Oleh Asril Muchtar
KESENIAN Irama Minang (KIM) merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, khususnya di Sumatera Barat. Dalam praktiknya, KIM memadukan unsur musik, vokal, pantun, permainan angka, humor, komunikasi lisan, dan partisipasi masyarakat ke dalam sebuah pertunjukan yang bersifat interaktif. Berbeda dengan pertunjukan musik yang berorientasi pada penyajian artistik semata, KIM menempatkan keterlibatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan peristiwa pertunjukan. KIM lebih tepat dipahami sebagai praktik budaya yang mengintegrasikan dimensi musikal, sosial, dan komunikatif dalam satu kesatuan pengalaman kolektif.
Istilah KIM merupakan akronim dari Kesenian Irama Minang, yaitu sebuah bentuk hiburan rakyat yang berkembang dari tradisi permainan angka yang kemudian dipadukan dengan lagu-lagu Minang dan pertunjukan musik. KIM tidak hanya merujuk pada permainan itu sendiri, tetapi juga mencakup keseluruhan sistem pertunjukan yang melibatkan pendendang, pemusik, pembawa acara, panitia, peserta permainan, serta masyarakat sebagai pendukung utama permainannya (Putra, Asril, & Sriwulan, 2019). KIM tidak hanya sekadar nama sebuah permainan, melainkan suatu bentuk seni pertunjukan yang memiliki karakteristik khas dalam budaya Minangkabau.
KIM memperlihatkan karakter yang berbeda dengan bentuk-bentuk seni pertunjukan lain di Minangkabau, ciri khasnya adalah menggabungkan musik dengan mekanisme permainan partisipatif. Interaksi antara pendendang dan peserta menjadi inti pertunjukan sehingga batas antara pemain dan penonton menjadi lebih cair. KIM lebih dekat dengan konsep seni pertunjukan partisipatoris dibandingkan dengan pertunjukan yang bersifat presentasional. Pertunjukan KIM menghadirkan musik, menciptakan ruang komunikasi antara pendendang/penyanyi dan masyarakat. Makna pertunjukan lahir melalui interaksi yang berlangsung selama acara, bukan semata-mata melalui kualitas musikal yang diperdengarkan.
Permainan KIM pada masa lalu sangat identik dengan pertunjukan berhadiah dengan syarat setiap peserta harus membeli kupon yang disediakan oleh panitia penyelenggara pertunjukannya. Kupon-kupon itu bertuliskan sejumlah angka berderet horizontal yang akan disilang atau ditandai dengan benda kecil atau sejenisnya. Harga kupon perlembarnya relatif terjangkau oleh para peminat. Panitia memberikan “iming-iming” hadiah yang sangat besar berupa sejumlah benda seperti kipas angin, perkakas rumah tangga, barang-barang elektronik, sepeda, hingga sepeda motor yang bila dikonversi lumayan besar nominal rupiahnya.

Namun, pertunjukan KIM kala itu merupakan kelindan antara hiburan dan bisnis, pihak penyelenggara dengan perhitungan yang cermat, hadiah besar hanya digunakan sebagai pemancing minat peserta agar tertarik bermain KIM. Biasanya, pertunjukan KIM akan berlangsung sekitar dua jam lebih, hadiah yang bisa ditarik oleh peserta hanyalah hadiah dengan nominal kecil hingga sedang saja. Hadiah yang besar seperti sepeda motor, tidak ada yang mendapatkannya, kemungkinan besar tidak akan diberikan. Tentu saja dengan berbagai perhitungan untung-rugi oleh panitia. Mereka sudah memiliki catatan sendiri biaya rutin operasional seperti perangkat musik, sound system, penyanyi, hingga sewa tempat pertunjukan, dan lain sebagainya.
Pengalaman ini masih membekas dalam memori penulis di sekitar tahun 1980-an, KIM menjadi pertunjukan yang sering dilakukan di Pariaman, khususnya pada hari minggu dan hari liburan lainnya. Para penonton sebagian datang hanya menyaksikan pertunjukan KIM dan sebagian lainnya menjadi peserta permainan. Mereka sangat menikmati liburan yang sangat asik, kocak, interaktif, dan ‘cair’ yang dihibur oleh penyanyi terkenal. Mereka berlibur sambil menikmati pertunjukan. Adapun yang menjadi motivasi bagi mereka adalah menikmati pertunjukan hiburan KIM dengan ganjaran hadiah.
