat nyaman ketika berada di persawahan tersebut. Tempat itu menjadi sahabat bisu yang selalu mendengarkannya tanpa lelah. Namun, keesokan harinya, Pukes kembali kesekolah dengan beban di dada. Saat ia melangkahkan kakinya ke halaman sekolah, ia terus-menerus dibully oleh teman-temannya. Kata-kata kasar dan tatapan sinis membuat hatinya perih. Meski ia jarang menangis di depan orang lain, dinding besar itu tahu segalanya.

“Cupu!!” Teriakan salah seorang teman Raja.

“Bukan cupu itu, mah, tapi bisu! Ujar Raja sambil tertawa terbahak-bahak.

Minggu demi minggu berlalu, setiap langkahnya diwarnai tantangan dan ditemani dinding besar itu. Suatu hari, saat Pukes sedang asyik melukis, datanglah Bupati Aceh Tengah beserta rombongannya ke daerah tempat Pukes tinggal. Mereka datang dengan niat untuk meminta masyarakat menenun kerawangan, karena wilayah itu dikenal kaya akan warisan kerajinan Gayo. Saat mereka melewati dinding tempat Pukes menggambar, pandangan mereka tertarik pada goresan-goresan abstrak yang terpampang di dinding tersebut.

Lukisan-lukisan Pukes memancarkan ekspresi yang dalam, mirip dengan filosofi dan corak kerawangan Gayo. Bupati menyatakan keinginannya agar lukisan Pukes dijadikan inspirasi dalam pembuatan motif tenun berikutnya.

“Wah, indah sekali ini, mirip dengan filosofi dan corak kerawangan Gayo. Saya ingin lukisan ini dijadikan salah satu inspirasi dalam pembuatan motif tenun. Apakah kamu, Nak, yang melukis ini semua?” Tanya Bupati tersebut.

“Iya, Pak. Ini semua saya yang melukisnya.” Jawab Pukes dengan semangat.

“Wah, pintar sekali kamu, Nak. Kamu bisa melahirkan motif-motif kerawang yang begitu bagus. Apakah kamu bisa membuatnya untuk saya?”

“Terima kasih, Pak atas pujiannya. Saya bisa, Pak.” Jawab Pukes tanpa berpikir panjang.

Kini, tempat Pukes melukis telah dikerumuni banyak orang. Semenjak itu, barulah semua menyadari bahwa lukisan-lukisan itu adalah hasil karya tangan kreatif dari orang daerahnya sendiri yang lahir dan tumbuh di tanah itu. Lukisan Pukes pun dikenal banyak orang, menyentuh hati siapa pun yang melihatnya.

Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Dengan langkah yang ringan dan senyuman yang tak bisa disembunyikan. Ia kembali ke sekolah. Memasuki ruangan kelas, bisik-bisik mulai terdengar. Teman-temannya tampak heran, seorang anak pendiam dan bodoh di sekolah kini bisa mengharumkan nama kampung.

“Heren banget deh, kok dia bisa ya, melahirkan motif kerawang? Ga yakin, deh. Dia, kan cupu. Mana bisa, bicara aja ga bisa.”

Kemudian Raja perlahan mendekati Pukes. Tak ada seorang pun yang menyangka, seorang anak yang keras kepala dan yang sering menghina, kini menendukkan wajahnya ke bawah dan meminta maaf kepada Pukes. Teman-teman Raja terkejut melihat keberanian Raja. Akhirnya, mereka pun ikut menghampiri dan menyadari kesalahan yang mereka lakukan selama ini.

“Pukes, maafkan aku yang selama ini sering membullymu, dan menganggap seorang anak yang cupu. Tetapi di balik itu semua kamu adalah anak yang pintar.”
“Iya maafkan kami juga ya, Pukes. Selama ini kami juga suka membullymu.” ucap teman-teman Raja.

Pukes terdiam sejenak. Matanya menatap Raja dan teman-temannya satu per satu. Wajah yang dulu mencemooh kini berganti dengan wajah yang penuh penyesalan. Dengan suara yang lembut Pukes berkata.

“Terima kasih, teman-teman. Aku tidak ingin dijadikan yang terbaik, tetapi aku hanya ingin didengar. Aku tidak butuh pujian, tetapi aku hanya ingin di hargai. Tapi, terima kasih. Akhirnya, kalian bukan melihatku dari luarnya saja.”

