Oleh Felica Marsyadinata
SUASANA yang sunyi, tenang, dengan embusan angin yang mendayu, membuat ribuan doa terucap. Hati semua masyarakat yang memiliki ribuan permintaan dan doa berharap setetes butiran air yang turun membasahi kota yang penuh debu ini.
Debu yang menyelimuti Kota Padang berubah menjadi kekhawatiran masyarakat. Semua orang berharap turunnya hujan. Di Desa Bandes, warganya sudah mulai terjangkit penyakit seperti batuk, sesak napas, dan radang tenggorokan.
Di antara ribuan orang yang menunggu hujan, aku adalah salah satunya. Setiap hari aku keluar rumah dan menatap langit sambil berkata, “Wahai langit, sungguh hatiku sedih melihat sekeliling yang penuh debu dan kabut. Aku sudah lama rasanya tidak melihat matahari terbit dengan cerah. Yang kuinginkan sekarang, turunnya hujan dengan lebat.”
Lalu, rintik-rintik hujan turun bersamaan dengan angin yang kencang. Tampak seorang wanita paruh baya berseru kegirangan. Melihatnya, aku langsung berjalan menghampiri wanita itu.
“Nenek, alhamdulillah, ya, Nek, akhirnya rintik air mulai turun,” ujarku.
Nenek pun menjawab, “Iya, Nak. Semuanya pasti senang dan gembira dengan turunnya rintik hujan ini.”
Lalu, pada saat yang bersamaan, datang seorang anak kecil yang menyapaku.
“Hai, Kakak, hujan turun, Kak! Robbi senang sekali, Kak,” kata Robbi menyapaku.
“Iya, Robbi. Hujan ini merupakan permintaan semua orang,” ujarku.
“Benar, Kak. Robbi sudah lama juga tidak bermain hujan,” sahut Robbi.
“Yeyyy, mandi hujan, huhuuu…” seru Robbi dengan bahagia.
“Kakak, Robbi bermain hujan dulu, ya.” Robbi pun pergi bermain hujan.
“Iya, Robbi, hati-hati, ya,” sahutku.
Lalu, aku melanjutkan percakapanku dengan nenek.
“Nenek, semoga turunnya hujan bisa menghilangkan kabut yang tebal ini,” ucapku kepada nenek dengan penuh harapan.
“Aamiin, Nak. Nenek berharap begitu, Nak. Semoga kondisi desa ini bisa pulih kembali dan udara terasa segar dihirup.”
“Iyaa, Nek. Aamiin.”
Lalu, aku berpamitan pulang kepada nenek.
“Nenek, aku pulang dulu, ya, Nek.”
“Eeh, iya, Nak. Jangan lupa, nanti malam desa kita mengadakan syukuran dan makan bersama di balai desa.”
“Iyaa, Nek. Nanti aku datang,” jawabku dengan senyum.
Lalu, aku berjalan pulang ke rumah. Sesampai di rumah, aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke balai desa. Aku pergi bersama orang tua dan warga lainnya.
Sesampai di balai desa, aku disuguhi berbagai makanan, permadani yang terbentang, serta suasana yang hangat dan damai. Orang-orang berkumpul sambil berbincang-bincang dan tertawa.
Malam ini aku sangat senang karena sudah lama tidak berkumpul bersama semua warga di desa ini. Akhirnya, saat yang ditunggu pun tiba. Kami semua langsung menyantap makanan yang telah dibawa oleh warga, sambil menikmati silaturahmi dan kebersamaan di balai desa.
Hujan adalah seribu permintaan yang ditunggu. Hujan bukan hanya tetesan air yang turun dari langit, tetapi jawaban dari ribuan doa yang selama ini menunggu. Hujan penuh makna bagi semuanya. []
Felicia Marsyadinata merupakan pelajar kelas XI yang lahir di Padang pada 28 Maret 2010. Saat ini, ia menempuh pendidikan di SMAN 4 Padang dan berdomisili di Kota Padang.
Penulis: Felicia Marsyadinata
Editor: Muhammad Subhan








































