Oleh Muhammad Subhan
NGOPI sebelum mengisi acara adalah kebiasaan yang sering saya lakukan, termasuk di Kabupaten Tanah Datar, beberapa hari lalu. Sebuah komunitas guru setempat mengundang saya sebagai salah seorang pembicara selama dua hari. Acaranya berlangsung di Gedung Nasional, tepat di jantung Kota Batusangkar.
Di seberang gedung itu terdapat sebuah taman. Karena waktu acara masih cukup lapang, saya sempatkan mencari lepau lalu memesan secangkir kopi. Sembari menikmati kopi, saya memeriksa dan membalas beberapa pesan masuk di ponsel.
Di tengah keasyikan itu, tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya menyapa saya. “Pak Subhan ada di sini?” ujarnya. Saya menoleh dan memandang wajahnya. Antara ingat dan tidak, saya menyambut sapaannya, lalu kami bersalaman.
“Oh iya, di sini juga, Bang?” jawab saya, mencoba mengingat-ingat siapa gerangan sosok tersebut.
“Masih ingat saya?” tanyanya, mencairkan suasana.
“Oh ya, ya. Ingat,” sahut saya seketika seraya tersenyum, meski memori saya masih samar-samar.
Ingatan saya baru benar-benar pulih ketika ia bercerita bahwa sekitar tahun 2009–2012 ia sering mengantarkan pesanan jagung bakar ke Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Aia Angek Cottage. Tahun-tahun itu adalah masa ketika saya masih aktif mengelola Rumah Puisi.
Aswandi nama laki-laki itu. Penampilannya sederhana, layaknya pedagang kaki lima pada umumnya. Meski begitu, siapa sangka dialah pengusaha pemilik merek “Singkong Meledak” asal Koto Baru, Kabupaten Tanah Datar.
“Jiwa saya memang di sini, berkeliling, manggaleh babelok, dari satu tempat ke tempat lain,” katanya tertawa.
Hari itu, di taman kota sedang berlangsung festival kuliner. Ia membawa dua unit armada untuk produk Singkong Meledak bersama anak laki-lakinya yang masih remaja, yang turut berjualan jus semangka. Insting bisnis sang anak tampak mulai terasah.
Insting kewartawanan saya pun bekerja, menggali lebih dalam perjalanan usaha Bang Aswandi—demikian saya akrab menyapanya. Ia telah banyak melewati jatuh bangun di dunia usaha. Berkat kegigihan, kesabaran, kedisiplinan, ketekunan, dan sikap pantang menyerah, kini ia mengendalikan setidaknya 51 kendaraan operasional yang tersebar di berbagai kota di Sumatera Barat, bahkan hingga menjangkau Aceh, Sumatera Utara, dan Riau. Semua kendaraan itu miliknya. Wow, tentu.
Selain hadir di pasar-pasar kuliner dan pasar kaget, bisnis Singkong Meledak ia sasar melalui berbagai festival. “Pokoknya, di mana ada keramaian, saya usahakan hadir di sana,” ujarnya tersenyum lebar.
Namun, ia mengakui perjalanannya tak semudah membalik telapak tangan. Adakalanya ia terbentur persoalan izin penataan ruang publik dan ketersediaan lokasi berjualan. Dari benturan riil itulah terpercik gagasan untuk membentuk koperasi bersama para pedagang babelok.
“Wah, bagus itu, Bang. Saya setuju,” seru saya seketika memberi semangat dan dukungan.
Bagi saya, gagasan itu sangat relevan. Selama ini, pedagang kecil cenderung berjuang sendiri-sendiri. Mereka mencari modal sendiri dan mencari lapak sendiri. Jika hadir sebuah wadah berpayung koperasi, mereka memiliki posisi tawar (bargaining position) dan kekuatan kolektif yang jauh lebih solid.
Pedagang babelok memang hidup dari keramaian, berpindah dari satu titik ke titik lain. Selain kerentanan lokasi berjualan, keterbatasan modal dan fluktuasi harga bahan baku juga sering memicu masalah.
