MENGINGAT kata Ucok teman (dia) di sebuah taman bacaan, “Boleh jadi isi kepala kosong meskipun ia sedang duduk di kursi kabinet (sana;)” Demikian pula, ada sesuatu yang menarik dari seekor layang-layang yang menari di langit. Ia tampak bebas, seolah-olah angin memberinya seluruh keleluasaan untuk menentukan arah. Padahal, di bawah sana, sepasang tangan sedang bekerja dalam kecermatan yang nyaris tak terlihat. Benang ditarik ketika angin terlalu kuat, diulur ketika udara memberi ruang. Sesekali tangan harus menahan, sesekali pula membiarkan. Dari hubungan itulah layang-layang menemukan keseimbangannya.

Bukankah layang-layang justru dapat terbang karena perimbangan antara energi menarik dan mengulur benang bersama hembusan angin?

Lengkapnya, mengapa demikian, pertanyaan itu amat identik dengan (cakap-) panjang tentang kehidupan, tentang perjumpaan. Selepasnya ada hukum aerodinamika di balik tubuh layang-layang, ada dinamika tekanan udara pada permukaannya, dan ada keterampilan manusia dalam membaca perubahan arah angin. Yang ditinggal itulah tak lantas membentuk satu kesatuan. Angin menyediakan gaya angkat, bentuk layang-layang membantu mempertahankan kestabilan, sedangkan benang menjadi penghubung antara kebebasan di udara dan kendali dari bumi.

Menarik benang terlalu kuat dapat menghilangkan ruang geraknya. Mengulur tanpa perhitungan dapat membuatnya kehilangan kendali. Bahkan angin yang begitu bersahabat pun tidak selalu menjamin penerbangan yang sempurna. Semuanya membutuhkan kepekaan terhadap keadaan.

Barangkali kehidupan juga bekerja dengan tata keseimbangan serupa.

Coba kita kembali sebentar ke ruang kelas sekolah dasar. Seorang anak duduk di hadapan buku bacaan. Jarinya mengikuti barisan huruf, mengeja suku kata, lalu menyatukannya menjadi kata. Guru membimbing dengan sabar. Ketika anak itu keliru, ia dibantu mengulang. Ketika mulai lancar, guru tidak lagi membacakan seluruh kalimat untuknya. Ada bagian yang sengaja dibiarkan agar ia mencoba sendiri.

Di sana berlangsung sebuah proses yang serupa dengan permainan layang-layang. Terlalu cepat menuntut anak membaca lancar dapat membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Terlalu lama mengambil alih setiap kesulitan juga dapat menghambat kemandiriannya. Pendidikan membutuhkan keseimbangan antara bimbingan dan kesempatan, antara arahan dan kebebasan untuk menemukan.

Membaca bukan hanya urusan mengenali huruf. Anak sedang membangun hubungan antara simbol, bunyi, makna, dan pengalaman. Ia sedang berlatih memahami dunia melalui bahasa. Setiap kata yang berhasil dibacanya menjadi ruang baru bagi imajinasi dan pengetahuan.

Pengalaman belajar itu mengingatkan kita pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Melalui Taman Siswa, ia memperjuangkan pendidikan yang memberi tempat bagi kemerdekaan berpikir dan pembentukan budi pekerti. Pendidikan tidak semestinya menjadikan anak sekadar penerima perintah. Guru perlu memberi teladan, membangun kemauan, dan memberikan dorongan ketika murid mulai mampu melangkah sendiri. Gagasan itu dikenal melalui semboyan Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Taman Siswa berdiri di Yogyakarta pada 3 Juli 1922 sebagai bagian dari perjuangan pendidikan nasional.

Ada kesenangan tersendiri ketika seorang anak akhirnya mampu membaca kalimat yang sebelumnya terasa sulit. Matanya bergerak mengikuti barisan kata, bibirnya mulai lancar, lalu wajahnya berubah ketika ia memahami cerita yang dibacanya. Guru mungkin hanya tersenyum dari depan kelas. Namun, di balik keberhasilan kecil itu terdapat proses panjang.

