Oleh Emi Suy

ADA peristiwa yang selesai ketika acara berakhir. Orang-orang pulang, kursi dirapikan, panggung dibongkar, dan ruang kembali kepada kesunyiannya. Tetapi ada pula peristiwa yang tidak benar-benar selesai ketika lampu dipadamkan. Sesuatu tertinggal di sana, bukan selalu dalam bentuk yang dapat dihitung, melainkan sebagai pengalaman yang diam-diam menetap dalam ingatan: sebuah perjumpaan, suara yang baru pertama kali berani terdengar, seseorang yang berdiri di hadapan orang lain dengan tubuh yang masih gemetar, atau sebaris kalimat yang tiba-tiba terasa dekat dengan kehidupan sendiri. Festival Komunitas 2026, bagi saya, berada di wilayah yang kedua.

Rangkaian Festival Sastra yang diselenggarakan Komunitas Kosakata Jakarta Barat berlangsung selama sepuluh hari dan diikuti 46 pelajar dari sembilan sekolah di wilayah Jakarta Barat. Kegiatan yang mendalami sastra dan seni monolog itu kemudian ditutup pada Minggu, 13 September 2026, di Ruang Kurusetra, Gedung Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Barat. Angka-angka tersebut penting untuk dicatat, tetapi angka tidak pernah cukup untuk menceritakan apa yang sebenarnya berlangsung di dalam sebuah proses. Di balik 46 peserta ada anak-anak dengan latar, kemampuan, pengalaman, dan keberanian yang berbeda. Ada yang mungkin sudah akrab dengan panggung, ada pula yang baru belajar menyusun kata dan mengucapkannya di hadapan orang lain. Mereka datang untuk belajar puisi, monolog, menulis, membaca, sekaligus mengenali kemungkinan yang mungkin selama ini belum mereka sadari ada di dalam dirinya.

Semula panitia menargetkan 35 peserta. Namun jumlah pendaftar dan peserta yang berpartisipasi mencapai 46 orang. Tingginya minat bahkan membuat sejumlah sekolah tidak dapat mengirimkan siswanya karena kuota memang dibatasi. Anto RistarGie, Koordinator Pelatihan Komunitas Kosakata Jakarta Barat, menyebut peserta yang mengikuti pelatihan merupakan siswa-siswa terpilih. Bagi saya, titik pentingnya bukan hanya pada jumlah peserta yang melampaui target, melainkan pada kesempatan yang terbuka melalui sebuah ruang belajar. Pelatihan seni kemudian tidak lagi sekadar menjadi agenda yang memiliki jadwal, materi, dan target capaian. Ia menjadi kesempatan bagi seorang anak untuk bertemu dengan pengetahuan yang mungkin belum pernah diperolehnya, berhadapan dengan mentor dan tutor, mencoba sesuatu yang sebelumnya hanya hidup dalam bayangan, lalu perlahan menemukan bahwa kemampuan tidak tumbuh hanya karena seseorang disebut berbakat. Bakat membutuhkan waktu, latihan, lingkungan, dan seseorang yang bersedia berkata: teruskan.

Ketika Teks Mulai Bernapas

Materi pelatihan yang diberikan cukup beragam. Sastra dan seni monolog menjadi bagian utama, sementara bagi sejumlah sekolah kegiatan ini juga menjadi pembekalan untuk menghadapi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N). Namun jika melihat keseluruhan prosesnya, pelatihan ini sesungguhnya memperlihatkan sesuatu yang lebih luas tentang sastra. Sastra tidak ditempatkan sebagai teks yang selesai ketika ditulis, melainkan sesuatu yang dapat dibaca, ditafsirkan, diciptakan, dimainkan, dan menemukan bentuknya di atas panggung. Konsep “Dari Teks ke Panggung” menjadi garis yang menghubungkan proses penciptaan dengan pemanggungan, dari kata yang masih diam menuju pengalaman yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan bersama.

