Tiara Nursyita Sariza. Penulis, pegiat literasi, dan Guru Bahasa Indonesia di SMK Negeri 2 Banda Aceh. Ia juga aktif di Sekolah Menulis elipsis. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Karyanya terbit dalam buku tunggal, beberapa antologi, serta dimuat di sejumlah majalah dan media sastra digital. Ia penulis undangan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV yang melibatkan penyair dari 14 negara. Selain menulis, ia juga membimbing siswa di bidang puisi dan jurnalistik.
Sebuah Kereta yang Berangkat
Bagi yang ditinggalkan,
kepergian adalah
bunyi besi yang mencabik peron.
Bagi yang berangkat,
ia adalah
sepotong masa lalu
yang akhirnya dilepaskan
dari gerbong ingatan.
Bagi seorang ibu,
kereta yang menjauh
adalah doa
yang tak sempat disusulkan.
Bagi seorang kekasih,
ia adalah
jarak yang mulai belajar
menjadi nama lain rindu.
Bagi seorang pengembara,
kepergian hanyalah
cara dunia
memindahkan seseorang
ke halaman yang belum dibaca.
Bagi seorang pengecut,
kereta itu mungkin
adalah kesempatan
yang terlalu lama
dibiarkan menguap
di antara peluit dan senja.
Padahal keretanya sama.
Yang berbeda
adalah apa yang dibawa
masing-masing orang
ketika meninggalkan peron:
ada yang membawa koper,
ada yang membawa harapan,
dan ada yang membawa
sebuah rumah
yang sudah tak bisa lagi
disebut pulang.
Banda Aceh, 2026
Di Keheningan Itu Kurawat Kamu
Kuziarahi keheninganmu
sebagaimana kelopak bunga
menziarahi tanah
setelah lepas dari tangkainya.
Tak ada yang perlu kubesuk
selain jantung retak
yang diam-diam
masih memanggil namamu
dengan kata tak terupa.
Di matamu,
embun pecah
tanpa bunyi.
Sejak itu
gurun kehilangan sepinya,
dan Sungai Nil
mengalirkan kembali
ingatan-ingatan
yang pernah membangun
peradaban
di antara dua dada
yang tak sempat saling memiliki.
Senja datang
membawa warna
yang tak pernah selesai
diterjemahkan langit.
Aku membaca wajahmu
seperti kitab
yang halaman-halamannya
ditulis oleh luka.
Engkau—
lelaki yang menahan debar
hingga dunia mengira
ketabahan
lebih tua
daripada cinta.
Banda Aceh, 2026
Ketukan
Malam merunduk.
Lampu-lampu redup.
Daun-daun hidup
dalam desau yang lirih.
Lalu siapa
yang mengetuk lebih dulu?
Tanganku pada langit,
atau langit
yang sejak lama
mengetukku.
Banda Aceh, 2026
Pakan Lungsi
Di sela pakan dan lungsi,
tubuhmu ditenun tanpa pernah melihat alat tenunnya.
Kau hanya mengenakan corak yang saban musim berganti serat.
Ada tangan yang tak ikut tercelup, tetapi setiap simpul mengenali sentuhannya.
Benang-benang yang kausangka putus ternyata sedang berpindah ke sisi kain yang lain.
Maka tak perlu tergesa membentangkan seluruh lembar hidupmu.
Kain yang tergesa selalu menyisakan anyam yang rapuh.
Kelak, ketika lipatan terakhir dibuka,
barulah tampak motif yang sejak mula tak pernah kaurancang.
2026
Penulis: Tiara Nursyita Sariza
Editor: Likin At Tamimi
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.



























































