MAROS, INSERTRAKYAT.COM — Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa meninjau standar keselamatan, kebersihan, fasilitas dasar, serta kesiapan layanan wisata di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan sejak Sabtu.

Kunjungan tersebut menempatkan aspek keselamatan wisatawan sebagai salah satu perhatian utama pemerintah di kawasan yang menjadi bagian penting dari lanskap pariwisata alam Sulawesi Selatan.

Ni Luh Puspa meninjau sanctuary kupu-kupu dan sejumlah fasilitas yang digunakan wisatawan. Pemeriksaan juga mencakup kondisi kebersihan area publik, fasilitas sanitasi, serta ketersediaan dan kejelasan papan penunjuk jalur evakuasi.

Menurut Kementerian Pariwisata, peninjauan itu dilakukan untuk melihat kesiapan fasilitas, kualitas pelayanan, serta aspek keamanan dan keselamatan wisatawan di kawasan Bantimurung-Bulusaraung.

“Keamanan, keselamatan, dan kebersihan adalah fondasi utama sektor pariwisata. Fasilitas dasar seperti penandaan jalur evakuasi yang jelas dan ketersediaan kamar mandi yang bersih merupakan standar mutlak yang harus dijaga untuk memberikan pengalaman terbaik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” kata Ni Luh Puspa.

Perhatian terhadap jalur evakuasi menjadi bagian penting karena kawasan wisata alam memiliki karakter berbeda dari destinasi buatan. Pengunjung berhadapan dengan ruang terbuka, bentang alam karst, gua, air terjun, serta kondisi lingkungan yang memerlukan kesiapsiagaan terhadap berbagai risiko.

Kementerian Pariwisata juga mencatat adanya dialog antara Wamenpar dengan pelaku usaha pariwisata lokal, pengelola kawasan, dan pemandu wisata. Pembahasan diarahkan pada penguatan kapasitas pelaku pariwisata serta peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat di sekitar kawasan taman nasional.

Bantimurung-Bulusaraung tidak hanya mengandalkan pemandangan alam. Kawasan ini dikenal karena kekayaan kupu-kupu, bentang karst, gua, air terjun, serta keanekaragaman flora dan fauna Sulawesi.

Diketahui (20/9/2026), bahwa UNESCO telah mencatat Bantimurung-Bulusaraung sebagai bagian inti dari kawasan Cagar Biosfer Bantimurung-Bulusaraung dan menyebut kawasan tersebut dikenal secara internasional karena kupu-kupunya. Lebih dari 250 spesies kupu-kupu tercatat di kawasan tersebut, termasuk spesies endemik dan dilindungi.

Bentang alam karst Maros-Pangkep juga memiliki nilai geologi dan ekologi yang luas. UNESCO menetapkan Maros Pangkep sebagai UNESCO Global Geopark pada 2023. Kawasan geopark tersebut mencakup Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung di daratan dan memiliki kekayaan hayati serta geologi yang menjadi bagian dari warisan alam kawasan.

Karena itu, pengembangan wisata di Bantimurung tidak hanya berkaitan dengan jumlah kunjungan. Kualitas fasilitas, keselamatan pengunjung, kebersihan, kapasitas pemandu, perlindungan ekosistem, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari pengelolaan destinasi yang harus berjalan bersama.

Kementerian Pariwisata menyatakan akan terus berkolaborasi dengan kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, pengelola kawasan, pelaku pariwisata, serta komunitas lokal untuk memperkuat infrastruktur, layanan, dan promosi kawasan.

Kolaborasi tersebut diarahkan agar pengembangan pariwisata dapat memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengabaikan fungsi konservasi dan keberlanjutan ekosistem.

“Saya berharap Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata yang indah, tetapi juga menjadi contoh konkret pengelolaan pariwisata berkelanjutan berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat,” imbuh Ni Luh Puspa.

Dalam kunjungan tersebut, Wamenpar didampingi Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Martini Mohamad Paham.

Kunjungan ini menjadi bagian dari perhatian pemerintah terhadap kualitas destinasi wisata, dengan keselamatan, layanan dasar, konservasi, dan kapasitas masyarakat lokal ditempatkan sebagai unsur yang saling berkaitan dalam pengembangan pariwisata Bantimurung. (*).