Oleh Muhammad Subhan

TANAH DATAR memberi impresi tersendiri. Kesan itulah yang saya bawa pulang setelah menghadiri seminar pendidikan yang mendatangkan lebih dari seribu guru dan kepala sekolah dari berbagai jenjang pendidikan di kabupaten yang berada di jantung Sumatera Barat itu.

Saya diundang sebagai narasumber dalam kapasitas sebagai penulis dan pegiat literasi. Tentu, sebuah kehormatan. Semula saya bayangkan peserta seminar hanya sekitar seratus atau dua ratus orang saja. Tapi perkiraan saya meleset. Yang hadir lebih seribu orang.

Ketika memasuki Gedung Nasional Suri Maharajo Dirajo, Batusangkar, Jumat (18/9/2026), saya menyaksikan ruangan dipenuhi guru dan kepala sekolah. Antusiasme mereka terasa sejak awal acara. Seminar berlangsung dua hari, 18–19 September 2026, mengangkat tema Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru: Literasi serta Digitalisasi Pembelajaran, Menyongsong Pembelajaran Bermutu.

Bagi saya, jumlah peserta itu bukan sekadar formalitas angka. Ada pesan fundamental di sana bahwa para pendidik di kabupaten ini masih memiliki komitmen mendalam untuk terus belajar.

Seminar tersebut digelar Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) bekerja sama dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) serta didukung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Datar. Pilihan panitia untuk tidak hanya menghadirkan akademisi, tapi juga praktisi literasi, merupakan langkah strategis. Pendidikan tidak cukup dibicarakan dalam tatanan teori semata. Pengalaman empiris dari pihak yang bergelut langsung dengan buku, tulisan, komunitas, dan gerakan literasi perlu dibawa ke ruang-ruang diskusi guru.

Saya mendapat kesempatan menyampaikan materi mengenai penguatan kompetensi, literasi, dan kepemimpinan sekolah berdampak.

Diskusi saya buka dengan pertanyaan reflektif: apa sesungguhnya yang kita harapkan dari sekolah di tengah disrupsi teknologi yang bergerak begitu masif?

Pertanyaan ini krusial sebab sekolah hari ini berhadapan dengan lanskap zaman yang jauh berbeda dari masa lampau. Pengetahuan tidak lagi terkurung di lembar buku teks dan empat dinding kelas. Anak-anak menyerap informasi melalui internet, tayangan video, platform digital, hingga platform kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Akibatnya, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan.

Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang akselerasi belajar. Namun, di sisi lain, ia membawa tantangan pedagogis yang tidak ringan. Informasi berlimpah ruah, tapi kemampuan kritis dalam memilah informasi belum tentu tumbuh sejalan. Anak-anak begitu mahir mengoperasikan aplikasi, memproduksi konten, dan berselancar di alam maya. Namun, apakah mereka memiliki kecakapan untuk menguji kebenaran informasi, menjaga privasi digital, serta mengenali manipulasi fakta dari opini?

Kenyataannya, digital native tidak otomatis menjadi digital literate.

Di sinilah literasi menemukan urgensinya. Literasi tidak boleh dipersempit sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis. Lebih luas, literasi mencakup kemampuan bernalar kritis, memahami konteks, memecahkan masalah, mengambil keputusan berbasis data, dan menerapkan pengetahuan tersebut secara bijak dalam kehidupan.

Di lingkungan sekolah, kita mengenal ragam literasi yang sudah kita hafal, yaitu baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Kini, literasi informasi, media, dan literasi AI semakin mendesak untuk diintegrasikan.

Kendati demikian, literasi baca-tulis tetaplah fondasi utama. Anak yang mengalami kendala dalam memahami teks bacaan akan menemui hambatan serupa saat berhadapan dengan matematika, sains, studi sosial, maupun instruksi teknologi. Oleh karena itu, penguatan literasi baca-tulis bukanlah tanggung jawab tunggal guru Bahasa Indonesia semata, melainkan tugas kolektif seluruh pengajar.

Pembelajaran membaca pun tidak boleh berhenti pada pertanyaan literal seputar isi bacaan. Guru perlu mendorong murid menalar lebih jauh: Apa pokok persoalannya? Mengapa hal itu terjadi? Apa bukti pendukungnya? Apakah argumen tersebut valid? Adakah sudut pandang alternatif? Apa tindakan nyata yang bisa dilakukan?

Dari proses membaca yang kritis, murid bergerak menuju kedalaman berpikir. Dari kedalaman berpikir, tumbuhlah kepekaan sikap dan tindakan bijak.

Untuk mewujudkannya, pembangunan ekosistem literasi sekolah menjadi syarat mutlak. Gerakan Literasi Sekolah bukanlah beban administratif baru atau agenda instan satu orang. Gerakan ini membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas, komite sekolah, orang tua, masyarakat, hingga komunitas literasi dan media.

Sekolah yang berdampak tidak cukup berpuas diri dengan slogan-slogan literasi. Sekolah membutuhkan budaya literasi yang hidup. Budaya ini tidak harus bermula dari proyek mahal, melainkan dari konsistensi hal-hal mendasar, seperti perpustakaan yang adaptif dan inklusif, kemudahan akses buku, teladan membaca dari guru, ruang ekspresi menulis bagi murid, serta kegiatan belajar yang mendekatkan pengetahuan dengan realitas sosial.

Perpustakaan, khususnya, harus dipulihkan fungsinya sebagai jantung pengetahuan sekolah, bukan sekadar ruang sepi sebagai penyimpanan buku yang tak jarang berpotensi berdebu.

Di samping itu, kepemimpinan kepala sekolah memegang peranan kunci. Kepala sekolah bukan sekadar manajer administratif, sebaliknya pengarah budaya (culture setter) dan penggerak ekosistem belajar. Kebijakan kepemimpinan kepala sekolah yang menentukan apakah literasi sekadar menjadi program formalitas di atas kertas atau tumbuh menjadi karakter sekolah.

Prinsip serupa berlaku dalam pemanfaatan teknologi AI. Kehadiran AI tentu dapat membantu guru merancang modul ajar, menyusun variasi soal, maupun mensimulasikan materi kelas. Namun, AI harus ditempatkan sebagai instrumen bantu, bukan pengganti pertimbangan pedagogis dan sentuhan emosional guru. Mesin dapat mengolah data, tapi gurulah yang memahami karakter, kesulitan, dan potensi unik setiap muridnya.

Sekolah berdampak adalah sekolah yang memfasilitasi gurunya untuk terus bertumbuh, kepala sekolahnya terbuka pada inovasi, muridnya berani bernalar dan bertanya, membaca menjadi kebutuhan, serta teknologi dimanfaatkan secara etis dan bijak.

Pendidikan bukanlah pemindahan informasi secara mekanis dari kepala guru ke kepala murid. Pendidikan adalah ikhtiar jangka panjang untuk menumbuhkan manusia cerdas yang mampu membaca realitas, berpikir jernih, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakatnya.

Tabik untuk kepala sekolah dan guru-guru hebat Tanah Datar yang telah menyalakan lilin inspirasi dan menunjukkan dedikasi bahwa semangat belajar tidak boleh padam oleh zaman. Langkah dan komitmen yang ditunjukkan dari jantung Sumatera Barat ini mempertegas pesan penting bagi dunia pendidikan kita: perubahan yang berdampak dan berkelanjutan tidak selalu harus menunggu instruksi dari pusat, tapi dapat melesat dan tumbuh subur dari ketulusan serta dedikasi para pendidik di ruang-ruang kelas mereka di daerah. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah