SEORANG (anak) mengangkat tangan. Ia ingin bertanya. Kemudian tangannya turun kembali.
Bukan karena pertanyaannya hilang. Mungkin ia hanya takut salah.
Hal kecil seperti itu sering tidak masuk rapor. Tidak tercatat dalam daftar nilai. Padahal, dari sana kita dapat melihat sesuatu yang penting dalam pendidikan; bagaimana seorang anak belajar menggunakan pikirannya.
Anak yang berani bertanya sedang belajar. Anak yang mengatakan tidak paham juga sedang belajar. Bahkan anak yang salah menjawab sebenarnya masih berada di dalam proses belajar.
Persoalannya bukan apakah anak pernah salah.
Persoalannya, apa yang terjadi (pendidikan) setelah ia salah.
Jika kesalahan selalu dipermalukan, anak dapat belajar bahwa diam lebih aman daripada mencoba. Padahal, keberanian mencoba merupakan bagian dari proses pendidikan.
Nilai ujian tetap penting. Sekolah membutuhkan evaluasi dan guru membutuhkan ukuran untuk melihat perkembangan peserta didik. Tetapi angka tidak mampu menceritakan seluruh diri seorang anak.
Nilai 90 tidak otomatis berarti ia memahami semuanya. Nilai 60 juga tidak otomatis berarti ia tidak mampu. Ada anak yang pandai menghafal tetapi kesulitan menerapkan pengetahuan. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang sebelum akhirnya memahami.
Di sinilah pendidikan seharusnya melihat lebih jauh daripada lembar jawaban.
Berpikir kritis juga tidak sama dengan mengajari anak menjadi pembantah.
Berpikir kritis berarti membiasakan anak membedakan apa yang diketahui, apa yang diduga, apa yang dipercaya, dan apa yang masih perlu diperiksa.
Ketika membaca informasi, ia belajar mencari sumber.
Ketika melihat angka, ia belajar memahami konteks.
Ketika mendengar pendapat, ia belajar mencari alasan.
Ketika menemukan pendapat berbeda, ia tidak buru-buru menolak.
Dan ketika ternyata dirinya keliru, ia mampu memperbaiki kesimpulan.
Dalam proses itu, guru tetap memiliki posisi penting. UU Nomor 14 Tahun 2005 menempatkan guru sebagai pendidik profesional yang bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Karena itu, pertanyaan siswa tidak semestinya dianggap sebagai ancaman terhadap kewibawaan guru.
Pertanyaan “mengapa?” justru dapat menjadi pintu masuk menuju pemahaman.
Guru tidak harus selalu menjadi manusia yang memiliki seluruh jawaban. Ada kalanya kalimat “mari kita cari tahu” justru menjadi pelajaran yang sangat kuat.
Sebab ilmu pengetahuan berkembang melalui pertanyaan, pengujian, koreksi, dan pembaruan.
Anak pun datang ke sekolah bukan hanya membawa buku.
Ia membawa suasana rumah, pengalaman, rasa percaya diri, kecemasan, hubungan dengan teman, dan berbagai persoalan yang mungkin tidak terlihat.
Karena itu, proses belajar juga bersentuhan dengan kondisi psikologis anak.
Anak yang takut dipermalukan bisa memilih diam. Anak yang terus merasa gagal bisa kehilangan keberanian untuk mencoba. Anak yang terbiasa menganggap kesalahan sebagai aib bisa lebih sibuk menghindari kesalahan daripada memahami pelajaran.
Membangun mental bukan berarti membuat anak tidak pernah takut.
Mental yang sehat juga berarti mampu menghadapi kegagalan, menerima koreksi, meminta bantuan, kemudian mencoba kembali.
Anak tidak harus selalu kuat. Ia perlu belajar bagaimana bangkit ketika tidak kuat.
Rumah pun memiliki peran yang tidak kecil.
Ketika orang tua selalu memberikan jawaban, anak bisa terbiasa menunggu.
Ketika orang tua berkata, “Kita cari tahu bersama,” anak belajar bahwa rasa ingin tahu memiliki tempat.
Bahkan kalimat “Ayah atau Ibu belum tahu” dapat menjadi pendidikan yang sederhana tentang kejujuran dan kerendahan hati.
Tantangan semakin besar karena dunia anak sekarang tidak berhenti di ruang kelas.
Internet memberikan informasi dalam jumlah yang nyaris tidak terbatas. Berita, opini, iklan, video, komentar, dan klaim bercampur dalam satu layar.
Masalahnya bukan lagi sekadar apakah anak mampu menemukan informasi.
Masalahnya adalah apakah ia mampu menilai informasi yang ditemukan.
Siapa sumbernya? Apa buktinya? Kapan dibuat? Apa konteksnya? Apakah ada sumber lain?
Kemampuan seperti itu akan semakin penting ketika anak tumbuh menjadi warga masyarakat.
Ia akan berhadapan dengan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, masyarakat, publik, bahkan politik.
Pendidikan tidak perlu membuat anak curiga terhadap semua kepentingan. Yang lebih penting adalah membuatnya mampu membedakan.
Kepentingan masyarakat tidak selalu identik dengan kepentingan publik. Kepentingan politik juga tidak otomatis berarti buruk.
Sebuah gagasan perlu dinilai dari dasar, proses, bukti, tujuan, dampak, dan pertanggungjawabannya.
Dengan begitu, anak tidak mudah menerima atau menolak sesuatu hanya karena siapa yang menyampaikannya.
Sekolah (mereka) akan selesai.
Ujian akan berlalu.
Ijazah akan diterima.
Tetapi kehidupan justru menghadirkan pertanyaan yang tidak menyediakan pilihan A, B, C, atau D.
Di sana seseorang harus memilih sendiri.
Menimbang sendiri.
Memeriksa sendiri.
Dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Karena itu, pendidikan jangan hanya mengajarkan anak apa yang harus dijawab.
Ajarkan mereka memahami pertanyaan, mencari bukti, menerima koreksi, menghargai perbedaan, mengelola kegagalan, dan berani mengakui ketika belum tahu.
Sebab yang dibawa anak setelah meninggalkan sekolah bukan hanya ijazah.
Oleh : Muhammad Subhan, Penulis, Founder Sekolah Menulis Elipsis dan Penggiat Literasi.






























































