Oleh Neng Lilis Nuraeni

TIGA pria berseragam lusuh muncul ketika hujan reda dan langit mulai menua. Mereka duduk di bangku paling ujung dekat tiang penyangga. Salah satu dari mereka menghampiriku, minta dibuatkan tiga cangkir kopi. Satu tanpa gula, satu memakai parutan gula merah, dan satu lagi dengan takaran dua banding satu.

Ketiganya bukan warga daerah sekitar sini. Mereka hanyalah orang asing yang kebetulan lewat di warung kopi milikku. Dari pakaian yang mereka kenakan, aku menebak mungkin mereka adalah veteran yang sedang reuni. Namun, entah mengapa aku merasa familiar dengan wajah-wajah itu. Mungkin kami pernah berpapasan di suatu tempat.

“Negeri ini tak seperti dulu,” begitu kalimat yang kudengar dari salah satu di antara mereka. Pria berkacamata yang duduk menghadap jalan raya. Matanya menatap sisa gerimis yang jatuh di ujung asbes.

“Ya. Air hujannya pun tak sesejuk dulu lagi. Hanya menyebarkan virus-virus!” Ujar yang lain. Lelaki ini mungkin beberapa tahun lebih tua umurnya. Berponi jambul dengan seragam cokelat lusuh. Tangannya sibuk meracau kopi tanpa gula miliknya.

“Begitulah! Mungkin benih yang kita tabur dulu, tumbuh dengan akar yang tidak begitu kuat,” gumam yang termuda. Tahi lalat di keningnya membuat siapa pun mudah mengingat lelaki nyentrik itu. Si pemesan kopi takaran dua banding satu.

“Miris. Sungguh miris! Kadang aku berpikir, mungkinkah sekarang ini kita berada di negeri lain? Negeri yang permukaan tanahnya saja yang mirip dengan tanah air kita?” Tanya lelaki berkacamata.

Yang lain terdiam. Mereka sibuk menikmati kopi masing-masing. Cuaca sore ini memang membuat kantuk lebih cepat datang. Mungkin karena itulah ketiganya singgah dan memesan kopi.

Kulirik tiga sepeda yang terparkir di depan warungku. Ah, sepeda-sepeda itu mengingatkanku pada sepeda onthel milik kakek di kampung.

Saat kecil dulu, aku biasa mengendarai sepeda kakek jika pergi sekolah atau mengaji ke madrasah. Meski kakiku harus bersusah payah menggoes pedal yang tingginya tak sebanding dengan panjang kakiku, tetapi aku merasa senang dan bangga bisa mengendarainya. Sebab baru kakek saja yang memiliki sepeda onthel di kampung kami waktu itu.

Sama seperti sepeda milik kakek, meski sudah aus, tetapi ketiga sepeda yang terparkir di depan warungku masih tampak terawat dengan baik.

“Akhir-akhir ini berita yang muncul di tipi makin aneh saja. Ndak masuk akal. Kalian menonton berita beberapa hari lalu? Seperti guyonan ludruk, bikin geleng-geleng kepala. Mataku saja sampai berkaca-kaca,” Ujar pria berjambul.

Baca Juga :  70 Tahun Prof. Jimly Asshidiqie Dalam Pandangan Sahabat Matakin

Yang lain mendesah bersamaan.
Angin bertiup semilir. Menambah rasa dingin setelah kota diguyur hujan.

“Ya. Berita yang membuatku tak henti-henti mengelus dada,” lelaki berkacamata meletakkan cangkir kopinya.

“Bagaimana tidak? Agustus baru lewat. Umbul-umbul pun belum juga ditanggalkan. Namun, mereka tak ubahnya bocah-bocah dalam perlombaan tujuh-belasan. Berebut naik ke atas pohon pinang!” lelaki bertahi lalat di kening geleng-geleng kepala. Menyesap perlahan kopi di cangkirnya.

Aku mendekati meja mereka. Kuletakkan sepiring singkong goreng di hadapan ketiganya.

“Kami tidak memesan ini, Nak!” Ujar lelaki berjambul.

“Tidak apa, Pak. Ini gratis. Kebetulan mertua saya sedang panen singkong. Secangkir kopi memang afdal kalau ditemani singkong goreng, bukan?” jawabku yang kemudian meninggalkan mereka.

Ada sedikit rasa bersalah, karena obrolan mereka sempat terhenti karena kehadiranku yang tiba-tiba.

