Oleh Muhammad Subhan

DUA hari kemarin, saya berada di SMP Negeri 3 X Koto, Nagari Singgalang, Kabupaten Tanah Datar. Saya mendaki lereng Gunung Singgalang dari Padang Panjang dengan menggunakan sepeda motor. Jalan menuju ke sana rancak dan beraspal. Di sepanjang kiri dan kanan jalan, terbentang ladang-ladang penduduk yang subur.

Dari ketinggian lereng Singgalang, tampak pula tubuh gagah Gunung Marapi yang tadi malam kembali bererupsi dan menyemburkan abu vulkanik hingga Kota Bukittinggi. Dari kejauhan, terlihat pula pemukiman penduduk Kota Padang Panjang yang padat. Lebih jauh lagi, terhampar danau rancak, Singkarak.

Di SMP Negeri 3 X Koto Singgalang, saya bertemu dengan sekitar tiga puluh pelajar kelas VII dan VIII yang memiliki minat menulis. Mereka diseleksi oleh sekolah dari ratusan siswa. Pihak sekolah mengundang saya sebagai fasilitator pendamping untuk mengenali dan mengasah bakat para siswa, yang diharapkan kelak dapat menjadi utusan sekolah dalam berbagai kompetisi menulis kreatif.

Saya menyambut baik langkah sekolah menyediakan wadah pelatihan semacam ini. Dulu, di Aceh, sewaktu duduk di bangku SMP puluhan tahun silam, saya tidak mendapatkan fasilitas serupa. Jarang pula terdengar di telinga saya ada pelatihan menulis. Waktu itu saya hanya belajar autodidak. Beruntunglah para pelajar hari ini yang didampingi kepala sekolah serta guru-guru visioner. Sekolah tidak sekadar menunjuk siswa saat surat undangan lomba tiba, tapi telah menyiapkan dan menggemblengnya jauh-jauh hari.

Ini kehadiran kedua saya di SMP Negeri 3 X Koto setelah kunjungan pertama tahun lalu. Sebagian peserta pelatihan kemarin adalah siswa yang juga ikut pada pelatihan sebelumnya. Ketika kembali bertemu, sebagian dari mereka bersorak gembira. Beberapa wajah langsung saya kenali karena bakat menulis mereka yang menonjol.

Saya melihat semangat itu terus menyala di SMP Negeri 3 X Koto. Para pelajar hadir bukan sekadar menggugurkan kewajiban kegiatan sekolah. Dari cara mereka menyimak, bertanya, mencatat, hingga menyusun draf tulisan, tampak keingintahuan yang sedang tumbuh mekar. Bagi saya, inilah fondasi terpenting dalam gerakan literasi. Tolok ukurnya bukan semata-mata berapa banyak karya tulisan yang langsung jadi, melainkan tumbuhnya keberanian untuk menuangkan isi pikiran ke atas kertas.

Kegiatan menulis kreatif bagi pelajar tingkat menengah pertama sejatinya bukan sekadar perburuan piala atau panggung juara. Lebih dari itu, menulis memberikan ruang katarsis dan artikulasi bagi anak untuk mengenali dirinya sendiri. Usia SMP merupakan fase transisi kritis ketika seorang anak berhadapan dengan berbagai perubahan fisik maupun psikologis. Pada fase ini, anak mulai membentuk opini pribadi, mendesak ingin diperhatikan dan didengar, membandingkan diri dengan lingkungan, sekaligus mencari identitas diri.

Sering kali ada pertengkaran dan perkelahian batin, ketakutan, kekecewaan, kejengkelan, rasa kagum, hingga kegelisahan yang sulit mereka sampaikan secara lisan kepada orang tua, guru, atau kawan. Di sinilah menulis penting dihadirkan sebagai wahana pemrosesan emosi yang aman dan produktif. Melalui jalinan tokoh fiktif, rekaan peristiwa, atau narasi pengalaman sehari-hari, seorang anak secara tidak langsung sedang belajar memetakan dan mengurai perasaannya sendiri.

Kepada para pelajar, saya kerap menekankan bahwa menulis tidak harus berawal dari gagasan besar. Kejelian melihat hal-hal di sekitar adalah kuncinya. Pohon di halaman sekolah, derap langkah guru di koridor, kawan yang datang terlambat, perjalanan pulang, atau riuh percakapan di kantin, semuanya sumber ide dan dapat diolah menjadi cerita yang bernyawa. Yang paling utama dibutuhkan adalah kepekaan.

Pelajar yang terbiasa menulis sedang melatih indagasi dan kepedulian terhadap lingkungannya. Proses memilih kata, menyusun struktur kalimat, merangkai alur, hingga menghubungkan antarperistiwa secara bertahap menata logika berpikir mereka. Dari sana, kecakapan berbahasa dan ketertiban berpikir runtut (structured thinking) dapat terbentuk.

Di tengah gempuran era digital dan paparan media sosial yang begitu intensif, kecakapan ini menjadi kian krusial. Remaja hari ini hidup dalam pusaran arus informasi yang tak pernah tidur. Setiap hari mereka disuguhi kurasi kehidupan orang lain di balik layar seluler seperti pamer kecantikan, ketampanan, kecerdasan, kemewahan, atau popularitas jumlah pengikut.

Padahal, apa yang tersaji di layar gawai kerap kali hanyalah fragmen semu yang telah disaring.

Perbandingan konstan semacam ini berpotensi memicu kerentanan mental dan rasa ketidakcukupan pada anak. Diapit oleh beban akademis, ekspektasi orang tua, serta tekanan kognitif berlebih (cognitive overload), anak-anak membutuhkan jeda untuk refleksi.

Dan, menulis menjadi salah satu ruang jeda yang efektif.

Tentu, ini tidak berarti aktivitas menulis dapat menggantikan peran terapi medis dalam penanganan gangguan kesehatan mental yang berat. Jika seorang anak mengalami indikasi klinis atau masalah psikologis serius, intervensi profesional dari konselor, psikolog, serta pendampingan intensif orang tua dan guru tetap menjadi prioritas utama. Namun, sebagai tindakan preventif dan sarana olah jiwa harian, kebiasaan menulis sangat berdaya guna untuk membantu merapikan benang kusut pikiran.

Latihan sederhana seperti menulis bebas (free writing) selama sepuluh menit tanpa terbebani kekhawatiran salah eja atau susunan kalimat yang kaku, dapat menjadi cermin bagi anak untuk mengenali sisi diri yang selama ini tak terucapkan. Buku tulis dan pena adalah instrumen yang siap menjadi kawan bicara paling jujur.

Di sisi lain, diskusi literasi dengan generasi muda masa kini kerap mempertemukan saya dengan pertanyaan bernada pragmatis, apakah menulis bisa menghasilkan uang? Dan, di antara siswa itu juga bertanya demikian.

Bagi saya, pertanyaan itu sangat wajar dan rasional. Generasi yang tumbuh di era disrupsi ini menuntut kejelasan fungsi dari setiap aktivitas yang mereka tekuni. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa mereka mulai memandang menulis bukan sekadar pemenuhan tugas sekolah, tapi sebagai sebuah keterampilan hidup (life skill).

Dunia penulisan modern sangat luas dan adaptif. Peluang karier tidak lagi terbatas pada profesi pengarang novel atau penyair. Ekosistem digital membutuhkan banyak talenta penyusun narasi, seperti penulis artikel, penulis naskah konten visual, penyunting, jurnalis, hingga spesialis komunikasi bisnis. Keterampilan merangkai kata merupakan modal dasariah yang fleksibel dialihgunakan ke berbagai lintas disiplin.

Kendati demikian, penting untuk mengingatkan para siswa agar tidak terjebak pada orientasi hasil instan. Proses pematangan kualitas karya harus mendahului kapitalisasi. Fondasi itu dibangun lewat konsistensi menulis, keluasan membaca, keberanian mengikuti uji tanding, serta ketangguhan mental saat menghadapi penolakan karya. Ketika kualitas berpikir dan mengolah kata sudah teruji, peluang ekonomi dan pengakuan profesional akan mengikutinya secara alamiah.

Membandingkan situasi hari ini dengan masa ketika saya seusia mereka, kesempatan yang terbuka bagi generasi muda jauh lebih melimpah. Dahulu, akses pelatihan sangat terbatas, sarana publikasi amat sempit, dan ajang kompetisi belum semarak sekarang.

Oleh sebab itu, besar harapan saya agar tiga puluh pelajar di Singgalang ini tidak menyurutkan langkah selepas pelatihan usai. Jangan merakit tulisan hanya ketika ada dorongan kompetisi, tapi menulislah dalam segala suasana rasa: saat gembira, lelah, kagum, ragu, maupun ketika menemukan realitas menarik di sekitar. Sebab, seorang penulis pada hakikatnya adalah seorang pembaca kehidupan yang tekun.

Sekolah yang konsisten menyediakan ruang bagi siswanya untuk menulis, pada dasarnya sedang membekali mereka dengan warisan yang jauh lebih bernilai daripada lembar sertifikat atau piala kejuaraan: yakni keberanian berpikir kritis, kejelasan bersuara, dan kemampuan mengabadikan jejak peradaban diri melalui kata-kata. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

‹
›