SAMARINDA, InsertRakyat.com – Gerakan literasi yang tumbuh dari kampung di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, mendapat kesempatan mengambil bagian dalam Temu Pegiat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Nasional ke-2 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, 6–8 November 2026.

Sumira Putri, Founder TBM Pondok Buku Olalaa sekaligus Ketua Pengurus Daerah Forum Taman Bacaan Masyarakat (PD Forum TBM) Kabupaten Pasaman Barat, hadir mewakili Pasaman Barat dan Sumatera Barat dalam pertemuan nasional yang mengusung tema “Dari Beranda IKN, Merajut Kolaborasi dan Menguatkan Literasi” tersebut.

Kegiatan itu mempertemukan para pegiat TBM dari berbagai daerah di Indonesia untuk berbagi pengalaman, bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan membangun kolaborasi dalam mengembangkan gerakan literasi berbasis masyarakat.

Bagi Sumira, keikutsertaan dalam agenda nasional ini bukan sekadar menghadiri pertemuan. Ada tanggung jawab untuk membawa cerita tentang gerakan literasi yang tumbuh di Pasaman Barat sekaligus menyerap pengalaman dan praktik baik dari pegiat daerah lain.

Forum TBM Kabupaten Pasaman Barat merupakan wadah yang menghimpun dan menggerakkan komunitas taman bacaan masyarakat di berbagai nagari. Dengan potensi lebih dari 50 TBM yang tersebar di wilayah tersebut, Pasaman Barat memiliki modal sosial yang besar untuk memperkuat budaya baca dan tulis melalui kegiatan literasi berbasis masyarakat.

Meski demikian, menggerakkan literasi di daerah bukan pekerjaan mudah. Keterbatasan fasilitas, pendanaan, dan sumber daya manusia masih menjadi tantangan. Begitu pula kebutuhan membangun kolaborasi agar kegiatan literasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Hal itulah yang membuat pertemuan nasional ini penting. Selain memperluas wawasan, forum tersebut menjadi kesempatan bagi saya untuk membangun hubungan dengan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan literasi,” ujar Sumira Putri.

Bagi Sumira, gerakan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada komunitas atau pegiat TBM. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga pendidikan, pihak swasta, dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci agar gerakan literasi dapat tumbuh dan menjangkau lebih banyak orang.

Fasilitas yang belum lengkap bukan alasan untuk berhenti bergerak. Kepedulian sejumlah pihak yang diwujudkan melalui kerja nyata dan konsisten dapat menjadi awal tumbuhnya kegiatan literasi di tengah masyarakat.

Sumira Putri, founder TBM Olalaa, Pasaman Barat di pertemuan pegiat TBM Nasional di IKN. (Foto: Dok. InsertRakyat.com)
Sumira Putri, founder TBM Olalaa, Pasaman Barat di pertemuan pegiat TBM Nasional di IKN. (Foto: Dok. InsertRakyat.com)

Perjalanan dari Pasaman Barat menuju IKN juga membawa harapan agar gerakan literasi dari daerah akar rumput semakin dikenal dan mendapat ruang untuk berkembang. Sebab, gerakan besar tidak selalu berawal dari pusat kota. Dari kampung pun, gagasan dan kerja nyata dapat tumbuh serta memberi manfaat luas.

“Datang dari kampung kecil bukan alasan untuk memiliki cita-cita yang kecil. Kita mungkin belum memiliki banyak hal, tapi kita selalu punya kesempatan untuk belajar, membangun jejaring, merajut kolaborasi, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Sumira.

Keikutsertaan Sumira Putri di IKN diharapkan menjadi penyemangat bagi seluruh pengurus, anggota, dan komunitas TBM di Pasaman Barat untuk terus bergerak. Kekuatan sebuah forum tidak semata-mata ditentukan oleh sosok ketuanya, tetapi juga oleh kesediaan seluruh anggota dan komunitas untuk mengambil peran serta bekerja bersama.

“Perjalanan ini menjadi pengingat bagi saya bahwa gerakan literasi tidak mengenal batas geografis. Selama ada kepedulian, kemauan untuk bekerja, dan kesediaan berkolaborasi, literasi dapat tumbuh dari kampung hingga menjangkau pelosok negeri,” tambahnya.

Penulis: Fitrah Helmy
Editor: Muhammad Subhan

BERITA TERKINI EDITORIAL