Oleh Muhammad Subhan

YA, menulis itu mudah, asal segera dituliskan. Pekerjaan lain pun terasa mudah asal segera dikerjakan. Apa pun itu, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, bertungkus lumus, tentu menemukan jalannya, meski setiap pekerjaan memiliki proses dan kerumitannya masing-masing.

Setidaknya, dorongan itulah yang saya sampaikan pada Gelar Wicara bertajuk “Menulis Itu Mudah” dalam Festival Literasi Sumbar 2026 yang dihelat Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat di Padang, Rabu (9/9/2026) sore. Di hadapan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, guru, hingga pegiat komunitas literasi se-Sumatera Barat, diskusi berjalan hangat.

Gelar wicara yang dipandu Sespri Pebriona, S.Sos., M.I.Kom., pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Solok, itu membawa saya pada perenungan yang lebih mendalam: mengapa kita masih perlu bersusah payah menulis ketika hampir semua alat bantu menulis telah tersedia di hadapan kita?

Pertanyaan ini krusial. Ketika awal mulai menulis puluhan tahun lalu, alat yang saya gunakan masih berupa mesin tik. Salah menekan satu huruf berarti harus mengulang atau menimpanya. Salah satu kata, kadang satu halaman ikut berantakan. Belum lagi pita mesin tik yang mulai memudar atau lembaran kertas yang terbuang saat gagasan merasa belum pas.

Sekarang keadaannya jauh melompat. Ada laptop, komputer, tablet, hingga gawai pintar yang memungkinkan siapa saja menulis di mana pun dan kapan pun. Tulisan dapat diperbaiki berulang kali tanpa menyisakan sampah kertas. Bahkan, kini hadir kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu membantu mencari gagasan, menyusun kalimat, memperbaiki ejaan, hingga menghasilkan draf tulisan dalam hitungan detik.

Lantas, jika teknologi sudah serbacanggih, untuk apa manusia masih perlu menulis secara mandiri?

Bagi saya, jawabannya tidak sekadar untuk menghasilkan rangkaian kata. Menulis adalah cara seseorang mengolah dan merapikan pikirannya. Ketika menulis, kita dilatih mengurutkan gagasan, memilah informasi, membedakan fakta dan opini, lalu secara sadar mengambil sikap terhadap suatu persoalan. Proses penjelajahan batin dan olah pikir inilah yang tak bisa digantikan oleh mesin mana pun.

Justru di tengah kemudahan teknologi hari ini, kemampuan menulis yang berkedalaman menjadi kian vital. Banjir informasi di ruang digital tidak otomatis membuat masyarakat menjadi lebih bijak. Setiap hari kita berhadapan dengan informasi berantai, unggahan media sosial, video pendek, potongan pernyataan, hingga disinformasi yang beredar amat cepat.

Di tengah situasi tersebut, orang yang mampu menulis dengan baik pada hakikatnya sedang memegang alat penyaring zaman. Ia tidak sekadar menjadi penyalur pasif atas apa yang diterimanya, tapi dilatih untuk kritis bertanya: dari mana sumber informasi ini, apa kepentingannya, siapa yang terdampak, dan apa fakta sebenarnya di balik peristiwa tersebut?

Menulis juga tidak harus selalu bertolak dari gagasan besar atau rumit. Banyak tulisan berbobot justru lahir dari hal-hal terdekat dengan keseharian. Pengalaman di ruang kelas, percakapan santai di warung kopi, perjalanan pulang, dinamika sosial di kampung halaman, hingga kegelisahan melihat perubahan lingkungan sekitar dapat menjadi bahan baku tulisan yang berharga.

Masalah terbesar pemula sering kali bukan karena ketiadaan bahan, melainkan jebakan untuk tampil sempurna sejak kalimat pertama. Mereka terlalu lama ragu dan menunggu tulisan menjadi utuh sebelum berani menggoreskannya. Padahal, tulisan yang jernih hampir selalu lahir dari proses bertahap: tulis dahulu, baca kembali, perbaiki, lalu susun ulang. Jangan membebani halaman pertama dengan tuntutan kesempurnaan instan.