Begitulah tarik ulur bekerja dalam pendidikan, terlalu banyak menarik anak ke dalam kehendak orang dewasa dapat membuat proses belajar kehilangan kegembiraannya. Terlalu jauh mengulur tanpa pendampingan dapat membuat anak berjalan tanpa arah. Seni mendidik terletak pada kemampuan mengenali kapan seorang anak membutuhkan bantuan dan kapan ia perlu diberi kesempatan.

UNESCO memandang literasi sebagai kemampuan yang terus berkembang sepanjang kehidupan. Membaca dan menulis tidak berhenti pada pengenalan huruf, tetapi meluas hingga kemampuan memahami, menafsirkan, menciptakan, dan mengomunikasikan gagasan. Dengan kata lain, seseorang dapat saja lancar melafalkan kalimat, tetapi perjalanan literasinya belum selesai sebelum ia mampu menangkap makna.

Dari ruang kelas, pemikiran itu dapat dibawa ke halaman sejarah. Perjalanan bangsa ini menyimpan sejumlah kisah tentang orang-orang yang memahami bahwa perjuangan membutuhkan keseimbangan antara keteguhan prinsip dan kecakapan membaca keadaan.

Coba kita tengok dalam kisah Mohammad Hatta. Ketika berada di Belanda, ia aktif dalam gerakan Perhimpunan Indonesia dan menyuarakan kemerdekaan melalui tulisan serta kegiatan organisasi. Pemerintah kolonial menangkapnya pada 1927. Setelah menjalani proses pengadilan, Hatta dibebaskan pada 1928. Perjuangannya berlanjut setelah kembali ke tanah air. Pada 1934, ia ditangkap kembali, kemudian dibuang ke Boven Digul dan dipindahkan ke Banda Neira. Jarak, penjara, dan pengasingan tidak menghapus gagasannya tentang Indonesia merdeka.

Ada pelajaran menarik dari perjalanan Hatta. Perjuangan tidak selalu berupa gerakan yang terlihat besar. Ada masa ketika seseorang harus maju menyuarakan pendirian, ada masa ketika ia harus bertahan dalam keterbatasan. Keteguhan tidak berarti mengulang tindakan yang sama dalam setiap keadaan. Prinsip dapat tetap teguh sementara cara memperjuangkannya menyesuaikan ruang dan waktu.

Kisah Ki Hadjar Dewantara juga menyisakan dimensi (bermaKisa, Ia memilih pendidikan sebagai medan perjuangan kebangsaan. Taman Siswa yang didirikannya pada 1922 menjadi bagian dari usaha membangun kesadaran dan martabat masyarakat melalui pendidikan. Perjuangan semacam ini tidak selalu terdengar seperti dentuman senjata. Ia berlangsung di ruang belajar, melalui guru, buku, dan keberanian menumbuhkan pikiran merdeka.

Di bidang ekonomi, nama Sumitro Djojohadikusumo memberikan perspektif yang berbeda. Ia dikenal sebagai begawan ekonomi Indonesia, akademisi, perancang kebijakan ekonomi, sekaligus pendidik yang turut membentuk generasi ekonom nasional.

Sumitro memahami bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup dibaca melalui pertumbuhan angka, neraca perdagangan, atau besaran investasi. Ada persoalan struktural yang harus dijawab, ialah bagaimana memperluas kesempatan ekonomi, memperkuat kemampuan produksi nasional, membangun industri, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Perjalanan intelektualnya memiliki keterkaitan (hubungan) antara ilmu dan pengabdian. Ia menempuh pendidikan ekonomi di Rotterdam, memperdalam sejarah dan filsafat di Paris, kemudian berkiprah dalam pemerintahan dan dunia akademik. Ia pernah menjabat Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan. Di lingkungan Universitas Indonesia, pemikirannya ikut membangun tradisi pendidikan serta penelitian ekonomi melalui Fakultas Ekonomi dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat.

Tiap bab dalam kebijakan membutuhkan prinsip, tetapi pelaksanaannya harus memperhitungkan perubahan keadaan. Lalu, Pemerintah perlu menjaga stabilitas, sementara perekonomian membutuhkan ruang bagi inovasi, investasi, produksi, dan persaingan yang sehat. Terlalu kaku dalam membaca keadaan dapat menghambat penyesuaian. Terlalu longgar tanpa arah dapat membuat pembangunan kehilangan prioritas.

Pemikiran Sumitro adalah ilmu ekonomi yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat (ditegaskan lagi). Angka-angka dalam statistik tidak berdiri sendiri. Di baliknya terdapat rumah tangga, pekerja, petani, pelaku usaha, kesempatan pendidikan, dan distribusi kesejahteraan. Kebijakan ekonomi memperoleh arti ketika mampu menjawab persoalan manusia.

Beranjak ke dunia sastra, kita menemukan Buya Hamka. Nama ini tidak hanya dikenal melalui mimbar keagamaan, tetapi juga melalui halaman-halaman buku yang mempertemukan bahasa, pengalaman, adat, cinta, moralitas, dan pergulatan manusia. Ia juga merupakan wartawan populer pada jaman itu.

Hamka merupakan ulama, sastrawan, jurnalis, dan cendekiawan yang menghasilkan banyak karya. Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menjadi bagian penting dalam perjalanan sastra Indonesia. Melalui karya-karyanya, ia mengolah persoalan kehidupan masyarakat ke dalam narasi yang mengandung pertanyaan tentang tradisi, keadilan, perasaan, dan nilai kemanusiaan.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan literasi Hamka. Awalnya beliau tidak tumbuh melalui pendidikan formal yang panjang seperti banyak intelektual pada zamannya. Ia memperluas pengetahuan melalui pengembaraan, pembacaan, pengalaman, dan perjumpaan dengan berbagai pemikiran. Ia mempelajari karya sastra Arab, membaca pemikiran dari berbagai negeri, kemudian mengolahnya menjadi karya yang memiliki corak dan persoalan masyarakat sendiri.

Sastra dalam tangan Hamka menjadi ruang pertemuan antara pengalaman individual dan kenyataan sosial. Pembaca tidak hanya mengikuti perjalanan tokoh, tetapi juga diajak melihat bagaimana adat, kedudukan sosial, keyakinan, dan keputusan manusia dapat membentuk nasib seseorang.

Dari sastra, kita dapat memahami bahwa kebebasan berekspresi dan tanggung jawab intelektual tidak harus saling meniadakan. Justru dalam pertemuan keduanya, sebuah karya dapat memiliki kedalaman.

Nama berikutnya membawa kita kembali ke Sulawesi Selatan. Muhammad Jusuf Kalla merupakan tokoh pengusaha, negarawan, dan mediator perdamaian yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia usaha serta pelayanan publik. Lahir di Watampone, Kabupaten Bone, ia menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Hasanuddin sebelum terlibat dalam pengembangan usaha keluarga yang kemudian dikenal sebagai Kalla Group.

Perjalanan Jusuf Kalla adalah bagian dari hubungan antara dunia usaha, kepemimpinan, dan penyelesaian konflik. Ia pernah menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia dalam dua periode, 2004–2009 dan 2014–2019. Namun, salah satu bagian penting dari kiprahnya dalam kehidupan kebangsaan adalah keterlibatannya dalam proses perdamaian di sejumlah wilayah yang mengalami konflik.

Pada 19–20 Desember 2001, ketika menjabat Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Jusuf Kalla memimpin proses pertemuan dan mediasi antara kelompok-kelompok yang bertikai di Poso. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi Malino I yang memuat sepuluh kesepakatan untuk menghentikan konflik, membangun kembali kepercayaan, memulihkan kehidupan masyarakat, serta menjaga kerukunan.

Perannya juga tercatat dalam proses perundingan perdamaian Aceh yang menghasilkan Perjanjian Helsinki pada 2005. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam mengakhiri konflik berkepanjangan di Aceh.

Kisah ini memberikan lapisan lain pada filosofi tarik ulur. Dalam penyelesaian konflik, pihak-pihak yang bertikai tidak dapat terus mempertahankan seluruh tuntutan tanpa membuka ruang dialog. Mediasi membutuhkan kesediaan mendengar, kemampuan mengidentifikasi kepentingan bersama, dan keberanian mencari titik temu.

Memberi ruang kepada pihak lain tidak berarti menghapus prinsip. Sebaliknya, mempertahankan prinsip tidak harus selalu diwujudkan melalui pertentangan. Ada keadaan ketika ketegasan diperlukan untuk menghentikan kekerasan, tetapi ada pula saat ketika kelapangan menjadi jalan untuk memulihkan hubungan.