Di sinilah saya melihat sastra menjadi menarik. Sebuah kata yang mula-mula hanya berdiam di halaman dapat bergerak menuju suara. Suara menemukan tubuh. Tubuh menemukan ruang. Kemudian ruang mempertemukannya dengan penonton. Perjalanan itu tentu tidak sesederhana memindahkan tulisan ke panggung. Menulis cerpen, misalnya, mengajak peserta berhadapan dengan sumber ide, tema, tokoh, karakter, konflik, sudut pandang, hingga struktur cerita. Menulis bukan sekadar menumpuk kata, melainkan memilih pengalaman mana yang hendak diberi bentuk. Puisi pun bermula dari sesuatu yang sangat dekat: pengalaman, lingkungan, pengamatan, dan imajinasi. Dari sana penulis berhadapan dengan tema, diksi, citraan, majas, simbol, ritme, hingga penyuntingan.

Artinya, sebelum sastra menjadi pertunjukan, ia lebih dahulu mengajarkan seseorang untuk melihat. Melihat sesuatu yang selama ini mungkin terlewat, mendengarkan suara yang sebelumnya dianggap biasa, mengingat pengalaman yang diam-diam tersimpan, dan memberi perhatian kepada hal-hal kecil yang kerap berlalu tanpa sempat diberi nama. Sebuah peristiwa sederhana dapat menjadi cerpen. Sebuah ingatan dapat menjelma puisi. Sebuah kegelisahan dapat menemukan tubuhnya melalui monolog. Proses kreatif, dengan demikian, merupakan perjalanan mengubah pengalaman menjadi bahasa. Dan mungkin salah satu hal penting yang diperoleh peserta dari pelatihan tersebut adalah kesadaran bahwa kehidupan mereka sendiri bukan sesuatu yang terlalu kecil untuk menjadi bahan sastra.

Dari Kata ke Tubuh Lalu Tumbuh

Kata-kata yang telah ditulis ternyata belum selesai melakukan perjalanan. Dalam monolog, peserta tidak hanya belajar tentang tokoh, karakter, konflik, sudut pandang, struktur, dialog batin, dramaturgi, klimaks, dan ending. Mereka juga berhadapan dengan olah tubuh, vokal, blocking, musik, dan artistik. Naskah harus keluar dari halaman dan diuji oleh tubuh serta suara. Di sinilah panggung menjadi ruang yang jujur. Sesuatu yang tampak kuat di atas kertas belum tentu memiliki tenaga yang sama ketika diucapkan. Sebuah kalimat membutuhkan napas. Emosi membutuhkan tubuh. Kesunyian membutuhkan jeda.

Seorang pemain kemudian belajar bahwa suara bukan sekadar bunyi yang keluar dari mulut. Artikulasi, intonasi, tempo, jeda, ekspresi, dan gestur ikut menentukan bagaimana sebuah makna sampai kepada orang lain. Ada proses yang sangat manusiawi di dalamnya. Seseorang yang semula malu berbicara harus belajar mengangkat suara. Tubuh yang tegang harus belajar mengenali ruang. Mata harus belajar bertemu dengan penonton. Perlahan sesuatu berubah, meski tidak selalu menjadi keberanian yang besar. Kadang hanya berupa keberanian kecil untuk tidak lagi bersembunyi. Seni bekerja dengan cara yang demikian. Ia tidak selalu mengubah seseorang dalam satu malam. Kadang ia hanya membuat seseorang sedikit lebih berani daripada dirinya kemarin.

Panggung sebagai Titik Kumpul Perjumpaan

Pada acara penutupan, proses sepuluh hari itu akhirnya menemukan bentuknya di atas panggung. Ada dramatik puisi Narkoba No, pembacaan puisi dan pantun berkelompok, serta musikalisasi puisi Aku Cinta Kamu dengan iringan musik dari Jambul. Apa yang tampil di hadapan penonton bukan sekadar hasil akhir sebuah pelatihan. Di balik setiap penampilan ada latihan, pengulangan, kegugupan, kesalahan, evaluasi, dan keberanian untuk mencoba kembali. Panggung bukan hanya tempat untuk menunjukkan kemampuan. Ia juga tempat seseorang mengenali dirinya sendiri, ketika suara yang selama ini hanya terdengar di dalam kepala tiba-tiba menemukan jalan menuju telinga orang lain, ketika tubuh yang semula gemetar perlahan menjadi lebih tenang karena mulai percaya pada apa yang sedang disampaikannya.

Karena itu, panggung bukan sekadar tujuan terakhir sebuah teks. Ia merupakan tahap ketika teks bertemu tubuh, ruang, bunyi, cahaya, dan penonton. Dalam proses pelatihan, penguasaan panggung juga tidak berdiri sendiri. Blocking, ruang, artistik, properti, musik, cahaya, tempo, ritme, dan ekspresi menjadi bagian dari proses pemanggungan. Sebuah monolog bahkan dipersiapkan melalui coaching, rehearsal, evaluasi, dan run-through sebelum dinyatakan siap pentas. Ada kerendahan hati yang diajarkan oleh latihan semacam itu: karya tidak selalu langsung menemukan bentuknya. Ia boleh keliru, diulang, dibongkar, lalu diperbaiki. Justru melalui proses itulah karya perlahan menemukan tubuhnya.

Sastra Tidak Pernah Sepenuhnya Sendirian

Barangkali inilah salah satu alasan ruang seni tetap diperlukan, terutama bagi anak-anak muda. Bukan semata-mata agar mereka menjadi pemenang, melainkan agar mereka mempunyai ruang untuk mencoba menjadi dirinya sendiri. Komunitas mempunyai peran penting dalam proses tersebut. Seseorang mungkin memiliki gagasan, tetapi gagasan membutuhkan ruang untuk diuji. Seseorang mungkin memiliki bakat, tetapi bakat membutuhkan lingkungan agar dapat tumbuh. Di dalam komunitas, proses kreatif tidak berlangsung sendirian. Ada yang menulis, membaca, memainkan, mendengarkan, memberi masukan, mengatur suara, cahaya, musik, properti, dan ruang. Kemudian ada penonton yang menerima karya sebagai sebuah pengalaman. Seni pun menjadi peristiwa bersama.

Pantun yang menjadi bagian dari pelatihan juga mengingatkan saya bahwa sastra sejak awal tidak selalu tinggal di dalam buku. Pantun merupakan sastra lisan yang hidup dalam masyarakat dan memiliki kedudukan dalam kebudayaan Nusantara. Ia dikenali, dituturkan, dimainkan, diwariskan, dan dihidupkan kembali melalui pengalaman serta lingkungan. Sastra dengan demikian selalu mempunyai hubungan dengan kehidupan. Ia tumbuh dari masyarakat, kembali kepada masyarakat, lalu menemukan bentuk baru melalui perjumpaan.

Ketika Sebuah Buku Menjadi Ruang

Setelah rangkaian pertunjukan peserta, Festival Komunitas memasuki bagian lain: diskusi buku dan pembacaan puisi. Antologi puisi karya saya, Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri, menjadi salah satu buku yang dibicarakan. Bersama Alex R. Nainggolan dan Acha Ahim, buku tersebut ditempatkan sebagai bahan percakapan. Bagi saya, sebuah buku ketika selesai ditulis sebenarnya belum selesai. Ia justru memulai perjalanan berikutnya. Tulisan yang semula lahir dalam kesunyian seorang penulis akan mengalami kehidupan lain ketika bertemu dengan pembaca. Pembaca datang membawa pengalaman masing-masing, membawa ingatan, pertanyaan, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Karena itu, sebuah puisi tidak lagi sepenuhnya tinggal di tangan penulisnya. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan.

Judul Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri bagi saya menyimpan renungan tentang luka dan kemampuan merawat diri. Ada sesuatu yang manusiawi dalam gagasan menjahit luka: bukan menghapus bekasnya, melainkan berusaha menyambungkan kembali sesuatu yang pernah terpisah. Saya memaknai menjahit bukan sebagai upaya untuk kembali menjadi diri yang sama sebelum terluka. Bekas tetap ada. Namun dari bekas itulah seseorang dapat belajar mengenali dirinya, merawat yang rapuh, dan menemukan cara untuk melanjutkan hidup. Mungkin sastra juga bekerja dengan cara yang serupa. Ia tidak selalu menyembuhkan. Saya tidak menulis untuk menjanjikan kesembuhan kepada siapa pun. Tetapi sastra dapat memberi bahasa kepada sesuatu yang sebelumnya sulit diucapkan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara luka dan ingatan, antara pengalaman dan kata-kata, antara seseorang dengan dirinya sendiri. Barangkali di sanalah sebuah tulisan menemukan maknanya: ketika sesuatu yang semula hanya menjadi luka perlahan memperoleh bahasa.

Puisi yang Mendapat Napas

Kemudian puisi kembali mengambil tempat. Jose Rizal Manua, Imam Ma’arif, Emi Suy, Anto RistarGie, Octavianus M, Acha Ahim, dan Jambul hadir dalam pembacaan puisi. Masing-masing membawa suara dan cara pengucapannya sendiri. Puisi yang tertulis di atas kertas adalah sesuatu yang diam. Ketika dibaca, ia memperoleh napas. Ada jeda yang tiba-tiba membuat sebuah kata menjadi penting. Ada suara yang membuat kalimat sederhana terasa lebih jauh. Ada tubuh yang ikut berbicara ketika penyair berdiri di hadapan penonton. Pada saat seperti itu, puisi tidak lagi sekadar susunan kata. Ia menjadi peristiwa.

Penonton tidak hanya membaca atau mendengar teks. Mereka berhadapan dengan manusia yang sedang memberikan suaranya kepada kata-kata. Dalam pengertian itu, membaca puisi bukan hanya perkara mengucapkan teks, tetapi juga proses interpretasi: menemukan makna, emosi, simbol, suasana, kemudian menerjemahkannya melalui suara dan tubuh. Proses pelatihan memang menempatkan interpretasi sebagai bagian penting sebelum karya bergerak menuju bentuk pertunjukan. Sebuah teks dapat berubah bentuk, tetapi pencarian terhadap maknanya tetap menjadi dasar. Puisi dapat menjadi monolog. Puisi dapat menjadi musikalisasi. Cerpen dapat menjadi drama. Hikayat dapat menemukan kehidupan baru di panggung. Yang berpindah bukan hanya bentuknya, melainkan juga cara manusia mengalami teks tersebut.

Kompetisi dan Perjalanan

Pada bagian akhir, festival sampai pada pengumuman pemenang lomba. Kategori yang dipertandingkan meliputi Monolog, Baca Puisi, Cipta Puisi, dan Cipta Cerpen. Dalam Lomba Monolog, Juara I diraih Pricilla Ivana dari SMAN 19 Jakarta, Juara II Dea Amanda dari SMKN 42 Jakarta, dan Juara III Tya Khoirunnisa dari SMAN 72 Jakarta. Dalam Lomba Baca Puisi, Juara I kembali diraih Pricilla Ivana, disusul Muhammad Khairul Fatah dari MAN 12 Jakarta sebagai Juara II dan Keisha Francescha dari SMA Santo Kristoforus 2 sebagai Juara III.

Lomba Cipta Puisi menempatkan Keisya Putri Anggriani Pasaribu dari SMKN 42 Jakarta sebagai Juara I, Narita Sukhi Dunawan dari SMAN 19 Jakarta sebagai Juara II, dan Fahri Husaini dari SMK Tri Arga 2 Jakarta sebagai Juara III. Sementara itu, Lomba Cipta Cerpen menempatkan Humphrey Halim dari SMA Santo Kristoforus 2 sebagai Juara I, Muhammad Hibban Jalal dari MAN 12 Jakarta sebagai Juara II, dan Adellya Putri dari SMAN 19 Jakarta sebagai Juara III.

Penghargaan memang mempunyai tempat dalam sebuah kompetisi. Ada nama yang disebut, tepuk tangan, kegembiraan, dan piala yang dibawa pulang. Tetapi proses kreatif tidak pernah seluruhnya dapat diwakili oleh sebuah piala. Sebelum sampai pada hasil tersebut ada waktu yang diberikan kepada karya, keberanian mengirimkan tulisan, latihan membaca, kegagalan yang mungkin tidak dilihat siapa pun, juga malam-malam ketika seseorang mencoba menulis satu paragraf lalu menghapusnya kembali. Semua itu tetap menjadi bagian dari perjalanan.

Pelatihan pun tidak berhenti pada penciptaan karya. Capaian yang dirancang mencakup apresiasi, penciptaan, interpretasi, adaptasi, vokal, pemeranan, musik, panggung, produksi, hingga kemampuan menampilkan karya sastra di hadapan publik. Rangkaian itu memperlihatkan bahwa seni bukan hanya soal menghasilkan sesuatu. Ia juga tentang belajar memahami, belajar mencipta, belajar mengolah, belajar bekerja bersama, dan akhirnya belajar mempertanggungjawabkan karya ketika bertemu dengan orang lain.

Bayu Permana, Kepala Seksi Pembinaan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, menyampaikan apresiasi terhadap hasil pelatihan. Khusus untuk pelatihan monolog, kegiatan tersebut merupakan permintaan khusus dengan harapan dapat melahirkan aktor atau aktris berbakat melalui pembinaan Sudin Kebudayaan. Harapan semacam itu membutuhkan keberlanjutan, sebab tidak semua benih tumbuh dalam waktu yang sama. Ada yang segera berbunga, ada yang membutuhkan musim lebih panjang, dan ada yang baru terlihat setelah bertahun-tahun. Begitu pula anak-anak yang mengikuti pelatihan seni. Hari ini mereka mungkin hanya seorang pelajar yang membaca puisi atau memainkan monolog di sebuah panggung. Kelak, sebagian dari mereka mungkin menulis buku, bermain teater, menjadi penyair, aktor, guru, atau memilih jalan lain yang sama sekali berbeda. Kita tidak pernah tahu. Yang dapat dilakukan sebuah komunitas adalah menyediakan ruang sebaik mungkin ketika mereka sedang tumbuh.

Yang Tinggal Setelah Panggung Kosong

Pukul 17.30, acara ditutup. Orang-orang mulai meninggalkan ruang. Panggung perlahan kembali kosong. Suara yang sejak pagi memenuhi ruangan satu per satu menghilang. Tetapi barangkali ruang itu tidak benar-benar kembali seperti semula. Sebab ruang yang pernah dipakai seseorang untuk menemukan keberaniannya akan menyimpan jejak, meskipun jejak itu tidak selalu tampak. Festival Komunitas 2026 mungkin hanya berlangsung dalam satu rangkaian waktu, tetapi pengalaman yang lahir di dalamnya mempunyai usia yang lebih panjang. Ia akan pulang bersama para peserta, mungkin dalam sebuah puisi yang disimpan di buku catatan, cerpen yang kelak ditulis kembali, suara seorang anak yang suatu hari berdiri di panggung yang lebih besar, atau sekadar ingatan sederhana tentang suatu hari ketika ia pernah berdiri di hadapan banyak orang dan menemukan bahwa dirinya ternyata mampu.

Bagi saya, komunitas bukan hanya tentang siapa yang berkumpul, melainkan apa yang terjadi setelah orang-orang itu bertemu. Apakah pengetahuan berpindah. Apakah pengalaman dibagikan. Apakah seseorang mendapatkan ruang untuk mencoba. Apakah keberanian yang tumbuh pada satu orang dapat membuka keberanian pada orang lain. Festival semacam ini mengingatkan bahwa kebudayaan tidak selalu tumbuh dari tempat-tempat besar. Ia dapat tumbuh dari ruang pelatihan, dari kelas, dari buku yang dibicarakan, dari puisi yang dibacakan, dari seorang anak yang pertama kali berani mengangkat suara.

Barangkali yang penting bukan seberapa besar panggung yang tersedia, melainkan apakah ada ruang bagi seseorang untuk tumbuh di atasnya. Ketika festival selesai, pertanyaan yang tersisa bukan lagi sekadar siapa yang telah tampil, melainkan apa yang akan mereka lakukan setelah turun dari panggung. Sebab panggung pada akhirnya hanyalah tempat singgah. Karya harus berjalan lebih jauh, begitu pula manusia yang telah belajar menciptakannya.

Dan mungkin di sanalah sebuah festival menemukan maknanya yang paling sunyi: ia selesai sebagai acara, tetapi belum selesai sebagai pengalaman. Dari sebuah ruang telah tumbuh sesuatu. Bukan hanya karya, bukan hanya keberanian, melainkan kemungkinan. Kemungkinan bahwa sebuah kata dapat menjadi suara, suara dapat menemukan tubuh, tubuh dapat menghidupkan cerita, cerita dapat menemukan penontonnya, dan sebuah ruang kecil, ketika dirawat dengan kesungguhan, dapat menjadi tempat seseorang pertama kali menemukan jalan menuju dirinya sendiri.

Jakarta, September 2026

Emi Suy, penyair, tinggal di Jakarta.

Penulis: Emi Suy
Editor: Muhammad Subhan