Dilla Daniela. Seorang guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Berasal dari Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Selain mengajar, ia juga aktif menulis di berbagai media. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat tema pendidikan, karakter, dan budaya. Ia percaya bahwa menulis adalah cara menyampaikan nilai kebaikan. Baginya, menulis adalah ladang amal yang penuh manfaat.

Menanam Cahaya di Luka Negeri

negeri ini masih menyimpan matahari
di balik kantong seragam anak sekolah yang penuh tambalan,
tanah ini tetap menyimpan cita-cita tinggi bak burung bermigrasi
terbang membawa berita tentang luka, harapan, dan kemanusiaan.

di negeri ini,
angin tak pernah benar-benar diam
ia selalu membawa kabar tentang jaket lusuh yang menua di punggung jalanan
tentang roda-roda letih yang terus mengunyah aspal
meski nasib tak pernah ikut bergerak
Ia juga membawa suara dari sepatu koyak, yang menyeret matahari di trotoar kota
dan melangitkan doa para ibu yang mengepul bersama asap dapur

di negeri ini,
anak kecil menggambar matahari di kardus bekas
orang dewasa menggambar batas di atas kuasa
perempuan menjajakan cahaya yang kuyup oleh debu jalan
ada juga lelaki tua yang menjual harapan di antara lipatan koran
semuanya berjalan dalam senyap yang tak pernah meminta nama.
mereka menyalakan pelita dengan cahaya yang tak serupa,
sebab kita hanya singgah sementara di bumi yang sama

Bukittinggi, Mei 2026

Cahaya Luka

aku melihat Indonesia tak lagi pada peta
tapi pada pasar yang gaduh bak samudra suara tanpa jeda
pada masjid dekat rel kereta, tempat doa bersanding dengan deru besi tua
Pada gereja kecil yang loncengnya masih menabur cahaya
Pada pura yang canang sarinya menjadi doa, jatuh namun tak pernah sia-sia
Pada vihara yang asap dupanya menjahit langit dengan pinta tak bersuara

di sana masih ada yang menimbang hidup dengan receh
menggadaikan tenaga di trotoar waktu tiada henti
membawa lelah di jalan yang tak sempat dititipkan
namun di balik riuh tanpa jeda, ada yang diam-diam menahan dunia
agar tak jatuh sepenuhnya

di antara gedung tinggi dan rumah yang rapuh
anak-anak meyalakan masa depan dari layar kecil di genggaman
membaca dunia yang kadang tak ikut mengajar kebaikan
seorang ibu menakar sabar di piring kosong
menahan lapar, bertahan meski tak selalu dipahami waktu

dan di setiap temu singkat pada lampu merah kehidupan
marilah berbagi ruang walau tak sempat mengenal lebih dalam

Bukittinggi, Mei 2026

Penulis: Dilla Daniela
Editor Ayu K. Ardi

Catatan Redaksi:

BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.

Berita Terkini

Tiga Cangkir Kopi Sebelum Senja

Bilik Elipsis
24 menit yang lalu

Sajak-Sajak Supali Kasim

Bilik Elipsis
29 menit yang lalu

Puisi-Puisi Riami

Bilik Elipsis
36 menit yang lalu

Pohon Terakhir Di Kota Ini

Bilik Elipsis
42 menit yang lalu