Tentu saja, perdamaian bukan pekerjaan satu orang. Kesepakatan membutuhkan komitmen para pihak, pelaksanaan yang konsisten, penegakan hukum, serta pemulihan sosial dan ekonomi. Peran seorang mediator terletak pada kemampuannya membuka jalan agar pihak-pihak yang sebelumnya berhadapan dapat kembali berbicara.

Dari Hatta, kita belajar tentang keteguhan perjuangan. Dari Ki Hadjar Dewantara, kita melihat pendidikan sebagai jalan pembebasan pikiran. Dari Sumitro, kita menemukan hubungan ilmu ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat. Dari Buya Hamka, kita mengenali kekuatan sastra dalam membaca manusia. Sementara dari Jusuf Kalla, kita memperoleh gambaran tentang dialog dan perundingan sebagai bagian dari penyelesaian konflik.

Kelima tokoh tersebut bergerak dalam bidang yang berbeda.

Tarik ulur, dalam pengertian ini, merupakan kecakapan menempatkan tenaga secara proporsional. Ada keteguhan yang perlu dipertahankan, tetapi ada pula cara yang harus diperbarui. Ada keberanian untuk melawan, tetapi ada kecerdasan untuk memilih medan perjuangan.

Manusia sering mengira bahwa keberhasilan hanya ditentukan oleh seberapa kuat ia menggenggam sesuatu. Keinginan menguasai keadaan tumbuh menjadi kebiasaan menarik segala hal agar tetap berada dalam jangkauan. Padahal, tidak semua perkara dapat diselesaikan dengan kekuatan tarikan. Ada keadaan yang justru membutuhkan kelonggaran, ada hubungan yang memerlukan kepercayaan, dan ada cita-cita yang membutuhkan ruang untuk bertumbuh.

Mengulur bukan selalu berarti menyerah,  sebagaimana menarik tidak selalu berarti menguasai. Keduanya merupakan tindakan yang memperoleh arti dari ketepatan waktu dan pemahaman terhadap keadaan.

Dalam hubungan antar manusia, misalnya, terlalu banyak tuntutan dapat membuat kedekatan kehilangan udara untuk bernapas. Sebaliknya, kebebasan tanpa batas dan tanggung jawab dapat membuat hubungan kehilangan arah. Kepercayaan memerlukan ruang, tetapi juga membutuhkan komitmen. Kasih sayang membutuhkan kelembutan, tetapi tidak berarti menghapus batas.

Begitu pula dalam kepemimpinan. Pemimpin yang terus menarik semua keputusan ke tangannya mungkin membuat organisasi terlihat terkendali, tetapi perlahan-lahan mematikan inisiatif. Sebaliknya, pemimpin yang mengulur kewenangan tanpa arah dan pengawasan dapat membiarkan organisasi kehilangan orientasi. Kepemimpinan yang matang memahami kapan harus mengambil kendali dan kapan harus memberikan ruang.

Seekor layang-layang kita ini seperti menghadirkan sebuah pelajaran tentang kecerdasan membaca momentum. Tidak setiap hembusan harus dilawan. Tidak setiap kesempatan harus dilepaskan. Ada saat ketika kekuatan diperlukan untuk mempertahankan arah, ada saat ketika kelenturan justru menyelamatkan perjalanan.

Layang-layang yang tinggi pun tidak sedang memutus hubungannya dengan dua tangan di bumi. Benang yang membentang menjadi pengingat bahwa kebebasan dan keterikatan dapat berjalan berdampingan. Ia memperoleh ruang untuk terbang karena masih memiliki hubungan dengan tangan yang menjaganya.

Mungkin demikian pula manusia. Kita membutuhkan keberanian untuk menggapai ketinggian, tetapi juga memerlukan kesadaran untuk menjaga hubungan dengan kenyataan. Terlalu sibuk mengejar ketinggian dapat membuat seseorang lupa membaca arah. Terlalu takut melepaskan pegangan dapat membuatnya tidak pernah mengetahui sejauh mana kemampuan dirinya.

Dan ketika angin tiba-tiba berubah, tangan yang bijaksana tidak buru-buru menyalahkan langit. Ia membaca keadaan, mengatur kembali tarikan, lalu memberi ruang secukupnya.

BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI EDITORIAL