POLMAN, INSERTRAKYAT.com — Lebih dari 16 jam Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Polewali Mandar menangani karhutla yang muncul berturut-turut sejak Selasa, 15 September 2026. Laporan pertama masuk pukul 11.15 WITA dari Matakali. Setelah itu, titik api muncul di sejumlah wilayah, mulai lahan produktif, lereng bukit, hutan, kebun sawit hingga kawasan yang berdekatan dengan permukiman. Angin, medan terjal dan bara yang kembali menyala membuat petugas berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain hingga dini hari.
Peringatan mengenai ancaman kebakaran telah disampaikan sebelumnya. Pada 28 Juli 2026, Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud menerbitkan surat edaran berdasarkan prediksi BMKG bahwa Juli, Agustus dan September akan mengalami kondisi lebih kering dari biasanya. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta memastikan api dari tungku, puntung rokok dan sumber pembakaran lain benar-benar padam.
Pada Selasa, 15 September, laporan pertama diterima pukul 11.15 WITA dari Dusun Rea Jaya, Desa Patampanua, Kecamatan Matakali. Api membakar sekitar 0,8 hektare lahan produktif. Petugas tiba sekitar tiga menit setelah laporan dan berhasil mengendalikan api dalam waktu sekitar 20 menit.
Sekitar pukul 11.30 WITA, laporan kedua masuk dari sekitar Masjid Jami’, Lingkungan Tanro, Kelurahan Polewali. Api membakar tumpukan sampah rumah tangga dengan luas sekitar 200 meter persegi.
Pukul 13.35 WITA, laporan berikutnya datang dari kawasan pegunungan Tapango, meliputi Dusun Reamambu dan Lapejang serta lereng Buttu Dakka di sekitar Masjid Nurul Hasanah dan rumah warga.
Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Polewali Mandar Imran, S.IP., M.M., bergerak dari Matakali. Andi Annissa, CPNS pemadam kebakaran yang baru menjalani masa awal penugasan lapangan, ikut turun.
Sekitar pukul 13.50 WITA, petugas tiba. Medan terjal membatasi akses menuju titik api. Angin mendorong kobaran menuju kawasan yang lebih dekat dengan permukiman.
“Dari bawah saya lihat apinya benar-benar dekat dengan masjid di seberang jalan dan rumah-rumah warga. Sudah setahun saya bertugas sebagai CPNS Damkar, dan itu kali pertama saya terjun ke lapangan untuk Karhutla melihat langsung api sebesar itu menjilat lereng bukit,” kata Annissa kepada InsertRakyat.com.
Pukul 14.02 WITA, petugas meminta bantuan tambahan. Sekitar 14 menit kemudian unit kedua tiba. Penanganan melibatkan TNI, Polri, Brimob dan BPBD.
Di Buttu Dakka, api berhasil ditangani sekitar pukul 16.30 WITA. Luas area yang terbakar diperkirakan sekitar dua hektare.
Saat penanganan Tapango berlangsung, laporan lain masuk dari Luyo.
Sekitar pukul 14.38 WITA, Imran bergerak menuju kawasan Bukit Bungin-Bungin, Dusun Landi Pokki, Desa Baru dan Desa Tenggelang setelah menerima informasi mengenai kebakaran tersebut.
Damkar Campalagian telah menangani bagian atas Desa Tenggelang. Di Luyo, unit Imran kemudian bekerja di Desa Baru pada hamparan lahan yang berada dalam satu bentang kawasan, termasuk area di bawah tanaman kelapa sawit.
Camat Luyo Darmawati Rukkawali ikut memantau penanganan.
Di lokasi tersebut, api sulit dipastikan benar-benar padam. Titik yang telah didinginkan kembali mengeluarkan asap dan api dari sisi lain.
“Begitu satu titik padam, dua menit kemudian asap dan api muncul lagi dari sisi lain. Airnya seperti cuma mendinginkan permukaan, sementara di bawah tanah bara itu jalan terus,” ujar Imran.
BPBD mengerahkan mobil tangki air. Dukungan juga datang dari mobil tangki PDAM dan jet shooter Polsek Luyo. Penanganan mencakup sekitar 10 hektare dan selesai sekitar pukul 16.39 WITA.
Annissa juga melihat bara kembali muncul di area yang sebelumnya telah dipadamkan.
