Oleh Muhammad Subhan
LAGU-LAGU yang diciptakan dengan teknologi Artificial Intelligence (AI), baik lirik maupun musiknya, kini semakin menarik. Namun, tentu saja semua itu tetap bergantung pada kreativitas pembuatnya. Pembuat karya bukan sekadar mengandalkan satu kata perintah (prompt), sebaliknya juga membutuhkan gagasan, imajinasi, rasa, dan kemampuan mengolahnya menjadi karya yang enak didengar.
Salah satu lagu kreatif itu berjudul “Tidak Ada Sukses Tanpa Proses”, yang asyik saya simak di TikTok maupun YouTube. Lagu bergenre reggae ini saya temukan di kanal YouTube CR REGGAE dengan penanda AI resmi dari YouTube.
Terlepas dari penggunaan teknologi AI dalam proses pembuatannya, saya mencermati liriknya yang mengandung pesan mendalam bahwa tak ada jalan pintas; kesuksesan lahir dari doa, ikhtiar, dan proses. Lagu itu bahkan dibuka dengan kalimat “Bismillah”.
Bagi saya, pesan itulah yang paling menarik untuk direnungkan. Teknologi boleh semakin canggih, dan orang boleh menciptakan karya dengan bantuan mesin. Akan tetapi, pesan tentang perjuangan, kesabaran, kegagalan, dan keberhasilan tetaplah sesuatu yang sangat manusiawi. Teknologi hanyalah alat pembantu. Gagasan, pengalaman hidup, rasa, serta nilai moral tetap berakar pada manusia.
Di ranah literasi, pesan dalam lirik lagu ini sangat relevan untuk dipetik oleh para pegiat literasi yang tidak sedikit berhadapan dengan berbagai tantangan, baik dalam kehidupan pribadi maupun dinamika gerakan. Mengelola kegiatan literasi tidak pernah semudah membuat poster, mengumumkan kegiatan, membagikan video/foto ke media sosial, atau mengumpulkan peserta. Ada proses panjang di baliknya: gagasan yang harus dirawat, relasi yang harus dibangun, buku yang harus dikurasi dan disediakan, anak-anak yang harus dirangkul, serta masyarakat yang kerap belum melihat bahwa literasi adalah kebutuhan mendasar.
Seorang pegiat literasi yang mengelola komunitas, taman bacaan, rumah baca, atau gerakan membaca harus memiliki ketangguhan mental. Ia mesti kuat menghadapi keadaan dan sabar menjalani proses. Sebab, dampak kerja literasi jarang memberikan hasil instan yang dapat diukur dalam waktu singkat. Hari ini mengajak seorang anak membaca, belum tentu besok ia langsung menjadi pembaca aktif. Hari ini memberikan buku, belum tentu minggu depan buku itu selesai dibaca. Bahkan, setelah bertahun-tahun sebuah gerakan berjalan, mungkin masih ada saja pihak skeptis yang bertanya, “Apa hasilnya secara konkrit?”
Pertanyaan semacam itu tidak boleh membuat pegiat literasi patah semangat atau bersikap defensif. Perubahan kualitas manusia memang tidak selalu dapat dihitung secara kuantitatif melalui statistik angka. Ada anak yang awalnya malu memegang buku, kemudian berani membaca di depan teman-temannya. Ada anak yang semula tidak pernah menulis, kemudian mulai mencatat pengalaman hidupnya. Ada pula warga yang awalnya datang sekadar untuk berkumpul, lalu perlahan menemukan kesenangan membaca dan belajar. Perubahan-perubahan kualitatif semacam itulah yang sering menjadi buah nyata dari kerja literasi.
Jadi, sudah benar, bahwa tidak ada sukses tanpa proses.
Kesuksesan dalam gerakan literasi juga tidak sepatutnya diukur sebatas skala fisik, seperti komunitas yang mendadak besar, memiliki banyak anggota, sering diliput media, atau meraih pelbagai penghargaan. Kesuksesan yang hakiki bisa jadi jauh lebih substantif: ketika sebuah buku tepat menemukan pembacanya, ketika seorang anak menemukan rasa percaya dirinya, ketika seseorang berani menulis untuk pertama kalinya, atau ketika sebuah keluarga mulai menghidupkan tradisi membaca bersama di rumah.
Semua pencapaian itu lahir dari konsistensi, kerja keras, dan kesabaran.
Maka, jangan takut menghadapi kegagalan. Kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari proses belajar. Kegiatan yang sepi pengunjung bukan berarti gerakan itu gagal total. Program yang belum berjalan sesuai rencana bukan alasan untuk menghentikan perjuangan. Justru komunitas yang pernah mengalami pasang surut memiliki kedewasaan dan pengalaman yang membuat pengelolanya semakin matang.
Dalam perjalanan ini, pegiat literasi juga perlu bijak untuk tidak terjebak dalam perangkap membandingkan diri secara tidak seimbang dengan komunitas lain. Setiap gerakan memiliki garis start dan jalannya masing-masing. Setiap komunitas mempunyai karakteristik, tantangan, ketersediaan sumber daya, dan lingkungan sosial yang berlainan. Fokuslah pada peningkatan kualitas diri dan perkembangan internal komunitas, bukan sekadar mengejar tampilan luar demi pengakuan orang lain.
Jika hari ini baru mampu melakukan satu kegiatan kecil, lakukanlah dengan sungguh-sungguh, terukur, dan terencana. Jika baru mampu mengumpulkan beberapa eksemplar buku, rawat dan manfaatkan buku-buku itu sebaik mungkin. Jika baru ada beberapa anak yang datang, layani mereka dengan sepenuh hati. Gerakan yang berdampak luas sering kali berakar dari langkah-langkah kecil yang dikerjakan secara konsisten.
Jangan mudah menyerah hanya karena perjalanan terasa berat.
Doa menjadi penguat ketika tenaga mulai melemah, sementara ikhtiar menjadi jalan nyata menuju tujuan. Keduanya harus berjalan beriringan secara seimbang. Berdoa tanpa usaha hanya akan menjadi angan-angan pasif. Sebaliknya, bekerja keras tanpa melibatkannya dengan dimensi spiritual dapat membuat manusia terjerat kesombongan dan rentan stres ketika hasil tidak sesuai harapan.
Kalimat “Bismillah” pada awal lagu tersebut mengandung makna yang dalam. Setiap niat dan pekerjaan baik sepatutnya diawali dengan menyebut nama Allah SWT. Setelah itu, manusia menjalankan ikhtiar terbaiknya, lalu bertawakal melepaskan hasilnya kepada-Nya.
Begitu pula dalam gerakan literasi. Jangan menuntut hasil instan. Rawatlah prosesnya, bangun kepercayaan publik, jaga semangat kebersamaan, serta teruslah belajar, membaca, menulis, dan kegiatan kreatif lainnya, serta ajak orang lain untuk melakukan hal serupa jika itu passion-nya.
Ketika suatu hari hasil manis atau pengakuan itu datang, tetaplah rendah hati. Ingatlah selalu bahwa ada proses panjang yang pernah dilalui, ada tangan-tangan orang lain yang turut membantu, ada air mata dan kegagalan yang pernah menjadi guru terbaik, serta ada doa dan kesabaran yang diam-diam menguatkan setiap langkah.
Percayalah, setiap usaha yang jujur dan berproses baik akan membawa hasil terbaik, meski hasil itu kadang datang dalam bentuk atau waktu yang tidak kita duga sebelumnya. Tetaplah bersyukur dalam setiap keadaan, karena Allah SWT mencintai hamba-Nya yang terus berusaha dan tidak mudah putus asa.
Seperti pesan dalam lagu tersebut: “tidak ada sukses tanpa proses”. Melalui proses itulah kita betul-betul ditempa menjadi manusia yang lebih kuat, sabar, dan bermanfaat bagi sesama. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah























