“Wah, terima kasih, Nak! Kami memang kangen makanan seperti ini. Sudah terlalu lama lidah kami tak merasakan pulen-nya singkong. Ah, dulu singkong jarang dimasak pakai minyak. Susah dapat minyak waktu itu, meski kita punya uang. Jadinya ya cuma direbus atau dipendam di bawah bara api saja. Namun jangan salah, meski cuma direbus, tetapi rasanya tidak kalah dengan olahan yang digoreng. Sama-sama mantap!” seru lelaki bertahi lalat mengacungkan jempol. Yang lain hanya terkekeh.

Aku membalas mereka dengan senyuman. Lalu, sengaja menyibukkan diri membereskan gelas di meja lain. Runi, istriku, sedang mengantar anak bungsu kami mengaji. Anak itu sebenarnya sudah jarang diantar, tetapi karena tadi hujan lebat, istriku yang mudah khawatir, bersikeras mengantarnya (meski awalnya mengalami penolakan karena si bungsu tak mau diantar).

“Sekarang ini, tikus-tikusnya semakin banyak dan sudah tak tahu malu, apalagi takut dosa! Apa pun mereka makan. Bahkan, sesuatu yang tak pantas dimakan pun mereka makan. Ah, ngeri aku!” lelaki berjambul mengambil sebiji singkong. Dikunyahnya perlahan. Seolah takut kehilangan rasa nikmatnya.

“Sesuatu yang tak pantas dimakan?” Pria bertahi lalat mengernyitkan kening.

“Tahi! Apa lagi?” Lelaki berjambul tersenyum sinis. “Bahkan, saking hausnya, ludah sendiri pun mereka jilat!”

“Separah itu?” Giliran pria berkacamata geleng-geleng kepala.

“Pertiwi kita memang sedang tidak baik-baik saja. Lebih parah dari yang kita alami dulu. Kalau dulu kita berjuang melawan penjajah dan kebodohan, tetapi sekarang lebih buruk lagi. Bertikai dengan saudara sendiri, bahkan mau saja dibodoh-bodohi.”

Baca Juga :  Suara Imajiner ‘Sempurna’ yang Mati Akibat Asap Karhutla

“Benar, bahkan di negeri kita yang kaya ini, penduduknya malah banyak yang hidup melarat! Ibarat kata tikus mati di lumbung padi. Ah… mungkin semua yang kita perjuangkan dulu sia-sia belaka,” tambah pria bertahi lalat dengan sedih.

“Hei, siapa bilang sia-sia? Tidak ada yang sia-sia. Saat itu kita sudah melakukan apa yang sepatutnya kita perbuat sebagai pemuda dan manusia. Keadaan carut-marut sekarang ini bukanlah salah kita, melainkan kelalaian dan ambisi mereka yang tak kenal rasa syukur. Lalu, buat apa anak-anak itu belajar sejarah? Sedih rasanya, jika perjuangan para pahlawan dahulu hanya dijadikan teori dalam ilmu pengetahuan di sekolah. Hanya sebatas dipelajari dan dikagumi!” Si pria berkacamata bicara panjang lebar.

“Atau kita gagal menjadi panutan?” tanya si lelaki bertahi lalat lagi.

“Kita tidak gagal. Seperti yang kubilang tadi, sekarang ini tikus-tikusnya sudah kebal dan semakin pintar!” tandas pria berjambul.

“Pintar mengakali!” tambah lelaki berkacamata sembari menyeruput sisa kopi.

Pria berjambul mengangkat bahu. Sedangkan lelaki bertahi lalat di kening hanya tersenyum getir.

Hari semakin sore. Pria berkacamata melambaikan tangan, memintaku untuk mendekat. Disodorkannya selembar uang yang tampak asing. Seperti pecahan uang beberapa dekade lalu. Keningku mengernyit.

Ketiga lelaki itu memang masih tampak gagah dan segar bugar. Namun, usia mereka sepertinya sudah sangat senja. Aku menghela napas. Faktor usia kadang-kadang bisa membuat seseorang keliru. Aku tak mau ambil pusing. Kuterima saja selembar uang pecahan bertulis ‘Seratus Rupiah’ dari pria berkacamata yang kali ini sibuk membetulkan letak pecinya.

Melihat aku masih tercenung, pria berkacamata menepuk bahuku, “Tidak apa. Kembaliannya buatmu saja. Hitung-hitung penglaris. Ya meski sudah terlambat karena sore sudah hampir berakhir,” pria berkacamata terkekeh.

“Oh, ya. Terima kasih banyak, Pak!” Ucapku merasa tidak enak atau lebih tepatnya, bingung, sebab aku tak tahu berapa nominal yang harus menjadi kembalian dengan uang seratus rupiah itu.

Ketiganya kemudian bangkit. Sebelum pergi, pria berkacamata kembali menepuk bahuku, “Mumpung masih dalam euphoria peringatan hari proklamasi kemerdekaan, ingatlah satu hal, Nak! Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat. [1] Jika kebahagiaan dan kemakmuran rakyat belum tercapai, itu artinya merdeka masih sekadar tulisan di atas kertas belaka.”

Baca Juga :  Memungut Iktibar di Lorong Museum Tsunami

Belum sempat aku mengerti makna dari kata-kata pria berkacamata, mereka keburu pergi. ketiganya melaju beriringan sambil mengayuh sepeda onthel. Membelah jalan menuju ke arah barat dan menghilang di tengah asap knalpot kendaraan lain.

Uang pecahan seratus rupiah di tangan menari-nari ditiup angin. Apa yang ketiga lelaki itu obrolkan masih belum bisa sepenuhnya tercerna oleh otak dan nalarku. Siapa orang-orang itu? Dan dari mana mereka berasal?

Kutatap lekat uang di tangan. Siapa tahu ada yang bisa kutangkap dari simbol angka 100 yang tertera di sana. Namun, sampai keningku keriting, aku sama sekali tak bisa menangkap makna yang tesirat dari ucapan lelaki berkacamata tadi. Lalu, saat aku mengangkat kepala, jalanan menjadi benar-benar sepi. Seakan ketiga orang tadi tak pernah benar-benar singgah ke warungku hanya untuk sekadar bercengkerama tentang negeri yang mulai lupa pada sejarah seperti tiga cangkir kopi yang tak lagi menyisakan aroma perjuangan di sisa ampasnya.

Uang pecahan seratus rupiah bertuliskan tahun 1960 warnanya memudar. Kupendarkan pandangan. Aku terpaku. Di ujung barat sana, tepat di arah ketiga orang itu menghilang, langit mulai berwarna oranye.[]

[1] Tirto.id, Quotes-Quotes Mohammad Hatta: Kata Bijak dan Motivasi dari Bung Hatta

Neng Lilis Nuraeni. Lahir dan tinggal di Subang, Jawa Barat. Juara 1 Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Jawa Barat 2023 (Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat). Pemenang Pilihan Lomba Menulis Hari Kartini 2025, yang diselenggarakan Vape Fumakilla. Lolos kurasi dan diundang mengikuti Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT) 2024, yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi dan Dewan Kesenian Blambangan. Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen yang diselenggarakan Romansa Universe (2021), Riau. Tiga buku yang telah terbit di antaranya: Kekasih Sang Pendosa, Romansa Universe (Riau, 2021), Telisik Macula, Hyang Pustaka (Cirebon, 2023), Kumpulan Cerita Pendek RIAK, Hyang Pustaka (Cirebon, 2024, Satu novel online Gairah Bahu Laweyan (Novelme).

Penulis: Neng Lilis Nuraeni
Editor: Adisman Libra

Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL
FEATURE STORY

Birokrasi · Aparatur · Indonesia 2045

BerAKHLAK Menjiwai Birokrasi TR Fahsul Falah Menuju Indonesia Emas 2045

Perjalanan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, pengembangan kompetensi aparatur, dan nilai dasar ASN dalam kerangka pembangunan nasional.

Cerita TR · Perjalanan Kedinasan

InsertRakyat.com — TR Fahsul Falah menjalani tiga penugasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri sepanjang 2018–2022, mulai dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, hingga Sekretariat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri. Perjalanan kedinasannya kemudian berlanjut ke bidang strategi kebijakan. Saat ini, Oktober 2026, ia menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik pada Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri.

Pada 2018–2020, TR bertugas sebagai Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Jabatan Fungsional, Pelaksana, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, DPRD, dan Lurah di PPSDM Kemendagri Regional Bandung. Pada 2019, ia mengikuti Training of Facilitator untuk Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dengan Agenda ANEKA. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan untuk PNS yang beralih melalui mekanisme inpassing ke jabatan fungsional Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah.

Pada 2020, TR mendapat penugasan sebagai Kepala PPSDM Kemendagri Regional Makassar. Wilayah kerja lembaga tersebut mencakup sepuluh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Salah satu kegiatan pada masa penugasan itu ialah Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan III yang berlangsung pada 15 September hingga 18 Desember 2020 dengan metode blended learning. Pesertanya berasal dari Kabupaten Bone, Bantaeng, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara. TR menyampaikan laporan penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Pada November 2020, ia juga terlibat dalam evaluasi program dan pembahasan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2021 bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian evaluasi program dan perencanaan anggaran di lingkungan PPSDM Kemendagri Regional Makassar.

Pada 2022, TR mengemban tugas sebagai Sekretaris BPSDM Kemendagri. Penugasan berikutnya membawanya ke BSKDN Kemendagri, tempat ia kini menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik. Bidang tugas tersebut berkaitan dengan strategi kebijakan pemerintahan dalam urusan kewilayahan, kependudukan, dan pelayanan publik.

