Oleh Muhammad Subhan

SAYA terharu melihat ekspresi wajah Arkania Queen Al Ghany Oktal saat menunggu detik-detik pengumuman pemenang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) SMP/MTs Tingkat Nasional 2026, Jumat (2/10/2026). Kikan—demikian ia akrab disapa—didampingi sang ibunda, akhirnya dinobatkan sebagai Juara 1 Lomba Menulis Cerita pada kompetisi bergengsi yang disiarkan secara langsung melalui Zoom dan kanal YouTube Pusat Prestasi Nasional.

Mulanya, sambil memegang ponsel dan mengarahkannya ke layar Zoom di laptop, Kikan tersenyum menyimak nama-nama pemenang yang diumumkan mulai dari Juara Harapan III. Namun, hingga Juara Harapan I dibacakan dan namanya tak tersebut, kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. Ia tampak gelisah dan cemas.

Pun ketika Juara III dan II belum juga disebut namanya, ia mulai menangis dan menutup wajah dengan ujung jilbab. Ia bahkan meminta pulang. Sang ibunda memeluk tubuhnya, memberi kekuatan, dan memintanya menunggu untuk melihat siapa juara pertama. Kalaupun belum beruntung tahun ini, sang ibu memintanya bersabar dan mencoba lagi tahun depan.

Siapa sangka, ketika MC mengumumkan pemenang pemuncak, namanya keluar dan terpampang jelas di layar Zoom. Sebelumnya, ia sudah nyaris putus asa. Sang ibu seketika melonjak gembira, diiringi Kikan yang tak percaya melihat namanya disebut MC. Air matanya berubah menjadi senyum semringah.

“Adik-adik Sobat Prestasi yang ada di sini sudah siap… Saatnya kita umumkan siapa yang berhasil membawa pulang Medali Emas FLS3N Dikdas Tahun 2026 … Cabang Menulis Cerita, selamat kepada Arkania Queen Al Ghany Oktal dari SMP Negeri 1 Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat ….”

Baca Juga :  Keong Kerdil dan Kura-Kura Kecil

Saking gembiranya, kamera sang ibunda yang merekam momen bahagia itu sampai terjatuh. Saya melihat rekaman tersebut setelah sang ibu membagikannya di Instagram. Rekaman itu kemudian viral dan mendapatkan banyak komentar berisi ucapan selamat atas prestasi yang diraih Kikan.

Meski pengumuman berlangsung secara daring, Kikan telah menunjukkan kemampuan terbaiknya. Tahun lalu, kakak kelasnya, Alyathalataf Al Khaira, juga berada di panggung nasional FLS3N 2025 di Hotel Novotel, Jakarta. Saya ikut hadir mendampingi Alya. Saat itu, Alya harus berpuas diri berada di posisi enam besar atau Juara Harapan III.

Namun, Alya tetap pulang dengan kepala tegak sebab membawa kemenangan. Saat ini, Alya telah menyelesaikan pendidikannya di almamaternya, SMP Negeri 1 Padang Panjang.

Adik kelas Alya, Kikan, meneruskan jejaknya. Tahun ini, ia menunjukkan kemampuan terbaik dalam menulis cerita dan meraih medali emas. Ia menjadi salah seorang peserta yang membawa nama Sumatera Barat, khususnya Padang Panjang, di panggung prestasi nasional.

Kepala sekolah dan guru-gurunya turut mengucapkan selamat dan berbahagia karena Kikan mengharumkan nama sekolahnya. Dengan begitu, dua tahun berturut-turut SMP Negeri 1 Padang Panjang berhasil meraih prestasi pada FLS3N Tingkat Nasional.

Sebagai pendamping proses latihan Kikan, tentu saya juga berbahagia. Seperti halnya Alya, saya menemukan Kikan melalui proses latihan yang panjang. Kikan dan Alya tidak serta-merta ditunjuk untuk mewakili sekolah. Jauh sebelum kompetisi, keduanya melalui proses latihan yang terus-menerus.

Saya meminta sekolah melakukan penjaringan siswa yang memiliki minat menulis. Dari minat itu akan terlihat siswa yang memiliki bakat dan kemauan untuk dikembangkan. Pelatihan awal diikuti sekitar 15–20 siswa. Mereka diberikan pengenalan dasar menulis fiksi. Dari jumlah itu kemudian disaring menjadi sepuluh siswa. Dari sepuluh disaring kembali menjadi lima. Dari lima siswa tersebut dipilih dua siswa yang benar-benar menunjukkan minat dan bakat dalam menulis.

Baca Juga :  Ketika Harga-Harga Membengkak, Kita Bisa Apa?

Setelah menemukan calon siswa yang akan menjadi duta sekolah untuk kompetisi tingkat kota dan provinsi, kedua siswa tersebut mengikuti latihan rutin, minimal sepekan sekali. Setiap hari mereka juga diwajibkan membaca sedikitnya dua cerita pendek yang direkomendasikan. Membaca menjadi bagian penting dari latihan menulis. Dengan banyak membaca, siswa mengenal berbagai cara pengarang membangun tokoh, menyusun alur, memilih kata, menghidupkan latar, dan mengakhiri cerita.

