Oleh : Vibriono.

HASIL Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026 menimbulkan perhatian besar di kalangan pendidik, orang tua, dan masyarakat. Data yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan bahwa rata-rata nilai Bahasa Indonesia siswa SD dan SMP berada pada kisaran 60, sedangkan Matematika hanya mencapai sekitar 40–43. Temuan ini memperlihatkan bahwa kemampuan literasi siswa Indonesia masih lebih baik dibandingkan kemampuan numerasi dan penalaran matematis. Pemerintah sendiri menilai kondisi tersebut sebagai sinyal penting untuk memperkuat kemampuan berpikir logis, pemecahan masalah, dan penalaran matematika dalam proses pembelajaran.

Angka-angka tersebut tidak boleh dipandang sekadar sebagai hasil ujian tahunan. Di balik nilai yang tampak sederhana itu terdapat gambaran besar mengenai kualitas pendidikan Indonesia saat ini. Hasil TKA mencerminkan kondisi pembelajaran yang berlangsung bertahun-tahun di sekolah. Oleh karena itu, rendahnya capaian Matematika harus dipahami sebagai alarm yang mengingatkan semua pihak bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Matematika Masih Menjadi Momok bagi Siswa

Salah satu hal yang langsung terlihat dari hasil TKA adalah adanya kesenjangan yang cukup besar antara nilai Bahasa Indonesia dan Matematika. Selisih sekitar 17 hingga 20 poin menunjukkan bahwa siswa lebih mampu memahami materi literasi dibandingkan numerasi.

Menurut saya, kondisi ini bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, Matematika dikenal sebagai mata pelajaran yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa. Banyak peserta didik memasuki kelas Matematika dengan rasa takut terlebih dahulu sebelum mencoba memahami materinya. Akibatnya, mereka cenderung menghafal rumus daripada memahami konsep dasar yang mendasarinya.

Ketika pembelajaran terlalu berorientasi pada jawaban benar dan salah, siswa kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi proses berpikir. Mereka fokus mencari hasil akhir tanpa memahami alasan mengapa suatu rumus digunakan. Dalam jangka panjang, pola seperti ini membuat Matematika terasa sebagai beban, bukan sebagai alat berpikir.

Padahal, hakikat Matematika bukan hanya tentang angka. Matematika melatih kemampuan logika, analisis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Jika kemampuan ini lemah, dampaknya tidak hanya terlihat pada nilai sekolah, tetapi juga pada kemampuan seseorang menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.

Literasi yang Lebih Baik Merupakan Kabar Positif

Untuk capaian Bahasa Indonesia yang berada pada angka 60 menunjukkan adanya perkembangan yang cukup baik dalam kemampuan literasi siswa. Hasil ini bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan beberapa capaian pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Hal tersebut menunjukkan bahwa berbagai program peningkatan literasi yang dilakukan pemerintah dan sekolah mulai memberikan hasil. Gerakan membaca, penyediaan bahan bacaan, serta pembiasaan membaca di sekolah kemungkinan berkontribusi terhadap capaian tersebut.

Kemampuan literasi memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan. Siswa yang mampu membaca dan memahami informasi dengan baik akan lebih mudah mempelajari berbagai mata pelajaran lainnya. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi.

Namun demikian, angka 60 juga belum dapat dianggap sebagai hasil yang sangat memuaskan. Jika skala penilaian menggunakan rentang 0–100, maka nilai tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk peningkatan kualitas literasi siswa Indonesia.

Akar Permasalahan Rendahnya Numerasi

Menurut saya, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya capaian numerasi siswa Indonesia.

1. Metode Pembelajaran yang Kurang Kontekstual

Di banyak sekolah, Matematika masih diajarkan secara abstrak. Guru sering kali langsung memperkenalkan rumus tanpa menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Akibatnya, siswa sulit memahami manfaat praktis dari materi yang dipelajari.

Misalnya, konsep persentase dapat dikaitkan dengan diskon saat berbelanja, sedangkan statistika dapat dihubungkan dengan survei sederhana di lingkungan sekitar. Ketika siswa melihat relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari, mereka akan lebih mudah memahami konsep tersebut.