Perjalanan kedinasan tersebut berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan nasional yang terus berkembang. Sejak kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh presiden dengan agenda, kebijakan, dan tantangan yang berbeda pada setiap masa pemerintahan. Pembangunan nasional berjalan melalui rangkaian keputusan dan program yang dilaksanakan oleh lembaga negara serta aparatur pemerintahan.

Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2016 di hadapan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden RI ke-7 Joko Widodo menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi para presiden terdahulu, yakni Presiden RI ke-1 Soekarno, Presiden RI ke-2 Soeharto, Presiden RI ke-3 B.J. Habibie, Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2025, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto juga menguraikan kontribusi para pemimpin sebelumnya. Presiden RI ke-1 Soekarno dikaitkan dengan pembentukan Republik Indonesia, upaya mempertahankan keutuhan wilayah, dan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI. Pada masa Presiden RI ke-2 Soeharto, agenda pemerintahan mencakup pembangunan ekonomi, swasembada pangan, dan industrialisasi.

Presiden RI ke-3 B.J. Habibie memimpin Indonesia ketika negara menghadapi krisis multidimensi pada 1998, termasuk persoalan stabilitas ekonomi dan pengembangan teknologi. Pada masa Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, stabilitas nasional serta hubungan antarkelompok masyarakat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan. Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri memimpin pada masa pemulihan ekonomi dan penguatan kelembagaan negara, termasuk menjelang pelaksanaan pemilihan presiden secara langsung pada 2004.

Pada masa Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah menangani penyelesaian konflik Aceh dan menghadapi krisis keuangan global. Presiden RI ke-7 Joko Widodo menempatkan pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan penanganan pandemi Covid-19 sebagai bagian penting dari agenda nasional. Sementara itu, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto mengangkat ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan, dan pencapaian Indonesia Emas 2045 sebagai agenda pembangunan.

Pelaksanaan agenda nasional tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan. Aparatur sipil negara (ASN) menjalankan tugas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, pengelolaan administrasi dan anggaran, hingga pelayanan kepada masyarakat. Di tingkat pusat maupun daerah, pekerjaan aparatur menjadi bagian dari proses pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Nilai dasar ASN

Dalam penyelenggaraan tugas tersebut, nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi pedoman perilaku aparatur. Nilai ini ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021. BerAKHLAK mencakup tujuh nilai dasar, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif, dengan semboyan “Bangga Melayani Bangsa”.

Berorientasi Pelayanan menekankan pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang sesuai ketentuan. Akuntabel berkaitan dengan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas, penggunaan kewenangan, dan pengelolaan sumber daya. Kompeten menekankan penguasaan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Harmonis berkaitan dengan penghormatan terhadap perbedaan dan hubungan kerja yang baik.

Loyal berarti memegang teguh Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta pemerintahan yang sah sesuai ketentuan. Adaptif berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kolaboratif menekankan kerja sama antarpihak dalam pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan organisasi.

Ketujuh nilai tersebut menjadi bagian dari kerangka perilaku ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan. Penerapannya berkaitan dengan tata cara memberikan pelayanan, mempertanggungjawabkan pekerjaan, meningkatkan kompetensi, menjaga hubungan kerja, memegang teguh ketentuan, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta membangun kerja sama.

Dalam perjalanan kedinasan TR Fahsul Falah, penugasan di PPSDM Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, Sekretariat BPSDM Kemendagri, dan BSKDN Kemendagri tercatat dalam rentang tugas yang berbeda. Masing-masing berada pada lingkungan kerja dengan ruang lingkup tanggung jawab yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi aparatur, administrasi kelembagaan, dan strategi kebijakan pemerintahan.

Indonesia Emas 2045 merupakan sasaran pembangunan jangka panjang yang mencakup berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia, perekonomian, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik. Pencapaiannya melibatkan peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam lingkup pemerintahan, ASN menjalankan tugas sesuai kedudukan, kewenangan, dan tanggung jawabnya.

Nilai dasar BerAKHLAK menjadi salah satu pedoman bagi ASN dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut. Semboyan “Bangga Melayani Bangsa” melekat pada agenda penguatan budaya kerja aparatur, sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari berlangsung melalui prosedur, program, koordinasi, dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan. Dalam kerangka pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, birokrasi menjadi bagian dari pelaksanaan agenda nasional melalui pekerjaan aparatur di setiap tingkat pemerintahan.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL · MOBILE EDITION
TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com

Literasi

Bilik Elipsis | InsertRakyat.com

Bilik Elipsis

Sastra, sajak, cerita, dan apresiasi karya.

Karya Pilihan

Ruang Sastra