Oleh Muhammad Subhan
KORAN pertama yang saya baca adalah Serambi Indonesia. Itu sekitar tahun 1997 di Aceh, tepatnya di Kruenggeukueh, sebuah desa yang tak jauh dari laut dan dikelilingi pabrik-pabrik raksasa: PT Pupuk Iskandar Muda, PT ASEAN, dan PT Arun LNG.
Pilihan membaca koran di zaman itu tak lain atas dorongan kesukaan membaca yang sudah saya lakukan sejak sekolah dasar, lalu berlanjut ke SMP dan SMA. Buku-buku di perpustakaan sekolah yang terbatas membawa saya memilih jalan membaca koran, meski secara ekonomi keluarga tidak baik.
Syukurlah, di Simpang Empat, jalan lintas Medan-Banda Aceh, tempat saya biasa naik angkot “labi-labi” dan bus Bireuen Ekspres jika hendak ke Kota Lhokseumawe, saya menemukan sebuah toko kecil yang menjual koran Serambi Indonesia terbitan Banda Aceh, Waspada dan Analisa terbitan Medan, serta Kompas terbitan Jakarta. Selebihnya toko ini menjual majalah anak seperti Donald Bebek dan Bobo.
Hampir setiap pekan saya datangi toko kecil itu hanya untuk melihat halaman Budaya yang terbit setiap hari Minggu. Di situ dimuat cerita pendek, puisi, dan esai. Saya hanya tertarik pada halaman itu. Halaman lain yang memuat berita saya baca sekilas. Halaman olahraga saya lompati karena tidak tertarik.
Kalau ada sedikit uang, koran Serambi Indonesia saya beli. Lagi-lagi khusus terbitan hari Minggu. Terbitan hari lain tidak saya beli. Alasannya di halaman Minggu ada cerpen, puisi, dan esai.
Tidak hanya membaca, cerpen, puisi, dan esai itu saya kliping. Saya jilid menjadi beberapa bundel dan bundel-bundel itu saya jadikan koleksi untuk dibaca ulang. Di situlah saya belajar bagaimana menulis cerpen, puisi, dan esai dari penulis-penulis Aceh pada zamannya.
Di situ pula saya membaca tulisan-tulisan wartawan senior Aceh, salah satunya Sjamsul Kahar. Saya tidak mengenal dekat orangnya, hanya membaca tulisan-tulisannya. Saya juga tahu nama itu pendiri koran yang saya sukai tersebut.
Di kelas dua SMA, tahun 1998, sekolah saya, SMU 2 Lhokseumawe atau yang dikenal SMA Palda, melakukan studi banding ke Banda Aceh. Salah satu tujuannya adalah kantor Serambi Indonesia. Rombongan kami disambut pemimpin redaksi yang tak lain adalah Sjamsul Kahar.
Barulah saya tahu bahwa koran yang saya baca setiap Minggu itu dibangun oleh orang yang selama ini hanya saya kenal lewat nama di halaman koran. Saya juga mengetahui bahwa Sjamsul Kahar merupakan wartawan senior harian Kompas yang bertugas di Aceh.
Sebagai seorang pelajar SMA, saya masih awam dengan dunia pers. Namun, kunjungan itu menumbuhkan ketertarikan dan di dalam hati mulai muncul keinginan, kelak saya ingin menjadi wartawan atau penulis.
Di kantor Serambi Indonesia itu pula saya dan teman-teman diarahkan ke ruang kerja M. Sampe Edward (alm.), karikaturis Serambi Indonesia dengan karakter “Gam Cantoi”-nya yang hidup dan cerita-ceritanya aktual tentang Aceh, khususnya memotret isu-isu di zaman konflik.
Serambi Indonesia kemudian bukan sekadar koran yang saya baca. Koran ini menumbuhkan minat saya pada tulis-menulis. Di sinilah saya mengenal dunia jurnalistik, sastra, budaya, dan pemikiran. Saya belajar bahwa koran bukan hanya tempat berita dicetak, tapi juga ruang bertemunya gagasan.
Ruang budaya Serambi Indonesia bagi saya adalah ruh koran itu. Dari sana saya mengenal banyak nama penulis Aceh. Saya membaca cerpen, puisi, esai, juga tulisan-tulisan yang membuat saya bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa menuangkan pikirannya dengan cara yang menarik seperti itu?
Pada zaman itu pula saya membaca perdebatan atau polemik sejumlah penulis Aceh tentang berbagai persoalan. Bagi saya yang masih remaja, polemik itu seperti membuka pintu lain. Saya belajar bahwa membaca tidak selalu berarti menerima. Ada gagasan yang bisa dipertanyakan, dibantah, lalu dijawab kembali dengan tulisan.
Di warung-warung kopi Aceh pada masa itu, Serambi Indonesia hampir selalu ada di atas meja. Rasanya seperti ada yang kurang lengkap jika koran itu tidak tersedia. Orang datang untuk minum kopi, berbincang, dan membaca koran. Berita yang dimuat menjadi bahan percakapan. Pers dan masyarakat seperti duduk di meja yang sama.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, saya kembali mengenang koran itu. Kabar duka datang dari Banda Aceh. H. Sjamsul Kahar, wartawan senior, pendiri Serambi Indonesia, dan mantan Ketua PWI Aceh tiga periode, berpulang pada Kamis, 24 September 2026, pukul 02.20 WIB, di RSUD dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh. Innalillahi wainna ilaihi raajiuun …. Aceh kehilangan jurnalis terbaiknya.
Mengutip sejumlah sumber, Sjamsul Kahar bersama M. Nourhalidyn mengembangkan koran Mimbar Swadaya hingga menjadi surat kabar harian. Setelah memperoleh dukungan dari Jakob Oetama, nama Serambi Indonesia kemudian diberikan oleh Gubernur Aceh Ibrahim Hasan. Edisi perdana koran itu terbit pada 9 Februari 1989. Sjamsul Kahar menjadi pemimpin redaksi pertama.
Sebelumnya, ia memulai karier jurnalistik di Atjeh Post, lalu menjadi wartawan Kompas pada 1977 dengan inisial SJK. Ia memimpin PWI Aceh selama tiga periode, 1985–1999. Di tengah konflik Aceh, pekerjaan sebagai pimpinan redaksi bukan tanpa risiko. Ia pernah menerima ancaman dan rumahnya diserang dengan bom molotov pada Agustus 1999.
Sjamsul Kahar bukan hanya membangun pers melalui koran, tapi ikut mendidik generasi muda calon jurnalis, memberikan pelatihan kepada mahasiswa dan pers mahasiswa di sejumlah kampus di Aceh.
Hari ini, saya turut berduka yang dalam atas berpulangnya seorang tokoh pers Aceh yang namanya pernah begitu akrab di mata saya, meski tidak pernah dekat secara pribadi.
Selamat jalan, Bang Sjamsul Kahar.
Terima kasih telah ikut menghadirkan sebuah koran yang bagi saya bukan hanya bacaan, tapi juga menjadi jalan dan salah satu guru yang diam-diam menumbuhkan kecintaan saya pada dunia tulisan, hingga hari ini. Al-Faatihah…. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah
























