2. Budaya Menghafal

Sistem pendidikan Indonesia masih sering menempatkan hafalan sebagai ukuran keberhasilan belajar. Dalam Matematika, pendekatan ini sangat bermasalah karena pemahaman konsep jauh lebih penting dibandingkan hafalan rumus.

Siswa mungkin mampu mengingat rumus luas segitiga, tetapi belum tentu memahami mengapa rumus tersebut bekerja. Akibatnya, ketika menghadapi soal yang sedikit berbeda dari contoh yang diberikan guru, mereka kesulitan menemukan solusi.

3. Kesenjangan Kualitas Pendidikan

Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan kondisi pendidikan yang beragam. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas, guru, dan sumber belajar yang memadai. Perbedaan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan daerah terpencil masih menjadi tantangan besar.

Kesenjangan ini berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Sekolah dengan fasilitas terbatas sering kali mengalami kesulitan dalam memberikan pembelajaran yang optimal.

4. Kurangnya Minat Belajar Matematika

Banyak siswa sejak awal sudah memiliki persepsi negatif terhadap Matematika. Mereka menganggap mata pelajaran tersebut sulit, membosankan, dan menakutkan. Persepsi ini sering diperkuat oleh pengalaman gagal, tekanan nilai, atau cara mengajar yang kurang menarik.

Ketika motivasi belajar rendah, hasil yang diperoleh juga cenderung rendah.

Peran Guru Sangat Menentukan

Guru merupakan faktor utama dalam keberhasilan pendidikan. Hasil TKA seharusnya tidak digunakan untuk menyalahkan guru, melainkan sebagai bahan evaluasi bersama.

Guru perlu diberikan pelatihan yang berkelanjutan agar mampu menerapkan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Pembelajaran Matematika harus diarahkan pada pengembangan kemampuan berpikir, bukan sekadar menyelesaikan soal.

Selain itu, guru perlu menciptakan suasana kelas yang mendorong siswa untuk berani mencoba, bertanya, dan melakukan kesalahan. Kesalahan harus dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai sesuatu yang memalukan.

Peran Orang Tua dalam Pendidikan

Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan bahwa “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” artinya Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam membangun budaya belajar di rumah.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga berpengaruh terhadap prestasi akademik anak. Orang tua yang aktif mendampingi proses belajar anak dapat membantu meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka.

Dalam konteks numerasi, orang tua dapat melibatkan anak dalam aktivitas sederhana seperti menghitung pengeluaran rumah tangga, mengukur bahan masakan, atau menghitung jarak perjalanan. Aktivitas semacam ini membantu anak memahami bahwa Matematika hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya Reformasi Pembelajaran

Hasil TKA 2026 menunjukkan bahwa reformasi pendidikan harus terus dilakukan. Fokus pembelajaran perlu bergeser dari sekadar mengejar nilai menuju pengembangan kompetensi.

Sekolah harus memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan memecahkan masalah. Kurikulum juga perlu dirancang agar lebih relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Kemampuan numerasi menjadi sangat penting dalam era digital. Dunia kerja masa depan membutuhkan individu yang mampu menganalisis data, mengambil keputusan berdasarkan bukti, dan menyelesaikan masalah secara sistematis.

Jika kemampuan numerasi siswa tetap rendah, Indonesia berisiko mengalami kesulitan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompetitif di tingkat global.

Hasil TKA Sebagai Cermin Pendidikan Nasional

TKA bukanlah tujuan akhir pendidikan. Nilai yang diperoleh siswa hanyalah salah satu indikator untuk melihat efektivitas proses pembelajaran.

Oleh karena itu, hasil TKA harus dimanfaatkan sebagai bahan refleksi, bukan sebagai alat untuk memberikan label kepada siswa atau sekolah. Angka 40 pada Matematika tidak berarti siswa gagal sepenuhnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih ada aspek yang perlu diperbaiki.

Sebaliknya, capaian Bahasa Indonesia yang lebih baik juga tidak boleh membuat kita cepat puas. Pendidikan berkualitas menuntut peningkatan yang berkelanjutan.

Rerata nilai TKA 2026 yang menunjukkan capaian Bahasa Indonesia sekitar 60 dan Matematika sekitar 40–43 merupakan gambaran nyata kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa relatif lebih baik dibandingkan kemampuan numerasi dan penalaran matematis. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa penguatan logika, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir matematis harus menjadi prioritas dalam pembelajaran.

Menurut saya, rendahnya nilai Matematika tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jam pelajaran atau memperbanyak latihan soal. Perubahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari metode pembelajaran, peningkatan kualitas guru, dukungan orang tua, hingga pemerataan akses pendidikan. “An investment in knowledge pays the best interest” (Investasi dalam pengetahuan memberikan keuntungan terbaik) Benjamin Franklin.

Jika hasil TKA dijadikan momentum untuk melakukan perbaikan, maka angka-angka tersebut dapat menjadi titik awal menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik. Sebaliknya, jika hanya dipandang sebagai statistik tahunan tanpa tindak lanjut yang nyata, maka masalah yang sama akan terus berulang pada tahun-tahun berikutnya.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa. Seperti yang dikatakan Nelson Mandela bahwa “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world” (Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia.) Karena itu, setiap data yang menunjukkan kelemahan sistem pendidikan harus diterima sebagai kesempatan untuk berbenah demi menciptakan generasi Indonesia yang lebih cerdas, kritis, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Sumber berita: https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8505463/rerata-nilai-tka-sd-smp-bahasa-indonesia-60-matematika-40-43

2. Antara Layar dan Buku, Krisis Literasi Manusia Modern

“Membaca adalah jendela dunia, tetapi berpikir adalah pintu menuju kebijaksanaan.” — Ki Hajar Dewantara

Budaya literasi merupakan salah satu kebiasaan penting dalam perjalanan intelektual manusia. Melalui kegiatan membaca dan menulis, manusia tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi juga melakukan refleksi mendalam terhadap berbagai pengalaman hidup. Di era digital yang berkembang begitu cepat, manusia hidup dalam dua dunia sekaligus: dunia nyata yang dipenuhi buku, percakapan, dan pengalaman langsung, serta dunia digital yang hadir melalui layar gawai, komputer, dan berbagai media sosial. Kehadiran teknologi telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan manusia. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, komunikasi dapat dilakukan tanpa batas ruang dan waktu, dan berbagai pengetahuan tersedia secara bebas di internet.

Namun, di balik segala kemudahan tersebut muncul sebuah persoalan yang semakin mengkhawatirkan, yaitu krisis literasi. Ironisnya, krisis ini terjadi ketika akses terhadap informasi justru semakin terbuka. Masyarakat modern dibanjiri informasi setiap hari, tetapi tidak selalu memiliki kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengkritisi informasi tersebut secara mendalam. Akibatnya, budaya membaca perlahan tergeser oleh budaya menggulir layar (scrolling), sementara pemahaman yang mendalam digantikan oleh konsumsi informasi yang serba cepat.

Fenomena inilah yang menjadikan hubungan antara layar dan buku sebagai salah satu persoalan penting dalam kehidupan manusia modern. Di satu sisi, layar menawarkan kecepatan dan kemudahan. Di sisi lain, buku mengajarkan kedalaman berpikir dan refleksi. Ketika layar semakin mendominasi kehidupan manusia, muncul pertanyaan mendasar: apakah masyarakat modern sedang mengalami kemajuan literasi atau justru kemunduran?

Layar yang Menguasai Kehidupan

Tidak dapat dipungkiri bahwa layar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, banyak orang menghabiskan waktunya bersama telepon pintar. Berbagai aplikasi media sosial menawarkan hiburan yang nyaris tanpa henti. Video pendek, unggahan foto, berita singkat, dan berbagai konten viral terus mengalir setiap saat.

Kondisi ini menciptakan kebiasaan baru dalam mengonsumsi informasi. Jika dahulu seseorang harus meluangkan waktu berjam-jam untuk membaca buku atau artikel panjang, kini informasi dapat diperoleh dalam bentuk video berdurasi satu menit atau bahkan beberapa detik saja. Kecepatan menjadi nilai utama dalam budaya digital.

Sayangnya, kebiasaan tersebut perlahan membentuk pola pikir yang serba instan. Banyak orang menjadi terbiasa membaca judul tanpa memahami isi, melihat potongan informasi tanpa memeriksa sumbernya, bahkan menyebarkan berita tanpa melakukan verifikasi. Akibatnya, kemampuan membaca kritis mengalami penurunan.

Layar memang memperluas akses informasi, tetapi akses yang luas tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman yang mendalam. Informasi yang melimpah justru dapat membuat seseorang kehilangan fokus dan kesulitan membedakan antara fakta, opini, dan hoaks.

Buku dan Tradisi Berpikir Mendalam

Berbeda dengan layar yang menawarkan kecepatan, buku mengajarkan kesabaran. Membaca buku membutuhkan waktu, perhatian, dan konsentrasi. Proses membaca tidak hanya melibatkan mata, tetapi juga kemampuan berpikir, menafsirkan, dan menghubungkan berbagai gagasan.

Dalam sejarah peradaban manusia, buku memiliki peran yang sangat penting. Berbagai kemajuan ilmu pengetahuan lahir dari tradisi membaca dan menulis. Para ilmuwan, filsuf, sastrawan, dan tokoh dunia membangun pemikirannya melalui proses membaca yang panjang dan mendalam.

Ketika seseorang membaca sebuah buku, ia diajak untuk memahami suatu persoalan secara utuh. Buku tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga argumentasi, analisis, dan refleksi. Oleh karena itu, membaca buku membantu seseorang mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan logis.

Sayangnya, minat membaca buku di kalangan generasi muda saat ini menghadapi tantangan besar. Banyak siswa dan mahasiswa lebih memilih mencari ringkasan di internet dibandingkan membaca sumber aslinya. Mereka lebih tertarik pada konten visual yang cepat daripada teks panjang yang membutuhkan konsentrasi. Akibatnya, kemampuan memahami bacaan yang kompleks menjadi semakin lemah.

Krisis Literasi di Tengah Ledakan Informasi

Krisis literasi modern bukanlah krisis karena kurangnya informasi, melainkan krisis karena melimpahnya informasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan memahami dan mengolahnya. Manusia modern hidup dalam kondisi yang sering disebut sebagai information overload atau banjir informasi.

Setiap hari, masyarakat menerima ratusan bahkan ribuan informasi dari berbagai sumber. Namun, tidak semua informasi tersebut berkualitas. Banyak informasi yang bersifat dangkal, sensasional, dan menyesatkan. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan literasi menjadi semakin penting.

Literasi tidak hanya berarti mampu membaca dan menulis. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, mengevaluasi sumber, berpikir kritis, serta mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang benar. Ketika kemampuan ini melemah, masyarakat menjadi rentan terhadap manipulasi informasi, propaganda, dan berita palsu.

Fenomena penyebaran hoaks yang marak dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa krisis literasi merupakan masalah nyata. Banyak orang lebih cepat membagikan informasi daripada memverifikasi kebenarannya. Akibatnya, ruang publik dipenuhi oleh kebingungan dan konflik yang sebenarnya dapat dicegah melalui kemampuan literasi yang baik.

Generasi Digital dan Tantangan Pendidikan

Generasi muda saat ini lahir dan tumbuh dalam lingkungan digital. Mereka mengenal layar bahkan sebelum mampu membaca buku. Kondisi ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya yang menjadikan buku sebagai sumber utama pengetahuan.

Tantangan pendidikan pada masa kini bukan lagi sekadar mengajarkan peserta didik membaca dan menulis, tetapi juga membangun kemampuan literasi digital yang sehat. Sekolah perlu mengajarkan cara memilah informasi, memahami sumber yang kredibel, serta mengembangkan budaya membaca yang kuat.

Guru memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan literasi peserta didik. Pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian nilai ujian, tetapi juga pada pengembangan budaya membaca dan berpikir kritis. Peserta didik perlu diajak berdiskusi, menganalisis bacaan, serta menulis berdasarkan hasil pemikiran mereka sendiri.