Selain itu, motivasi peserta bertambah antusias, jika dinyanyikan oleh penyanyi yang mereka kenal dan idolakan. Penyanyi KIM adalah orang yang sangat pintar, mahir menguasai berbagai lagu-lagu Minang, pop, dan lagu yang khas dinyanyikan dalam pertunjukan KIM. Kecerdasan penyanyi KIM tidak hanya sebatas menguasai lagu dan liriknya, tetapi yang lebih utama adalah merangkai kata dan kalimat menjadi sampiran dan isi pantun yang bermuara pada angka-angka. Bagi peserta, sembari mendengarkan musik dan lirik/pantunnya, perhatian mereka lebih difokuskan tertuju pada sebutan angka-angka oleh penyanyi di akhir lirik atau pantun. Setiap angka yang disebutkan oleh penyanyi, akan ditandai dengan cara melingkari atau menyilang, jika nomor itu tersedia pada kupon mereka.
KIM bersifat adaptif terhadap perubahan sosial. Sejak awal kemunculannya, KIM mengalami berbagai transformasi, baik dalam penggunaan instrumen, repertoar lagu, sistem permainan, maupun teknologi pertunjukan. Perubahan tersebut tidak menghilangkan karakter dasar KIM sebagai seni pertunjukan rakyat yang menekankan partisipasi masyarakat. Kemampuan KIM beradaptasi, memungkinkan ia tetap bertahan dan diterima oleh berbagai generasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa tradisi bukanlah warisan yang statis, melainkan praktik yang terus mengalami negosiasi dan pembaruan sesuai dengan dinamika masyarakat.

Perubahan yang sangat terasa sekali adalah pertunjukan KIM yang diselenggarakan untuk hiburan oleh suatu komunitas, hiburan pesta perkawinan, dan jenis konteks hiburan lainnya, kupon tidak lagi dijual atau dibeli oleh peserta. Panitia menyediakan sejumlah kupon dan hadiah sebagai daya tarik dan perangsang pertunjukan KIM agar lebih meriah. KIM yang awalnya berkelindan antara hiburan dan bisnis—seperti berdok judi—saat ini tidak lagi seperti demikian. KIM bertransformasi menjadi hiburan interaktif yang mengasikkan dengan ganjaran hadiah.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, KIM juga mengalami perluasan bentuk, konsep, dan ruang pertunjukannya melalui pemanfaatan teknologi digital. Penggunaan instrumen elektronik, sistem tata suara modern, dokumentasi audiovisual, dan penyebaran pertunjukan melalui media sosial telah memperluas jangkauan audiens tanpa menghilangkan karakter partisipatifnya. Gejala dan fakta ini memperlihatkan bahwa KIM mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman sambil tetap mempertahankan unsur-unsur budaya yang menjadi identitasnya. Kemampuan beradaptasi tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menjelaskan keberlangsungan KIM di tengah perubahan pola hiburan masyarakat kontemporer.
Bagitu juga dengan para pesertanya, tidak ada lagi pembatasan yang hanya boleh diikuti oleh orang dewasa saja atau laki-laki dewasa saja. Saat ini, semua boleh mengikuti asalkan mengerti cara memainkannya. Praktik pertunjukan seperti ini sudah umum dilakukan terutama dalam memeriahkan perta perkawinan dan hiburan lainnya yang diselenggarakan oleh suatu komunitas, para pemuda, dan lain sebagainya.
KIM umumnya dipentaskan pada berbagai kegiatan sosial dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, seperti baralek (pesta perkawinan), alek nagari, peringatan hari besar, pesta rakyat, memeriahkan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Kehadirannya tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media mempererat hubungan sosial, memperkuat rasa kebersamaan, dan menciptakan ruang komunikasi antarwarga. Fungsi-fungsi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan KIM tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial dan budaya masyarakat pendukungnya. Musik menjadi sarana untuk membangun interaksi, sedangkan permainan menjadi mekanisme yang mendorong partisipasi aktif masyarakat.
KIM dapat dipahami sebagai seni pertunjukan rakyat yang mengintegrasikan musik, pantun, permainan, komunikasi, dan partisipasi masyarakat ke dalam satu praktik budaya yang dinamis. KIM bukan hanya media hiburan, tetapi juga arena interaksi sosial, ruang pembentukan makna, wahana pewarisan budaya, serta representasi identitas masyarakat Minangkabau. []
Asril (Asril Muchtar) adalah pemerhati dan peneliti seni pertunjukan, musik tradisi, dan kreasi khususnya di kawasan budaya Minangkabau; Guru Besar Kajian Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang.
Penulis: Asril (Asril Muchtar)
Editor: Muhammad Subhan
Catatan Redaksi:
BILIK ELIPSIS adalah ruang sastra/literasi yang dikelola Majalah Digital elipsis bersama Sekolah Menulis elipsis bekerja sama dengan koran digital InserRakyat.com. Terbit setiap pekan, menayangkan cerpen, puisi, dan esai terkurasi. Kirim naskah ke BILIK ELIPSIS via surel: majalahelipsis@gmail.com.




















