Saya selalu percaya, anak yang ingin menulis harus terlebih dahulu menjadi pembaca yang tekun. Menulis tidak cukup hanya dengan menguasai teori. Keterampilan itu membutuhkan pengalaman membaca, kepekaan mengamati kehidupan, keberanian mengolah pengalaman, dan latihan yang berulang-ulang.

Di sinilah dukungan sekolah menjadi penting. Prestasi Kikan tidak lahir dalam satu malam atau dari kata ‘Simsalabim Abrakadabra’. Ada ruang yang diberikan sekolah kepada siswa untuk berlatih secara berkelanjutan. Ada guru yang mendampingi. Ada pelatih dari kalangan praktisi yang diundang. Ada orang tua yang memberi dukungan. Ada pula kemauan siswa sendiri untuk terus membaca dan menulis.

Iklim literasi di rumah juga tidak bisa diabaikan. Orang tua yang menyediakan buku, memberi kesempatan anak membaca, mendengarkan ceritanya, dan menghargai proses kreatifnya sedang membantu membangun kepercayaan diri anak. Anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang pandai menulis. Kadang-kadang ia hanya butuh orang tua yang mau mendengar ketika ia bercerita.

Baca Juga :  Melodi Tahtah Dibalik Kasus Febrie Kian Sengit

Begitu pula sekolah. Sekolah tidak cukup hanya mengumumkan siswa berprestasi setelah piala dan medali berada di tangan. Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem yang memungkinkan prestasi itu tumbuh. Pelatihan menulis, perpustakaan yang hidup, guru yang memberi ruang, komunitas literasi, serta kesempatan mengikuti berbagai ajang merupakan bagian dari proses tersebut.

Medali emas Kikan—meski saat esai ini ditulis benda itu belum sampai ke tangannya—pada hakikatnya bukan sekadar medali untuk sebuah perlombaan. Di baliknya ada proses panjang yang mempertemukan minat, latihan, pendampingan, dukungan keluarga, dan ruang belajar yang diberikan sekolah.

Saya berharap kemenangan ini tidak membuat Kikan berhenti menulis. Justru medali emas itu seharusnya menjadi pintu menuju perjalanan yang lebih panjang. Kemampuan menulis kreatif yang ditekuni Kikan hari ini kelak tidak hanya berguna ketika mengikuti lomba semata. Kemahirannya itu akan mendukung pembelajaran di jenjang pendidikan berikutnya. Lebih jauh lagi, kemampuan tersebut akan tetap berguna ketika ia memasuki dunia pekerjaan.

Hari ini Kikan menunjukkan prestasinya yang membanggakan untuk Padang Panjang. Kelak, semoga ia membawa lebih banyak cerita dari kota kecil ini ke tempat yang lebih jauh; sejauh-jauhnya.

Dan saya tetap percaya, setiap anak memiliki ceritanya sendiri. Tugas kita bukan memaksanya menjadi penulis, tapi membuka jalan lebih lebar agar ia berani menemukan dan menuliskan ceritanya sendiri, lalu membagikannya ke dunia.

Selamat, Kikan. Selamat SMP Negeri 1 Padang Panjang. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL
FEATURE STORY

Birokrasi · Aparatur · Indonesia 2045

BerAKHLAK Menjiwai Birokrasi TR Fahsul Falah Menuju Indonesia Emas 2045

Perjalanan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, pengembangan kompetensi aparatur, dan nilai dasar ASN dalam kerangka pembangunan nasional.

Cerita TR · Perjalanan Kedinasan

InsertRakyat.com — TR Fahsul Falah menjalani tiga penugasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri sepanjang 2018–2022, mulai dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, hingga Sekretariat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri. Perjalanan kedinasannya kemudian berlanjut ke bidang strategi kebijakan. Saat ini, Oktober 2026, ia menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik pada Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri.

Pada 2018–2020, TR bertugas sebagai Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Jabatan Fungsional, Pelaksana, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, DPRD, dan Lurah di PPSDM Kemendagri Regional Bandung. Pada 2019, ia mengikuti Training of Facilitator untuk Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dengan Agenda ANEKA. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan untuk PNS yang beralih melalui mekanisme inpassing ke jabatan fungsional Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah.

Pada 2020, TR mendapat penugasan sebagai Kepala PPSDM Kemendagri Regional Makassar. Wilayah kerja lembaga tersebut mencakup sepuluh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Salah satu kegiatan pada masa penugasan itu ialah Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan III yang berlangsung pada 15 September hingga 18 Desember 2020 dengan metode blended learning. Pesertanya berasal dari Kabupaten Bone, Bantaeng, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara. TR menyampaikan laporan penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Pada November 2020, ia juga terlibat dalam evaluasi program dan pembahasan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2021 bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian evaluasi program dan perencanaan anggaran di lingkungan PPSDM Kemendagri Regional Makassar.