Dalam kondisi demikian, koperasi dapat menjadi ruang saling menguatkan. Modal dapat dihimpun bersama, bahan baku bisa dibeli secara kolektif dengan harga lebih terjangkau, dan pengetahuan pengelolaan usaha dapat dibagikan. Bahkan, akses penataan tempat berjualan dapat diperjuangkan secara resmi melalui organisasi yang memiliki legalitas badan hukum, sehingga tercipta jembatan dialog yang tertib dengan pemerintah daerah.
Yang tidak kalah penting adalah fungsi jaminan sosial bagi para pedagang beserta keluarganya.
Bang Aswandi bercerita, di lapangan ia sering menemukan pedagang kecil yang kesehatannya terabaikan. Ada yang tetap memaksa berjualan meski sedang sakit karena tidak memiliki jaminan atau tabungan cadangan. Bahkan, ada pedagang yang mengembuskan napas terakhir di kios mereka.
Fakta ini menegaskan bahwa aktivitas perdagangan informal bukan sekadar urusan memburu omzet. Di balik setiap transaksi, ada martabat manusia yang menggantungkan asap dapurnya pada setiap rupiah yang diperoleh dari lapak mereka.
Tentu saja, koperasi bukanlah resep ajaib yang serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan. Banyak koperasi UMKM gagal karena salah urus. Keberhasilannya sangat bergantung pada transparansi pencatatan, integritas pengurus, dan kedisiplinan anggotanya. Koperasi yang ideal bukanlah organisasi yang ramai hanya saat deklarasi, pengurusnya sibuk berburu dana hibah atau proposal, sementara anggotanya pasif menunggu bantuan. Koperasi harus lahir dari kebutuhan nyata anggota dan bekerja murni untuk kepentingan mereka.
Pedagang babelok sesungguhnya telah memiliki modal sosial yang kuat. Mereka saling mengenal, berada dalam rantai nasib yang sama, dan paham rasanya berjuang di jalanan. Yang dibutuhkan kini adalah mentransformasikan soliditas organik yang terserak itu menjadi kekuatan kelembagaan yang terstruktur.
Cita-cita Bang Aswandi mengingatkan saya bahwa kewirausahaan tidak selalu lahir dari ruang pendingin udara, seminar bisnis yang megah, atau sokongan modal raksasa. Sering kali, ia tumbuh dari gerobak, mobil dagang, pasar malam, festival, dan keberanian untuk terus bergerak menyapa pembeli.
Selama ini, kita kerap terjebak membaca UMKM sebatas deretan statistik tentang angka pertumbuhan, kontribusi terhadap PDB, atau daya serap tenaga kerja. Semua data itu penting, tapi sering membuat kita alpa bahwa di balik angka-angka tersebut ada manusia-manusia tangguh yang bangun sebelum subuh, mengangkut barang dagangan, bertahan di bawah terik dan hujan, lalu mengulang ikhtiar yang sama keesokan hari.
Maka, ketika para pedagang babelok mulai menggalang niat mendirikan koperasi—yang tidak hanya mengurus barang dan modal, tapi juga menaungi keselamatan dan kesehatan anggotanya—di situlah titik krusialnya. Mereka tidak sekadar mendirikan entitas bisnis baru, sebaliknya sedang membangun benteng pertahanan sosial agar tidak ada yang tumbang sendirian di tengah jalanan.
Kopi di cangkir saya akhirnya tandas, dan riuh acara seminar di Gedung Nasional Batusangkar memanggil untuk dimulai. Namun, obrolan singkat di lepau pagi itu meninggalkan pelajaran berharga bahwa ketahanan ekonomi nasional sesungguhnya tidak melayang di awan-awan regulasi formal, melainkan membumi dan merekah pada keberanian orang-orang kecil yang memilih bergandengan tangan daripada berjalan sendiri-sendiri. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah






















