“Kebun sawit yang baru saja kami padamkan, sepuluh menit kemudian asapnya muncul lagi di sisi lain. Sampai saya bingung sendiri mana yang benar-benar padam dan mana yang cuma kelihatan padam dari luar,” katanya.
Sekitar pukul 14.30 WITA, laporan lain masuk dari Samasundu, Kecamatan Limboro. Damkar Tinambung tiba sekitar 10 menit kemudian. Manggala Agni ikut membantu. Area yang terbakar diperkirakan sekitar satu hektare dan ditangani hingga sekitar pukul 16.45 WITA.
Di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, kebakaran sekitar dua hektare ditangani Manggala Agni bersama kepolisian dan warga. Penanganan selesai sekitar pukul 17.37 WITA.
Sekitar pukul 17.20 WITA, setelah penanganan di Luyo selesai, Imran bersama Kepala BPBD Polewali Mandar Andi Chandra Sigit, ST., M.A.P., kembali menuju Tapango.
Kebakaran di kawasan pegunungan Tapango masih berlangsung. Petugas harus menaiki tiga puncak bukit untuk mendekati titik api. Kobaran berpindah antarpunggungan seiring hembusan angin.
TNI, Polri dan Brimob kembali dikerahkan. Camat Tapango Hirawati, SP., M.Adm.,KP., ikut memantau penanganan.
“Malam itu saya cuma bisa lihat titik apinya dari kejauhan, kecil dan terus berasap, menyeberang ke dua dusun sekaligus. Kami tidak bisa mendekat, medannya tidak memungkinkan,” kata Annissa.
Sekitar pukul 20.30 WITA, titik api di Tapango secara visual telah padam. Perkiraan Camat Tapango menyebut sekitar 30 hektare hutan dan kebun terdampak.
Pada pukul 18.30 WITA, kebakaran juga terjadi di kawasan Palippis, Desa Bala, sepanjang jalur Trans Sulawesi. Damkar Campalagian tiba sekitar lima menit kemudian dan melakukan penanganan selama kurang lebih 25 menit. Api bergerak menuju kawasan tebing dekat Pantai Palippis.
Pukul 20.31 WITA, laporan berikutnya diterima dari Jambu Malea, di belakang SDN 064. Warga telah memadamkan api di sekitar 1,5 hektare lahan dan meminta petugas melakukan pendinginan.
Tumpukan sekam terlihat hitam dari permukaan. Namun, setelah disemprot lebih dalam, asap masih keluar.
“Sekamnya kelihatan sudah hitam dan dingin di permukaan, tapi begitu disemprot lebih dalam, asapnya masih keluar. Warga sudah lega mengira sudah padam total, namun tetap khawatir baranya belum benar-benar mati sehingga terjadi penyalaan kembali,” ujar Annissa.
Setelah sekitar 30 menit pendinginan, lokasi dinyatakan aman.
“Hari ini (Selasa, 15 September 2026) menjadi hari terpanjang yang pernah saya jalani,” kata Annissa.
Sekitar pukul 21.00 WITA, personel kembali menerima informasi kebakaran di Samasundu melalui siaran langsung TikTok. Lokasi tersebut sebelumnya telah ditangani.
Kendaraan tidak dapat mendekati titik api. Personel berjalan kaki bersama warga dan kepolisian. Bara dipukul menggunakan dahan untuk mencegah api kembali membesar. Penanganan selesai sekitar pukul 23.05 WITA.
Belum selesai rangkaian malam itu, laporan baru masuk dari Bulo.
Di Dusun Kanusuang, Desa Pulliwa, kebakaran terjadi di kawasan perbukitan belakang lokasi SPPG. Area yang terbakar diperkirakan sekitar lima hektare.
Unit Matakali dan Campalagian bergerak bersama TNI. Angin membuat api bergerak dan meningkatkan perhatian terhadap permukiman di sekitar kawasan.
Penanganan berlangsung hingga dini hari. Sekitar pukul 03.18 WITA, Rabu, 16 September 2026, api berhasil ditangani.
Dari laporan pertama pukul 11.15 WITA pada Selasa hingga penanganan terakhir sekitar pukul 03.18 WITA pada Rabu, rangkaian operasi berlangsung lebih dari 16 jam.
Namun, penanganan tidak berhenti setelah titik api terakhir dinyatakan tertangani.
Pada Rabu sore, kawasan Palippis kembali diperiksa. Bara masih ditemukan dan penyebaran api terlihat di kedua sisi jalan. Perkiraan awal sekitar 0,5 hektare kemudian diperbarui menjadi sekitar 1,5 hektare setelah pemeriksaan lapangan.
Kamis, 17 September 2026, tim melakukan pemetaan di Samasundu sejak pukul 08.00 hingga 15.15 WITA. Perkiraan awal luas kebakaran sekitar tiga hektare, terdiri atas sekitar satu hektare dari kejadian siang dan dua hektare dari kejadian malam.
Hasil pemetaan kemudian menunjukkan luas sekitar 19,63 hektare atau dibulatkan menjadi 20 hektare.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa perkiraan saat kebakaran berlangsung belum menggambarkan seluruh area terdampak. Luasan menjadi lebih jelas setelah pemeriksaan dan pemetaan lapangan dilakukan.
Pada Kamis, 17 September, kebakaran lahan kembali dilaporkan di wilayah Balanipa dan disebut melibatkan Lambanan, Sabang Subik, Pambusuang dan Lego dengan luas sekitar 40 hektare. Pada malam yang sama, kebakaran di Desa Paku, Kecamatan Binuang, dilaporkan mencapai sekitar 100 hektare dan bergerak menuju kawasan lain.
Angka tersebut masih perlu dicocokkan dengan hasil pendataan dan pemetaan resmi karena luas area terbakar dapat berubah setelah verifikasi lapangan.
Dampak Total
Hingga Kamis, 17 September 2026, Damkar Polewali Mandar mencatat 120 kejadian kebakaran. Sebanyak 94 merupakan karhutla dan 26 merupakan kebakaran permukiman.
Sebanyak 84 orang terdampak. Luas hutan yang terbakar diperkirakan sekitar 51 hektare, sementara lahan perkebunan yang terdampak mencapai sekitar 263,78 hektare. Sebanyak 82 rumah tercatat terdampak.
Kekeringan juga menambah tekanan. Sebanyak 31 titik kekeringan tercatat dengan 7.345 orang atau 7.035 kepala keluarga mengalami kesulitan air bersih. BPBD menyalurkan sekitar 181.000 liter air.
Pada tingkat Provinsi Sulawesi Barat, periode yang sama mencatat 564 kejadian, terdiri atas 359 karhutla, 81 kebakaran permukiman dan 124 titik kekeringan.
Sebanyak 253 orang dan 134 kepala keluarga tercatat terdampak. Luas hutan yang terbakar diperkirakan sekitar 167,12 hektare dan lahan sekitar 434,16 hektare. Sebanyak 149 rumah dan lima fasilitas umum tercatat terdampak.
Kebutuhan air bersih juga meningkat. Sekitar 46.562 orang atau 17.111 kepala keluarga bergantung pada distribusi air darurat. Total air yang disalurkan mencapai sekitar 2.829.600 liter.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa karhutla tidak berhenti sebagai persoalan pemadaman. Di saat petugas mengejar titik api, wilayah terdampak juga menghadapi kebutuhan lanjutan: memastikan bara tidak kembali hidup, menghitung luas kawasan terbakar, memeriksa permukiman serta memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan.
Rangkaian 15 hingga 17 September 2026 menunjukkan dua catatan yang berjalan bersamaan. Di lapangan, petugas berpacu dengan api yang berpindah dan kembali menyala. Dalam pendataan, luas serta dampak kebakaran terus diperbarui setelah pemeriksaan lapangan dilakukan.
Karhutla meninggalkan lahan yang menghitam sekaligus pekerjaan lanjutan berupa pemetaan, pendinginan, distribusi air, pemeriksaan ulang dan pembaruan data.
Lebih dari 16 jam penanganan menjadi satu bagian dari rangkaian yang lebih panjang: memadamkan api, memastikan bara benar-benar mati, menghitung dampak dan menjaga agar titik yang telah ditangani tidak kembali menjadi sumber kebakaran.
Penulis : Rahmat/Ahmad
Editor : Supriadi Buraerah
























