Pada 2022, TR mengemban tugas sebagai Sekretaris BPSDM Kemendagri. Penugasan berikutnya membawanya ke BSKDN Kemendagri, tempat ia kini menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik. Bidang tugas tersebut berkaitan dengan strategi kebijakan pemerintahan dalam urusan kewilayahan, kependudukan, dan pelayanan publik.

Perjalanan kedinasan tersebut berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan nasional yang terus berkembang. Sejak kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh presiden dengan agenda, kebijakan, dan tantangan yang berbeda pada setiap masa pemerintahan. Pembangunan nasional berjalan melalui rangkaian keputusan dan program yang dilaksanakan oleh lembaga negara serta aparatur pemerintahan.

Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2016 di hadapan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden RI ke-7 Joko Widodo menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi para presiden terdahulu, yakni Presiden RI ke-1 Soekarno, Presiden RI ke-2 Soeharto, Presiden RI ke-3 B.J. Habibie, Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2025, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto juga menguraikan kontribusi para pemimpin sebelumnya. Presiden RI ke-1 Soekarno dikaitkan dengan pembentukan Republik Indonesia, upaya mempertahankan keutuhan wilayah, dan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI. Pada masa Presiden RI ke-2 Soeharto, agenda pemerintahan mencakup pembangunan ekonomi, swasembada pangan, dan industrialisasi.

Presiden RI ke-3 B.J. Habibie memimpin Indonesia ketika negara menghadapi krisis multidimensi pada 1998, termasuk persoalan stabilitas ekonomi dan pengembangan teknologi. Pada masa Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, stabilitas nasional serta hubungan antarkelompok masyarakat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan. Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri memimpin pada masa pemulihan ekonomi dan penguatan kelembagaan negara, termasuk menjelang pelaksanaan pemilihan presiden secara langsung pada 2004.

Pada masa Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah menangani penyelesaian konflik Aceh dan menghadapi krisis keuangan global. Presiden RI ke-7 Joko Widodo menempatkan pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan penanganan pandemi Covid-19 sebagai bagian penting dari agenda nasional. Sementara itu, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto mengangkat ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan, dan pencapaian Indonesia Emas 2045 sebagai agenda pembangunan.

Pelaksanaan agenda nasional tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan. Aparatur sipil negara (ASN) menjalankan tugas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, pengelolaan administrasi dan anggaran, hingga pelayanan kepada masyarakat. Di tingkat pusat maupun daerah, pekerjaan aparatur menjadi bagian dari proses pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Nilai dasar ASN

Dalam penyelenggaraan tugas tersebut, nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi pedoman perilaku aparatur. Nilai ini ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021. BerAKHLAK mencakup tujuh nilai dasar, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif, dengan semboyan “Bangga Melayani Bangsa”.

Berorientasi Pelayanan menekankan pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang sesuai ketentuan. Akuntabel berkaitan dengan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas, penggunaan kewenangan, dan pengelolaan sumber daya. Kompeten menekankan penguasaan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Harmonis berkaitan dengan penghormatan terhadap perbedaan dan hubungan kerja yang baik.

Loyal berarti memegang teguh Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta pemerintahan yang sah sesuai ketentuan. Adaptif berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kolaboratif menekankan kerja sama antarpihak dalam pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan organisasi.

Ketujuh nilai tersebut menjadi bagian dari kerangka perilaku ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan. Penerapannya berkaitan dengan tata cara memberikan pelayanan, mempertanggungjawabkan pekerjaan, meningkatkan kompetensi, menjaga hubungan kerja, memegang teguh ketentuan, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta membangun kerja sama.

Dalam perjalanan kedinasan TR Fahsul Falah, penugasan di PPSDM Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, Sekretariat BPSDM Kemendagri, dan BSKDN Kemendagri tercatat dalam rentang tugas yang berbeda. Masing-masing berada pada lingkungan kerja dengan ruang lingkup tanggung jawab yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi aparatur, administrasi kelembagaan, dan strategi kebijakan pemerintahan.

Indonesia Emas 2045 merupakan sasaran pembangunan jangka panjang yang mencakup berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia, perekonomian, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik. Pencapaiannya melibatkan peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam lingkup pemerintahan, ASN menjalankan tugas sesuai kedudukan, kewenangan, dan tanggung jawabnya.

Nilai dasar BerAKHLAK menjadi salah satu pedoman bagi ASN dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut. Semboyan “Bangga Melayani Bangsa” melekat pada agenda penguatan budaya kerja aparatur, sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari berlangsung melalui prosedur, program, koordinasi, dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan. Dalam kerangka pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, birokrasi menjadi bagian dari pelaksanaan agenda nasional melalui pekerjaan aparatur di setiap tingkat pemerintahan.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL · MOBILE EDITION
TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com

Literasi

Bilik Elipsis | InsertRakyat.com

Bilik Elipsis

Sastra, sajak, cerita, dan apresiasi karya.

Karya Pilihan

Ruang Sastra