Oleh Muhammad Subhan

SAAT melihat langit biru, saya gembira sekali. Pun ketika bukit-bukit dan gunung tampak jelas karena rimbun hijau hutan yang menyelimutinya, saya senang. Matahari pagi bersinar terang, burung-burung berkicau, dan suara insekta margasatwa lainnya berorkestra.

Saya beruntung masih dapat menikmati suasana indah itu karena berdomisili di Padang Panjang, kota kecil yang dilingkungi Bukit Barisan serta tiga gunung pasak bumi Ranah Minang: Tandikek, Marapi, dan Singgalang. Alamnya masih asri. Jika hari rancak, tak jarang masih saya dengar di rimba Singgalang suara Siamang, kera besar bertembolok. Suaranya merdu sekali, merobek keheningan pagi.

Namun, sejak kabut asap membalut langit Padang Panjang dan Sumatra Barat umumnya beberapa pekan terakhir, suara hewan itu nyaris tak terdengar lagi. Entah ke mana dia. Pun wajah alam tampak muram. Langit putih susu. Udara mengandung tuba.

Dalam keadaan seperti itu, saya kembali teringat bahwa alam sesungguhnya memiliki cara sendiri untuk memulihkan luka. Hutan yang terbakar dapat tumbuh kembali. Sungai yang tercemar perlahan bisa membersihkan diri. Udara yang penuh asap pun akhirnya kembali jernih setelah hujan turun. Namun, pemulihan alam tidak selalu datang tanpa konsekuensi bagi manusia.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, misalnya, memang dapat berkurang setelah bumi disiram hujan deras terus-menerus. Masalahnya, hujan deras di kawasan yang tutupan hutannya telah rusak dapat memunculkan persoalan lain seperti banjir dan tanah longsor atau galodo.

Peristiwa yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatra Barat menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan tidak berdiri sendiri. Yang satu dapat berkaitan dengan yang lain. Hutan yang kehilangan pepohonan kehilangan pula sebagian kemampuan untuk menahan air. Tanah yang tidak lagi kokoh lebih mudah tergerus. Ketika hujan datang dalam volume besar, air mencari jalannya sendiri.

Kita turut berduka atas bencana galodo yang terjadi di Arosuka, Kabupaten Solok. Mengenai penyebabnya, tentu perlu penelitian dan penjelasan dari pihak yang berwenang. Apakah ada pembukaan lahan di hulu, penebangan hutan, atau faktor alam lainnya, semuanya perlu dibuktikan. Dalam suasana musibah, menurut saya, tidak elok kita terburu-buru berspekulasi.

Namun, ada kegelisahan lain yang belakangan sering muncul dalam diri saya setiap kali hujan turun. Bukan lagi sekadar rasa senang karena udara menjadi sejuk dan debu-debu di jalan tersapu air. Ada kecemasan, akankah banjir bandang datang? Akankah tanah longsor tiba? Atau bencana lain yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan?

Kecemasan semacam itu terasa lebih kuat ketika kita melihat perubahan bentang alam di sekitar. Hutan-hutan yang dahulu menjadi penyangga kehidupan berkurang, sebagian berganti menjadi perkebunan atau kawasan terbangun. Padahal, akar pohon membantu mengikat tanah dan menyerap air. Ketika tutupan hutan terjaga, air hujan memiliki lebih banyak kesempatan untuk meresap ke dalam tanah.

Persoalannya bukan semata-mata hujan. Hujan adalah bagian dari siklus alam. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kondisi bumi ketika hujan itu datang. Apakah hutan masih cukup lebat untuk menahan air? Apakah daerah resapan masih tersedia? Apakah sungai masih mampu menampung aliran air? Apakah kota-kota kita memiliki sistem drainase yang baik?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting sebab bencana lingkungan sering kali tidak datang sendirian. Kerusakan yang berlangsung perlahan dapat bertemu dengan cuaca ekstrem, lalu menghadirkan musibah yang jauh lebih besar. Manusia kemudian sibuk mencari siapa yang salah setelah korban berjatuhan.

Beberapa hari terakhir, hujan deras di sejumlah daerah membuat udara lebih bersih. Langit kembali biru. Kabut asap berangsur menipis. Suasana hati pun terasa lebih baik dibanding hari-hari sebelumnya yang menyesakkan dada.

Saya kembali dapat memandang gunung lebih jelas. Saya kembali berharap mendengar suara burung dari pepohonan. Dan, tentu saja, saya ingin suatu pagi nanti mendengar lagi Suara siamang dari rimba Singgalang.

Harapan itu sesungguhnya mengandung persoalan besar: sampai kapan alam mampu bertahan menghadapi tekanan manusia?

Kita sering berbicara tentang pembangunan, pertumbuhan ekonomi, pembukaan lahan, jalan, perumahan, perkebunan, dan berbagai kebutuhan manusia. Semua itu penting. Namun, manusia perlu mengingat bahwa bumi ini bukan hanya tempat tinggal kita. Di dalamnya hidup burung, serangga, ikan, pepohonan, dan begitu banyak makhluk hidup lain yang sama-sama memiliki ruang kehidupan.

Di sinilah literasi lingkungan menjadi penting. Literasi tidak cukup hanya membuat seseorang mampu membaca dan menulis. Literasi juga seharusnya membuat manusia mampu membaca tanda-tanda alam. Membaca perubahan warna langit. Membaca sungai yang mulai keruh. Membaca hutan yang semakin gundul. Membaca suara burung yang perlahan menghilang.

Alam sesungguhnya terus berbicara. Hanya saja, manusia sering terlalu sibuk berbicara tentang dirinya sendiri sehingga lupa mendengarkannya.

Jika alam dirusak, alam memang memiliki kemampuan untuk memulihkan diri. Namun, proses pemulihan itu bisa berlangsung sangat lama dan membutuhkan biaya besar. Bahkan, dalam keadaan tertentu, manusia harus membayar mahal dengan kehilangan rumah, harta benda, bahkan nyawa.

Maka, menjaga alam bukan semata-mata urusan pemerintah, aktivis lingkungan, atau kelompok masyarakat tertentu. Ini urusan kita bersama. Sebab, kalau bukan kita yang peduli menjaga bumi hari ini, bagaimana nasib anak cucu kita kelak?

Tentu, kita ingin anak-cucu di masa mendatang masih dapat melihat langit biru, gunung yang hijau, mendengar burung berkicau, dan mudah-mudahan, mendengar kembali suara siamang dari hutan-hutan yang masih terjaga.

Bumi yang baik bukan hanya warisan yang kita terima dari orang-orang sebelum kita, tapi kita juga bertanggung jawab menitipkan Bumi yang jauh lebih baik untuk generasi yang akan datang. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah