Oleh Muhammad Subhan

NGOBROL bersama kawan-kawan pegiat literasi itu asyik. Banyak cerita, banyak gagasan, dan banyak pula yang menguatkan gerakan. Pokoknya seru.

Beberapa hari ini, saya berada di Kabupaten Pasaman Barat, bertemu para pegiat yang mengelola komunitas literasi sebagai basis gerakan di sela-sela kesibukan kerja. Mereka bukan pengangguran, tapi mau meluangkan waktu mengurus literasi.

Menyinggahi Pasaman Barat tak pernah terasa asing bagi saya. Di kaki Gunung Talamau, pasak bumi negeri rancak ini, tepatnya di Kampuang Pasia, Kajai, ibu saya berasal. Setiap kali ke Pasaman Barat, saya menyebut sebagai pulang ke kampung halaman.

Pasaman Barat pula yang melahirkan ide novel fiksi perjalanan pertama saya yang terbit tahun 2011, Rinai Kabut Singgalang. Tebalnya 420 halaman. Ini buku paling tebal yang pernah saya tulis, dengan benih gagasan yang saya simpan sejak 35 tahun lampau. Setelah itu, karya-karya saya lainnya tidak ada yang setebal itu. Memang tidak mudah merawat napas untuk menulis buku tebal.

Kantong literasi pertama yang saya singgahi kemarin adalah Rumah Baca Carano Kato. Ini rumah baca yang baru tumbuh, binaan Sekolah Menulis elipsis. Pengelolanya seorang ‘cekgu’, Devi Indra, S.Pd., yang akrab dengan anak-anak. Lokasinya berada di tengah perkebunan sawit luas. Karena masih baru, koleksi bukunya masih terbatas.

Anda yang ingin mengambil bagian membantu, pintu donasi terbuka—baik buku baru maupun bekas tapi layak baca, kirim saja ke sini. Buku-buku itu akan disambut gembira anak-anak usia SD dan SMP di rumah baca ini yang haus bacaan.

Sebagai rumah baca baru, saya didampingi novelis Joel Pasbar yang berasal dari Timbo Abu datang memberi motivasi. Meski ketersediaan buku anak masih sedikit, beragam kegiatan alternatif tetap bisa menjadi penguat, seperti membaca nyaring, mendongeng, menulis cerita, menulis puisi, permainan kata, mengenalkan budaya lokal, hingga mengajak anak-anak memetakan cita-cita dan persoalan lingkungan mereka.

Rumah baca tak boleh hanya dibayangkan sebagai tempat menumpuk buku lalu anak-anak datang membaca. Rumah baca dapat menjadi ruang tumbuh. Buku adalah pintu masuknya. Setelah pintu terbuka, anak-anak diajak berbicara, bertanya, menulis, berkarya, serta memahami lingkungan tempat mereka hidup.

Saya yakin, setelah ngobrol kemarin, Rumah Baca Carano Kato akan makin hidup program-program kreatifnya.

Selepas dari Rumah Baca Carano Kato, kami bertolak ke Ujung Gading, menuju TBM Pondok Buku Olalaa yang dikelola Sumira Putri, S.Pd., seorang pegiat perempuan yang gigih.

Saat ini TBM Pondok Buku Olalaa mendapatkan dukungan dana penguatan komunitas dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Beberapa agenda digelar, salah satunya Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Budaya Lokal Pasaman Barat. Saya diundang sebagai salah seorang narasumber.

Tentu, kita bersyukur program pemerintah dapat menyentuh komunitas di akar rumput. Di Pasaman Barat, taman bacaan terus bertumbuh, dan beberapa di antaranya juga pernah menerima dukungan serupa pada tahun-tahun sebelumnya.

Namun, dukungan pemerintah—betapapun berharganya—tidak boleh dijadikan satu-satunya bahan bakar gerakan. Ketergantungan pada stimulus finansial sering kali membuat komunitas ambruk saat program selesai. Komunitas literasi harus mengakar kuat di tengah masyarakat. Perlu relawan yang tangguh, pengelola yang tahan banting dalam jangka panjang, serta jejaring yang kokoh dengan sekolah, nagari, orang tua, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga pemerintah daerah.

Dalam sesi ngeteh telur dan ngobrol literasi bersama pegiat Pasaman Barat yang juga dihadiri Ketua Forum Pegiat Literasi (FPL) Pasaman Barat, Denni Meilizon, ada satu hal yang menarik dibicarakan, bahwa FPL Pasaman Barat sedang berupaya mencapai target menghadirkan 900 kantong literasi di daerah ini. Angka itu besar, dan membutuhkan waktu serta daya tahan yang tidak sedikit untuk mewujudkannya. Tapi saya tahu dan kenal dekat Denni Meilizon. Dia pegiat yang sudah banyak makan asam garam di dunia literasi. Saya percaya cita-cita itu mampu ia wujudkan, tentu didukung banyak pihak.

Dan, kalkulasi FPL Pasaman Barat masuk akal. Jika di kabupaten ini ada 90 nagari, dan di setiap nagari tumbuh minimal 10 komunitas literasi, target 900 kantong literasi bukanlah mustahil.

Kantong literasi ini tidak harus seragam. Bentuknya bisa berupa taman bacaan masyarakat, perpustakaan nagari/desa, perpustakaan kelurahan/jorong, perpustakaan masjid/surau, rumah baca keluarga, komunitas menulis, dan lainnya.

Bentuknya boleh beda, namanya boleh tak sama, dan metode gerakannya adaptif sesuai kebutuhan setempat. Yang terpenting, ada aktivitas yang nyata, inklusif, berkelanjutan, serta memberi dampak langsung.

Dan gerakan FPL Pasaman Barat ini patut didukung. Semoga semangat dan cita-cita itu dapat terus dirawat, di samping tetap menguatkan apa yang telah tumbuh selama ini di Pasaman Barat. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah