Oleh Muhammad Subhan

TIBA-TIBA saya teringat kembali pengalaman beberapa tahun lampau. Sebuah instansi di sebuah kota menghubungi saya dan meminta saya menjadi salah seorang narasumber dari “daerah”. Mereka juga meminta dua narasumber lainnya dari “nasional”. “Nasional” yang dimaksud adalah penulis yang berasal dari Pulau Jawa, terutama Ibu Kota Jakarta.

Saya memberikan beberapa nama penulis yang selama ini dikenal secara nasional. Namun, saya juga menyodorkan nama lain, penulis daerah yang karya-karyanya sudah menasional.

Mulanya mereka menolak. Saya jelaskan panjang lebar. Akhirnya mereka memahami. Apalagi kegiatan yang akan dihelat berkaitan dengan budaya lokal. Tentu saja, penulis yang berasal dari daerah dan telah memiliki pengalaman berkarya secara nasional lebih memahami persoalan budaya setempat dibandingkan penulis dari luar yang secara geografis dan kultural jauh dari daerah yang dibicarakan.

Pengalaman itu kembali terlintas pagi ini setelah saya membaca tulisan Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, di laman Facebook-nya berjudul “Gelombang dari Lubuklinggau” (Jumat, 2/10/2026) yang menyorot kiprah penulis Benny Arnas di daerahnya. Dari daerah, Benny sukses menembus media-media nasional, bahkan melanglang buana ke berbagai kota di dunia.

Benny salah satu penulis di daerah yang telah membuktikan bahwa ia tak harus ke Jakarta untuk menjadi “penulis nasional”.

Secara satir, pada alenia pembuka tulisannya, Gol A Gong mengemukakan pandangan yang sudah lama hidup dalam dunia kesenian dan kepenulisan, yaitu untuk menjadi besar, seorang seniman harus pergi ke Jakarta. Setelah memiliki nama di Jakarta, apa pun yang dikatakan akan lebih mudah didengar. Ia juga mengutip perkataan ayahnya, “Di Indonesia ini bukan pada apa yang dikatakan, tapi pada siapa yang mengatakan.”

Saya kira, kalimat itu masih relevan untuk direnungkan.

Selama bertahun-tahun Jakarta memang menjadi salah satu pusat penting kehidupan kebudayaan Indonesia. Penyair membawa puisi ke Jakarta, pelukis membawa kanvas, penulis membawa manuskrip, dan anak-anak muda dari daerah memandang ibu kota seperti sebuah mercusuar bahwa di sanalah pengakuan berada.

Gol A Gong mengakui dirinya pernah mengalami hal serupa demikian. Ia membawa karya-karyanya ke Jakarta, mengetuki pintu-pintu redaksi. Setelah memiliki nama, ia kembali ke kampung halaman dan membangun Rumah Dunia pada 1998.

Pertanyaannya, apakah seorang penulis harus meninggalkan daerahnya untuk dianggap sebagai penulis nasional?

Ini menarik. Sebab, istilah “penulis daerah” dan “penulis nasional” kadang-kadang tidak sekadar menunjukkan wilayah tempat seorang penulis tinggal. Di baliknya terdapat semacam “pengotakan” berdasarkan pusat dan pinggiran. Penulis yang hidup dan berkarya di daerah mudah ditempatkan sebagai “penulis daerah”. Sementara penulis yang masuk ke jaringan media nasional, penerbit besar, festival sastra, atau ruang-ruang kebudayaan di Jakarta lebih cepat dianggap sebagai “penulis nasional”.

Padahal, batas itu tidak pernah benar-benar tegas. Seorang penulis dapat tinggal di daerah, menulis dari bilik rumahnya, tapi karyanya bisa menjangkau luas di mana saja. Pembacanya bisa datang dari berbagai penjuru.

Banyak sastrawan Sumatera Barat yang memilih daerah sebagai tempat menjalani proses kreatif. A.A. Navis, misalnya, tetap menjadi bagian penting dari sejarah sastra Indonesia tanpa harus kehilangan akar Minangkabaunya. Ada “Papa” Rusli Marzuki Saria, Gus tf Sakai, Adri Sandra, dan sejumlah nama lainnya yang memperlihatkan bahwa daerah bukan penghalang untuk melahirkan karya yang dibaca secara luas.

Justru dari daerah, banyak karya penting lahir. Persoalannya bukan semata-mata di mana penulis tinggal. Persoalannya adalah bagaimana ekosistem kebudayaan kita memberi ruang kepada karya dan penulis dari berbagai wilayah.

Seorang penulis dari daerah bisa menulis tentang kampung halaman mereka; tradisi, perubahan sosial, lingkungan, kemiskinan, pendidikan, keluarga, dan berbagai persoalan manusia. Lokalnya mungkin kuat, tapi persoalan yang dibicarakan bisa menjadi milik siapa saja.

Karya sastra tidak harus kehilangan warna daerahnya agar bisa disebut nasional. Malah sering kali kekuatan sebuah karya justru terletak pada keberanian penulis menghadirkan tempat yang dikenalnya dengan baik.

Yang perlu diubah mungkin bukan penulisnya, tapi cara kita memandang pusat dan daerah.

Perkembangan teknologi digital juga perlahan mengubah peta tersebut. Penulis tidak selalu harus membawa naskah dengan kereta atau pesawat menuju Jakarta untuk mengetuki pintu redaksi. Naskah dapat dikirim dari rumah. Buku dapat dipasarkan melalui jaringan digital. Diskusi sastra dapat berlangsung secara daring. Pembaca dapat ditemukan dari berbagai kota tanpa harus mengetahui di mana penulisnya tinggal.

Tentu saja, persoalan akses belum selesai. Jaringan penerbit, media, festival, penghargaan, dan berbagai ruang kebudayaan masih memiliki konsentrasi tertentu. Penulis di daerah tetap menghadapi jarak, biaya, jaringan, dan kesempatan yang tidak selalu sama.

Daerah dan nasional semestinya bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Seorang penulis dapat berakar di daerah sekaligus memiliki pembaca nasional. Ia tidak perlu pindah alamat untuk memperluas jangkauan karya.

Barangkali yang perlu kita tinggalkan adalah cara pandang lama bahwa untuk menjadi besar, seorang penulis daerah harus terlebih dahulu mendapat pengakuan dari pusat. Sebab, penulis tidak menjadi nasional hanya karena tinggal di Jakarta.

Dan penulis tidak menjadi daerah hanya karena memilih tetap tinggal di kampung halamannya. Yang semestinya berbicara adalah karya. Ya, biarlah karya yang bicara dan menemukan nasibnya sendiri di kemudian hari. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

‹
›