Keluarga juga memiliki tanggung jawab yang besar. Kebiasaan membaca tidak dapat dibangun hanya di sekolah. Orang tua perlu memberikan teladan dengan menunjukkan bahwa membaca merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kehadiran rak buku di rumah sering kali lebih bermakna daripada sekadar menyediakan akses internet.

Menemukan Keseimbangan

Perdebatan antara layar dan buku sebenarnya bukan tentang memilih salah satu dan menolak yang lain. Teknologi bukanlah musuh literasi. Justru teknologi dapat menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan budaya membaca apabila digunakan secara bijak.

Buku elektronik, perpustakaan digital, dan berbagai platform pendidikan daring menunjukkan bahwa teknologi dapat memperluas akses terhadap pengetahuan. Masalahnya bukan pada keberadaan layar, melainkan pada cara manusia menggunakannya.

Yang dibutuhkan saat ini adalah keseimbangan. Layar dapat digunakan untuk memperoleh informasi dengan cepat, sementara buku tetap menjadi sarana untuk membangun pemahaman yang mendalam. Keduanya harus saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Masyarakat modern perlu belajar untuk tidak terjebak dalam budaya instan. Membaca buku, menulis refleksi, dan berdiskusi secara mendalam harus tetap menjadi bagian dari kehidupan intelektual. Tanpa kebiasaan tersebut, manusia berisiko menjadi konsumen informasi yang pasif dan kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Krisis literasi manusia modern merupakan paradoks terbesar abad ini. Ketika informasi tersedia dalam jumlah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kemampuan memahami informasi justru menghadapi tantangan serius. Layar telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, tetapi buku tetap memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membentuk kedalaman berpikir.

Masa depan literasi tidak ditentukan oleh kemenangan layar atas buku atau sebaliknya. Masa depan literasi ditentukan oleh kemampuan manusia memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan tradisi membaca yang telah menjadi fondasi peradaban. Jika masyarakat hanya menjadi penikmat layar tanpa membangun budaya membaca, maka yang terjadi bukanlah kemajuan pengetahuan, melainkan kemiskinan intelektual yang tersembunyi di balik kemajuan teknologi.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah berapa lama kita menatap layar setiap hari, melainkan seberapa dalam kita memahami apa yang kita baca. Sebab, peradaban tidak dibangun oleh banyaknya informasi yang dikonsumsi, tetapi oleh kemampuan manusia mengubah informasi menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi kebijaksanaan.

3. Pendidikan Karakter di Tengah Kemajuan Teknologi Digital Pesat

Kemajuan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Dunia pendidikan pun mengalami transformasi yang signifikan dengan hadirnya pembelajaran digital, kecerdasan buatan, dan berbagai sumber belajar daring. Namun, di tengah kemajuan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah perkembangan teknologi juga diimbangi dengan perkembangan karakter peserta didik?

Pendidikan saat ini sering kali lebih menekankan pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan karakter. Padahal, kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menghadapi kompleksitas kehidupan modern. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Pembahasan

Pendidikan karakter bertujuan membentuk peserta didik yang memiliki nilai moral, tanggung jawab, kejujuran, disiplin, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Di era digital, peserta didik menghadapi berbagai tantangan seperti penyebaran hoaks, perundungan siber, hingga penyalahgunaan teknologi. Tanpa karakter yang kuat, teknologi justru dapat digunakan untuk hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Sekolah memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai karakter melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Pendidikan karakter tidak harus diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi dapat diintegrasikan dalam seluruh aktivitas sekolah. Guru harus menjadi teladan dalam bersikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Selain sekolah, keluarga juga memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak. Nilai-nilai moral yang ditanamkan di rumah akan menjadi dasar bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan pendidikan karakter. Pendidikan yang berhasil bukan hanya menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. Dengan karakter yang kuat, generasi muda Indonesia akan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.

Education is not the filling of a pail, but the lighting of a fire.”
(Pendidikan bukanlah mengisi ember, melainkan menyalakan api semangat belajar.) — William Butler Yeats. 

 

Opini ini ditulis oleh Vibriono Sukardy Mashur, mahasiswa Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng, sebagai bentuk refleksi terhadap tantangan pendidikan Indonesia.