Oleh Muhammad Subhan
“Sibuk, Bang?”
“Iya, lumayan.”
“Oh, mana tulisannya lagi?”
“Tulisan yang mana?”
“Ya, tulisan-tulisan Abang, di dinding ini.”
“Siap,” jawab saya.
Seseorang mengirim pesan ke kotak masuk Facebook saya. Dari sejumlah pesan, pesan itu menarik perhatian. Saya senang, rupanya, ada yang menunggu tulisan-tulisan saya di media sosial ini.
Benar, sudah beberapa pekan saya tidak membagikan tulisan di halaman ini. Sibuk memang menjadi alasan paling tepat. Beberapa kegiatan dan acara di sejumlah kota menyita waktu saya untuk menulis, setidaknya menulis sesuatu yang bisa segera dibagikan kepada pembaca, seperti yang sering saya lakukan. Namun begitu, sebenarnya saya tetap menulis, meski belum semuanya saya publikasikan.
Saya sering kali merasa sedang disindir Napoleon Hill, penulis Amerika itu. Ia pernah mengatakan, “Jangan menunggu. Waktu yang tepat tidak akan pernah datang.”
Ucapan Napoleon seperti mengingatkan saya bahwa kesibukan tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Menulis memang membutuhkan waktu, tapi waktu tidak selalu tersedia dalam keadaan lapang. Kadang-kadang, kita justru harus mencurinya dari sela-sela pekerjaan, perjalanan, pertemuan, dan berbagai urusan yang datang silih berganti.
Beberapa waktu terakhir, misalnya, saya disibukkan dengan penyelenggaraan Lomba Baca Puisi Memperebutkan Piala Taufiq Ismail 2026 tingkat pelajar SMA sederajat se-Indonesia. Lomba yang digelar Rumah Puisi Taufiq Ismail & Museum Sastra Indonesia dengan dukungan sejumlah pihak ini menghadirkan pengalaman yang menggembirakan.
Antusiasme peserta sungguh luar biasa. Ratusan pelajar dari berbagai daerah membacakan puisi, merekam penampilan mereka, lalu mengirimkan video untuk mengikuti kompetisi. Karya-karya itu kemudian turut meramaikan media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, TikTok, hingga YouTube.
Saya melihat sesuatu yang menarik dari kegiatan ini. Anak-anak muda ternyata tidak jauh dari puisi. Mereka hanya membutuhkan ruang, kesempatan, dan kegiatan yang membuat sastra terasa dekat dengan kehidupan mereka. Teknologi digital yang selama ini kerap dituding menjauhkan generasi muda dari buku dan karya sastra justru bisa menjadi jembatan untuk memperkenalkan puisi kepada mereka.
Rumah Puisi & Museum Sastra Indonesia berharap, melalui lomba ini, karya-karya Taufiq Ismail makin akrab dengan generasi muda. Mereka tidak hanya mengenal nama penyairnya, tapi juga membaca, memahami, menghayati, dan berani menyuarakan puisi-puisinya.
Beberapa hari sebelum pengumuman pemenang lomba baca puisi, di Rumah Puisi Taufiq Ismail & Museum Sastra Indonesia berlangsung kegiatan Workshop Apresiasi Sastra dan Pertunjukan Puisi. Kegiatan itu hasil kerja sama Sanggar Matahari Jakarta dengan Rumah Puisi. Ada rasa haru yang sulit saya sembunyikan ketika melihat siswa dan guru kembali meramaikan kantong sastra dan budaya itu.
Rumah Puisi yang beberapa waktu sempat vakum dari aktivitas sastra sejak era pandemi Covid-19 kini mulai bergeliat kembali. Anak-anak sekolah datang, guru-guru mendampingi, diskusi sastra berlangsung, dan puisi kembali dibacakan. Bagi saya, pemandangan seperti itu adalah kabar baik. Sebuah rumah sastra memang seharusnya hidup oleh aktivitas sastra, bukan sekadar berdiri sebagai bangunan yang menyimpan kenangan.
Seusai kegiatan itu, saya memenuhi undangan beberapa sekolah SMP dan SMA sederajat di sejumlah kota di Sumatera Barat untuk mendampingi kelas penulisan kreatif. Saya kembali bertemu anak-anak hebat yang memiliki minat dan bakat dalam dunia tulis-menulis. Di ruang-ruang kelas itu, saya menemukan semangat yang selalu menyenangkan untuk dirawat. Mereka mungkin belum menjadi penulis, tapi setiap penulis pernah memulai dari sebuah tulisan, sesederhana apa pun itu. Mereka mungkin belum tahu hendak menulis apa, tapi tugas pendamping adalah membantu menemukan pintu masuknya.
Dukungan kepala sekolah dan guru tentu tidak bisa dilepaskan dari kegiatan semacam ini. Umumnya, pelatihan menulis kreatif diselenggarakan sebagai bagian dari upaya sekolah mencari bibit siswa berbakat yang kelak diutus mengikuti kompetisi, seperti Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Itu tujuan yang baik. Namun, saya berharap manfaatnya tidak berhenti setelah kompetisi selesai atau ketika nama pemenang diumumkan.
Menulis sejak dini memiliki manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar mempersiapkan siswa mengikuti perlombaan. Melalui menulis, anak-anak belajar mengamati lingkungan, mengolah pengalaman, menyusun pikiran, memperkaya kosakata, dan menyampaikan pendapat dengan lebih teratur. Mereka belajar peka terhadap persoalan di sekitarnya. Mereka juga belajar bahwa setiap gagasan membutuhkan proses sebelum bisa disampaikan dengan baik.
Menulis melatih anak-anak berpikir. Bahkan, ketika mereka menulis cerita tentang pengalaman di rumah atau sekolah, sesungguhnya mereka sedang belajar memahami kehidupan dan dirinya sendiri.
Sayangnya, kegiatan penulisan kreatif masih sering dipandang sebelah mata. Apresiasinya belum selalu sebanding dengan bidang seni lainnya. Dalam beberapa kegiatan sekolah, perhatian dan anggaran untuk cabang seni tertentu terkadang jauh lebih besar dibandingkan untuk kegiatan menulis. Padahal, menulis juga bagian dari seni yang membutuhkan proses, pendampingan, fasilitas, dan kesempatan untuk berkembang.
Menulis tidak cukup hanya diperintahkan. Anak-anak harus diberi waktu, ruang, dan suasana yang memungkinkan mereka tumbuh. Karya mereka perlu dibaca, didiskusikan, dipublikasikan, dan diapresiasi. Jangan sampai semangat menulis hanya menyala ketika ada lomba, kemudian padam setelah kegiatan berakhir.
Di sinilah pentingnya kepemimpinan kepala sekolah yang visioner. Saya beruntung bertemu dengan beberapa kepala sekolah yang tidak sekadar menyusun program pelatihan menulis, tapi juga hadir menyaksikan prosesnya. Bahkan, ada yang tidak sungkan duduk mendampingi siswa hingga kegiatan selesai. Mereka tidak hanya memberikan instruksi dari balik meja, tapi ikut memastikan anak-anak mendapatkan ruang untuk berkembang.
Saya salut kepada kepala sekolah seperti itu. Sebab, gerakan literasi di sekolah tidak cukup dibangun melalui slogan, spanduk, atau program yang tertulis dalam dokumen perencanaan. Gerakan literasi membutuhkan keterlibatan nyata dari orang-orang yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
Lalu, kembali kepada pesan seseorang di kotak masuk Facebook saya tadi. “Oh, mana tulisannya lagi?”
Saya tersenyum membacanya. Ternyata, di tengah kesibukan yang membuat saya berkeliling dari satu kegiatan ke kegiatan lain, masih ada orang “yang rindu” dan menunggu tulisan-tulisan saya. Itu sebuah pengingat sekaligus penyemangat.
Saya memang sedang sibuk mendampingi orang lain menulis, menghidupkan kegiatan sastra, dan membuka ruang bagi anak-anak untuk berkarya. Namun, saya tidak boleh lupa bahwa saya sendiri juga harus terus menulis. Bagaimana mungkin saya mengajak orang lain merawat kata-kata jika saya sendiri membiarkan pena terlalu lama beristirahat?
Baiklah. Saya kembali menulis. Dan semoga dinding ini tidak terlalu lama kosong. Ada banyak cerita yang menunggu untuk dibagikan, sebagaimana ada banyak anak-anak yang sedang belajar menemukan suara mereka melalui tulisan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah






















































