Oleh Muhammad Subhan

AWAL Oktober 2026 mendatang, jika tak ada aral melintang, penulis ratusan buku yang juga Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, menyinggahi Kota Padang Panjang, khususnya ke Komunitas Seni Kuflet. Kota kecil di kaki Gunung Singgalang dan Marapi ini menjadi salah satu lokus Safari Literasi Sumatera yang dilakoni penulis novel Balada Si Roy itu.

Bagi saya, Gol A Gong adalah sosok pegiat literasi tangguh yang terus berjalan seolah tak kenal lelah. Usai menjabat Duta Baca Indonesia periode 2021–2025, ia tetap bergerak mengisi ruang-ruang literasi di tengah keterbatasan anggaran dan program. Sepanjang 2026, ia rela mengemban amanah itu tanpa bayaran.

Agar bisa terus berjalan mengampanyekan membaca itu sehat, menulis itu hebat, ia tak sungkan merogoh isi sakunya sendiri, terutama dengan berjualan buku-buku karyanya.

Saya angkat topi kepada Gol A Gong yang sejak era 1990-an buku-bukunya sudah akrab di telinga saya.

Dan, pertama kali saya bertemu Gol A Gong ketika ia dengan senang hati menerima undangan saya datang ke Padang Panjang pada 2011, seiring terbitnya novel pertama saya, Rinai Kabut Singgalang. Bersama novelis Arafat Nur yang saat itu masih bermukim di Aceh, pada Ahad, 3 April 2011, di Graha Serambi Makkah Kota Padang Panjang, novel itu dibedah. Acara tersebut dihadiri lebih dari tiga ratus peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan masyarakat umum.

Setelah itu, beberapa kali saya bersua Gol A Gong di beberapa kota. Saya juga pernah menyambangi dan bermalam di Rumah Dunia yang ia dirikan di Banten. Saya melihat buku-buku di perpustakaannya, juga museum literasi yang dibangunnya.

Tahun 2018, Gol A Gong datang lagi ke Padang Panjang. Ia mampir ke dangau saya di kaki Singgalang dengan membawa “Generasi Jaguar” (istri dan ketiga anaknya). Ketika itu ia belum menjabat Duta Baca Indonesia. Tapi yang pasti, ia sudah berjalan dari kota ke kota di Indonesia, bahkan mancanegara.

Bagi saya, perjalanan Gol A Gong memperlihatkan satu hal penting tentang bagaimana gerakan literasi tidak selalu menunggu negara bergerak. Ketika ruang dukungan menyempit, ia tetap mencari jalan. Ia mendatangi sekolah, kampus, komunitas, perpustakaan, taman bacaan, hingga rumah-rumah masyarakat. Ia terus membawa buku dan cerita, berbicara pentingnya membaca dan menulis, serta mengajak anak-anak muda untuk berani bermimpi melalui buku.

Pada 3 Maret 2026, misalnya, pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten, itu menulis surat terbuka di dinding Facebook-nya yang ditujukan kepada Presiden RI, Prabowo Subianto. Judulnya cukup menggugah: “Stop MBG Sehari, Kasihkan Duitnya ke Perpustakaan Nasional RI.”

Nada surat itu lugas, bahkan getir. Ia mengungkapkan kegelisahannya melihat anggaran Perpustakaan Nasional RI yang disebutnya sangat terbatas. Ia juga menyoroti kabar tidak berlanjutnya program Duta Baca Indonesia setelah masa tugasnya berakhir.

Saya membaca kegelisahan itu bukan semata sebagai keluhan seorang penulis. Ada pengalaman panjang seorang pegiat literasi yang berbicara dari lapangan; dari akar rumput. Gol A Gong tahu bahwa buku tidak cukup hanya dipajang di perpustakaan. Buku harus dibaca, dibicarakan, dibawa ke sekolah-sekolah, dan dipertemukan dengan anak-anak.

Ia sendiri pernah mengalami bagaimana sastra tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam pendidikan. Dalam sebuah tulisannya ia berkisah bahwa pada 1982 ia diterima kuliah di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung. Namun, ia merasa kurang bersemangat karena mahasiswa yang mengambil Sastra Indonesia sedikit. Ia melihat kecenderungan pembelajaran lebih banyak bergerak ke linguistik.

Pengalaman itu, katanya, sebenarnya sudah ia rasakan sejak sekolah. Tidak ada kewajiban membaca buku sastra. Akhirnya, ia belajar sendiri. Kuliahnya pun tidak berjalan baik hingga kemudian ia mengundurkan diri.

Dari pengalaman itulah lahir kegelisahannya tentang posisi sastra dalam pendidikan. Menurut Gol A Gong, salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk meningkatkan minat baca adalah mewajibkan siswa membaca karya sastra.

Kita memang sering mendengar keluhan tentang rendahnya minat baca dan kemampuan literasi anak-anak Indonesia. Namun, bagi Gol A Gong, persoalannya tidak cukup dijawab dengan keluhan. Harus ada kebijakan yang mendorong anak-anak berhadapan langsung dengan buku.

Ia mengingat kembali gerakan “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab” yang pernah digerakkan Majalah Sastra Horison bersama Taufiq Ismail. Program semacam itu, menurutnya, pernah mempertemukan dunia sastra dengan sekolah secara lebih dekat.

Gol A Gong berharap sastra tidak sekadar menjadi bagian kecil dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ia menginginkan sastra mendapat ruang lebih kuat dalam pendidikan, dari SD, SMP, hingga SMA.

Gagasan itu tentu bisa diperdebatkan dari berbagai sisi. Namun, saya kira ada satu hal yang layak kita dengarkan bahwa anak-anak tidak cukup hanya diajari membaca kata. Mereka perlu diajak membaca manusia, kehidupan, kegembiraan, kesedihan, konflik, dan berbagai pengalaman hidup. Sastra menyediakan ruang untuk itu.

Maka, ketika awal Oktober nanti Gol A Gong datang lagi ke Ranah Minang, saya membayangkan pertemuan itu bukan sekadar kunjungan seorang Duta Baca Indonesia ke sebuah kota. Tapi pertemuan dengan kawan-kawannya sesama penulis dan pegiat literasi yang selama puluhan tahun memilih jalan yang sama: berjalan membawa buku, menemui manusia, dan percaya bahwa membaca masih bisa mengubah cara seseorang memandang dunia.

Dan saya kira, selama masih ada orang seperti Gol A Gong yang mau berjalan, jalan literasi tidak pernah benar-benar sepi. Lebih jauh dari itu, yang “terus berjalan” di tengah jalan akan menemukan “banyak jalan”.

Anda di Sumatera Barat berpeluang bersua Gol A Gong. Datanglah pada Selasa, 6 Oktober 2026, pukul satu siang, di Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang. Tapi tempat sangat terbatas, maka Anda perlu mendaftarkan diri. Hubungi saja panitia di nomor kontak 082178149413 (Fadhil). Sampai bersua. Salam literasi. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

‹
›