Ruangan kelas hening sejenak. Lalu, terdengar tepuk tangan kecil dari sudut ruangan. Bukan karena kemenangan, tetapi suatu keberanian yang hebat. Akhirnya, Pukes dihargai oleh teman-teman sekelasnya. Kini mereka berteman dengan akur.

Ting ting ting.

Waktu belajar pun dimulai. Di tengah keseriusan belajar, datanglah seorang guru dengan langkah yang tenang tapi raut wajahnya yang begitu kusut. Ia berdiri di hadapan kelas menuju ke arah Pukes. Dengan nada yang lembut dan penuh penyesalan. Guru tersebut berkata bahwa ia menyesal karena tidak mengizinkan Pukes mengikuti lomba melukis kemarin, ia terlalu cepat menilai seseorang. Namun kini, setelah melihat karyanya ia meminta maaf.

“Pukes, maafkan Ibu soal kemarin. Ibu sangat cepat menilai seseorang. Ibu memandangmu dengan sebelah mata. Ternyata, di dalam diammu tersimpan karya yang sangat kaya.”

“Saya juga minta maaf, Bu. Saya juga sering lalai menyelesaikan tugas yang Ibu berikan. Masalah yang kemarin lupakan saja, Bu.” Jawab Pukes dengan mata berkaca.

Pagi yang ceria kini berubah menjadi rasa terharu. Setitik air mata membasahi pipi Pukes. Teman-teman di kelas serempak tepuk tangan riuh, menghangatkan suasana yang penuh makna. Kini, Pukes memiliki dada yang lapang.

Ketika sudah waktunya pulang, Murid-murid berhamburan. Pukes tak lupa mengunjungi dinding besar itu. Ia memandang dinding itu dan tersenyum. Tak sengaja Pukes melihat poster yang mengajak sayembara melukis motif tenun kerawang di Balai Desa yang diadakan oleh Kepala Desa. Pukes sangat bersemangat mengikuti perlombaan tersebut. Ia mendaftarkan dirinya.

Hari demi hari berlalu, tibalah saat yang dinanti. Hari perlombaan yang selama ini ia tunggu dengan penuh harapan. Sebelum perlombaan dimulai, Pukes tak lupa membaca doa. Ketika perlombaan dimulai, Pukes menggerakkan kuasnya dengan penuh ketenangan dan keyakinan. Goresan kuas hitam mulai menari di atas kertas, membentuk karya yang lahir dari hati.

Waktu pun berlalu, dan tibalah saat yang dinanti-nanti, yaitu pengumuman pemenang. Jantung Pukes berdebar. Akhirnya, namanya disebut. Pukes dinyatakan sebagai pemenang. Wajahnya bersinar bahagia, matanya berkaca-kaca. Segala usaha dan kerjanya terbayar lunas. Hari ini, menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidupnya. Ayahnya menyaksikan momen itu dari kejauhan. Tak disangka, putrinya, Pukes, berhasil menjuarai sayembara melukis di desanya. Wajahnya diliputi rasa bangga dan haru. Saat dimintai menyampaikan sepatah kata diatas panggung, Pukes berdiri tegak, suaranya lembut namun penuh makna.

“Jangan pernah memandang seseorang dengan sebelah mata. Setiap orang pasti memilliki kekurangan dan kelebihan.”

Suasana pun hening sejenak, lalu riuh tepuk tangan mengisi udara. Pukes turun dari panggung, berlari kecil ke arah Ayahnya dan memeluknya erat. Tak ada kata yang cukup, hanya pelukan yang menjelaskan segalanya. Sejak hari itu, nama Pukes mulai dikenal luas. Bukan hanya kemenangannya, tetapi karena lukisan indahyang yang ia buat di dinding besar selama ini memuat pesan tentang harapan, kesalahan, dan kebangkitan. Akhir kisah dari perjalanan kehidupan Pukes bukan tentang kemewahan, tapi tentang ketulusan, rasa dihargai, diterima dan didengar oleh orang lain. []

Hidaiyatul Lasaina. Biasa dipanggil Saina. Lahir di Aceh Besar, 4 Febuari 2009. Hobinya memasak dan menggambar. Ia adalah tipe gadis yang tidak suka keramaian, karena baginya akan lebih tenang dan damai jika hanya berada jauh dari kebisingan.

Catatan Redaksi:

BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.