Pertanyaan berikutnya yang kerap muncul adalah apakah menulis dapat menjadi profesi yang menopang kehidupan secara ekonomis?

Jawabannya tentu bisa. Namun, menulis bukanlah jalan pintas untuk meraih kekayaan secara kilat. Ada proses panjang yang menuntut ketahanan. Seorang penulis perlu mengasah kecakapan, melahap banyak bahan bacaan, mengenali karakter media atau audiens, memiliki kedisiplinan tinggi, dan yang terpenting membangun kepercayaan publik secara konsisten.

Hari ini, lanskap industri kreatif dan media membuka peluang yang sangat lebar. Dulu, seorang penulis mungkin hanya membayangkan koran, majalah, atau buku fisik sebagai satu-satunya panggung publikasi. Kini, hadir media daring, blog, newsletter, media sosial, penulisan naskah iklan, konten korporat, penyuntingan, hingga penulisan skenario video.

Ruang ekonomi di sekitar dunia literasi dan penulisan terbentang luas. Seseorang tidak harus menunggu menjadi penulis buku tersohor untuk memetik manfaat ekonomis dari keterampilan menulisnya. Seorang penulis dapat memulai dari proyek-proyek kecil, merawat portofolio, menjaga mutu karya, serta memperluas jaringan profesional.

Namun, ada satu garis batas yang tidak boleh kabur: menulis bukan semata urusan transaksi ekonomi. Jika seluruh proses kreatif hanya ditakar dengan materi, seorang penulis berisiko kehilangan pijakan idealis dan alasan paling mendasar mengapa ia memilih mencatat.

Menulis adalah cara meninggalkan jejak dan merawat ingatan bersama. Begitu banyak peristiwa penting yang menguap begitu saja karena tidak pernah didokumentasikan. Perjuangan orang-orang kecil yang bekerja dalam diam, wajah perdesaan yang perlahan tergerus zaman, tradisi tutur yang mulai punah, kegelisahan generasi muda, persoalan ketimpangan pendidikan, hingga isu lingkungan hidup membutuhkan insan-insan yang tekun mencatatnya.

Di situlah tulisan menjalankan fungsinya sebagai penyuarakan zaman.

Apa yang kita tulis hari ini boleh jadi terasa biasa bagi sebagian orang. Namun, puluhan tahun mendatang, siapa tahu tulisan itu menjadi kesaksian sejarah tentang bagaimana manusia menghidupi zamannya. Ya, bisa jadi dan siapa tahu? Sebab itu, saya selalu meyakini bahwa menulis adalah kerja kreatif yang daya jangkaunya melintasi waktu. Perangkatnya boleh terus berganti—dari mesin tik ke komputer, dari gawai hingga bantuan AI. Namun, kendali penuh atas arah berpikir, nilai nurani, dan keputusan untuk menyuarakan sesuatu tetap berada di tangan manusia.

AI dapat membantu mengolah data dan menyusun struktur kalimat dengan cepat. Namun, pengalaman empiris, kegelisahan batin, keberpihakan moral, serta autensitas suara seorang penulis tidak pernah lahir dari algoritma mesin apa pun.

Ketika ada yang meragukan relevansi menulis di era serbaotomatis ini, jawabannya justru sebaliknya: semakin canggih teknologi berkembang, semakin kita membutuhkan manusia yang mau berpikir jernih, tenang, merasakan kemanusiaan, dan menuliskannya.

Zaman akan terus berubah dan melaju. Namun, yang tidak pernah surut adalah kebutuhan mendasar manusia untuk bercerita, mencatat, mempertanyakan hal-hal fundamental, serta merawat ingatan bersama.

Maka, menulis itu mudah, asal segera dituliskan. Setelah itu, biarkan waktu yang menguji: apakah karya kita hanya menjadi tumpukan kata yang usang, atau kelak bertahan sebagai suara jernih yang terus bergema meski penulisnya telah tiada. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah