Oleh Muhammad Subhan
BEBERAPA bulan lalu, saya diundang oleh guru-guru Kabupaten Pasaman Barat yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia MTs/MA se-Kabupaten Pasaman Barat untuk mengisi Workshop Menulis Puisi.
Peserta pelatihan itu tidak banyak, hanya sekitar 15 guru yang benar-benar berminat. Namun, dari jumlah yang terbatas itu, 12 di antaranya konsisten menulis hingga sepakat membukukan karya-karya mereka. Dari komitmen bersama inilah lahir sebuah buku apik berisikan puisi beragam tema bertajuk Lelaki dari Rahimku. Masing-masing guru menyumbang dua hingga tiga judul puisi.
Saya menyaksikan semangat yang luar biasa dari para pendidik di MGMP Bahasa Indonesia Pasaman Barat ini. Pertama, sebagian dari mereka berasal dari wilayah pelosok dengan jarak tempuh dua hingga tiga jam perjalanan darat menuju Simpang Empat, pusat kota. Saya memahami betul beratnya medan geografis tersebut karena ibu saya berasal dari Pasaman Barat. Bahkan, demi mengikuti workshop ini, seorang peserta mengalami kecelakaan—sepeda motornya tergelincir hingga kakinya terluka. Saat itu saya menyarankan agar ia tidak memaksakan diri melanjutkan pelatihan dan segera berobat ke rumah sakit terdekat. Semoga beliau kini telah pulih sepenuhnya.
Hal luar biasa kedua, tidak banyak guru yang mau meluangkan waktu untuk menulis di tengah himpitan beban kerja yang padat, terutama tumpukan urusan administrasi dan jam mengajar yang menyita energi. Padahal, guru adalah benteng utama keteladanan. Ketika guru membaca dan menulis, perilaku literatif tersebut akan diserap dan ditiru oleh murid-muridnya secara alami. Menulis bagi guru bukan sekadar penyaluran hobi, melainkan bentuk perjuangan menjaga kewarasan pikiran serta mengasah kepekaan empati pedagogis di tengah beban formalitas persekolahan.
Baca Juga : Jurnalis InsertRakyat.com Diganjar Apresiasi Literasi Sejarah
Satu dekade terakhir, gerakan literasi di Kabupaten Pasaman Barat memang tumbuh dengan baik. Di daerah ini, banyak sahabat penggerak literasi—mulai dari penulis, guru, pustakawan, hingga pengelola taman bacaan masyarakat—yang konsisten merawat nyala membaca dan menulis. Kehadiran buku “Lelaki dari Rahimku” menjadi bukti konkret bagaimana ekosistem literasi lokal mampu melahirkan karya yang tidak sekadar puitis, tetapi juga sarat dengan cerminan realitas sosial serta pergulatan batin para pendidik.
Pergulatan tersebut terpancar kuat dalam puisi-puisi di buku ini. Puisi “Aku, Suara yang Tak Didengar” karya Amsal, misalnya, secara emosional merekam jeritan hati pendidik yang menghadapi degradasi profesi. Lewat kontras antara keindahan idealisme masa lalu (2001) dan realitas pahit masa kini (2025), penyair mengkritik beban administrasi yang tumpang tindih, rendahnya apresiasi finansial, serta hilangnya rasa hormat dari masyarakat.
Kita kutip sebait puisi itu: //Negeriku, katanya menjunjung guru/ tapi di balik pidato yang megah/ dan spanduk ucapan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’/ aku… menangis dalam diam.//
Bait di atas menjadi puncak kritik sosial, menggambarkan kontras tajam antara retorika manis penghargaan dan penderitaan nyata di lapangan. Dengan bahasa yang lugas namun menyayat hati, puisi ini menjadi refleksi kritis atas pudarnya empati terhadap ketulusan seorang pendidik.
Sementara itu, puisi “Mega di Balik Malang” karya Ani Sofia menggambarkan nostalgia penuh kehangatan sekaligus perjuangan hidup sederhana sebuah keluarga. Melalui rentetan ingatan masa kecil, seperti sepatu rusak, seragam kehujanan, asap tungku kayu, hingga penerangan lampu teplok yang remang, penyair membawa pembaca merasakan pahit manisnya kenangan masa lalu. Kita baca: //Ibu meniup kayu basah di perapian/ Asap mengepul seisi ruang, menusuk mata/ Lampu teplok dipaut dengan gagahnya/ Namun, cahaya bertamu remang/ Dulu sekali…//
Bait tersebut memperlihatkan ketabahan dan kerja keras orang tua di tengah keterbatasan. Suasana haru dan visualisasi romantisme kesederhanaan terpancar kuat lewat ritme bahasa yang lembut. Penutup puisi memberi resolusi indah: penderitaan (malang) masa lalu akhirnya berbuah kedamaian (mega). Ayah kini beristirahat dengan tenang dan Ibu tersenyum sumringah, menegaskan bahwa ketulusan perjuangan keluarga selalu membuahkan kebahagiaan pada waktunya.
Nada optimisme serupa hadir dalam puisi “Menjalin Mimpi di Atas Luka” karya Agusnila Citra Sari yang menyuarakan ketangguhan jiwa dari penderitaan. Melalui metafora reruntuhan dan tanah retak, penyair menggambarkan proses merangkai kembali asa yang sempat hancur dengan sisa-sisa keberanian. Rasa sakit masa lalu tidak dijadikan alasan untuk menyerah, sebaliknya diubah menjadi sumber kekuatan baru.
Mari kita baca sebait puisi Agusnila Citra Sari: //Aku belajar dari reruntuhan itu/ Bahwa tanah yang retak/ Adalah tempat yang paling kokoh/ Menumbuhkan benih menuju cahaya//
Bait ini menegaskan bahwa titik terendah dalam hidup justru dapat menjadi landasan terkuat untuk bangkit. Dengan gaya bahasa yang lugas dan inspiratif, puisi ini menyampaikan pesan universal bahwa luka dan kegagalan adalah proses pembentukan karakter. Sayap-sayap mimpi yang dibangun di atas ketegaran akan membawa seseorang melesat tinggi menggapai masa depan.
Dimensi keimanan dan ketenangan keluarga diangkat oleh Dewi Pitra dalam puisinya, “Di Bawah Langit Bahagia”. Puisi ini menyampaikan narasi ketakwaan, ketabahan, dan rasa syukur atas karunia pernikahan yang sakral. Lewat analogi alam yang lembut, seperti hujan, fajar, dan senja, penyair menggambarkan perjalanan spiritual seorang perempuan yang menanti cinta halal hingga akhirnya dipertemukan dengan sosok pendamping yang bertanggung jawab.
//Kami menjaga rasa/ seperti menjaga api dari angin/ hingga akad menjadi fajar/ yang memecah gelap/ menghalalkan cinta dan menghidupkan harap.//
Bait di atas mengunci esensi kesucian ikatan pernikahan. Penulis berhasil menangkap momen krusial kebangkitan kebahagiaan saat ikatan dipersatukan secara religius dan bersahaja.
Sebaliknya, nada satir yang menohok hadir dalam puisi “Sembuh Karena Terbiasa” karya Ermayeli. Puisi ini menyuarakan kritik sosial yang tajam mengenai keputusasaan rakyat atas kondisi bangsa. Menggunakan metafora penderitaan fisik, seperti tubuh perih, mata katarak, hingga gigi berulat, penyair menggambarkan kelumpuhan rasa keadilan di tengah dinamika politik yang kontras antara penguasa dan rakyat kecil.
Kita simak: //Ataukah aku akan sembuh karena terbiasa?/ Sembuh karena bebal/ sembuh karena mati rasa.//
Bait tersebut menjadi puncak refleksi yang mempertanyakan apakah “kesembuhan” yang dirasakan sejatinya adalah pemulihan nyata atau sekadar kepasrahan ironis akibat kebal dan mati rasa terhadap ketidakadilan yang dinormalisasi.
Perenungan atas alam dan kearifan lokal ditunjukkan oleh Elsi Zahrawati melalui puisinya, “Rimba Tak Bertuan”. Puisi ini menyajikan lukisan alam liar yang sarat akan misteri dan ketenangan. Melalui personifikasi yang hidup, seperti angin yang menabuh gendang rindu dan akar yang memeluk tanah, penyair membawa pembaca menelusuri sudut hutan yang terisolasi namun menyimpan jiwa kebebasan yang murni.
Kita baca sebait puisi Elsi Zahrawati: //Rimba ini, rimba tak bertuan/ Memelihara misteri yang tak tersentuh/ Menjadi rumah bagi jiwa-jiwa bebas/ Di sini, hidup berjalan dengan tenang/ Dan alam mengajar tentang sabar dan diam//
Dengan diksi yang kontemplatif, puisi ini menyampaikan pesan filosofis bahwa kedamaian sejati sering kali ditemukan saat manusia mau berserah dan menyatu bersama alam.
Kehangatan ikatan keluarga kembali mengemuka dalam puisi yang menjadi judul buku ini, “Lelaki dari Rahimku” karya Lina Sy. Puisi ini menyampaikan dinamika kasih sayang naluriah seorang ibu terhadap anak laki-lakinya secara haru. Lewat alur waktu bertahap, penyair mengabadikan transformasi sang anak, dari jeritan tangis bayi yang ringkih hingga bertumbuh menjadi sosok dewasa yang tangguh bagaikan karang.
Kita simak juga sebait puisi Lina Sy: //Lelaki yang lahir dari rahimku/ tumbuh dengan keyakinan tunggal/ bahwa akulah muara kepulangannya.//
Bait di atas mengunci esensi hubungan batin tersebut. Ibu tidak hanya diposisikan sebagai tempat awal mula kehidupan, tetapi juga rumah spiritual dan tempat berlabuh yang selalu dinantikan sepanjang hayat.
Duka dan keikhlasan mendalam diekspresikan oleh Nurjati dalam puisinya, “Titipan”. Puisi ini secara jujur menyuarakan kepedihan seorang ibu yang harus kehilangan buah hatinya. Melalui alur emosi yang dramatis, bermula dari rasa syukur atas nikmat keibuan hingga kehancuran jiwa saat sang anak berpulang, penyair menggambarkan benturan psikologis ketika dihadapkan pada perpisahan yang tak terduga.
Satu bait dari puisi itu sangat menyentuh: //Mengapa … Ya… Allah/ Semua berkata … Itu TITIPAN/ Ya.. Titipan/ Kata itu mudah diucapkan/ Namun …. Perih untuk dirasakan.//
Ungkapan bahwa anak adalah “titipan” mungkin mudah diucapkan sebagai penghiburan oleh orang lain, namun terasa amat berat diikhlaskan oleh ibu yang mengalaminya sendiri. Puisi ini menjadi wujud katarsis tentang duka dan perjuangan menerima takdir, dan tidak banyak orang kuat menanggungnya.
Tragedi lingkungan dan kebencanaan diabadikan oleh Novaria Zahara dalam “Penghujung Tahun yang Kelabu”. Puisi ini secara dramatis merekam luka ketakutan akibat bencana alam di akhir tahun seperti terjadi akhir 2025 lalu. Melalui personifikasi bumi yang “patah hati” dan sungai yang “mengangkat amarahnya”, penyair menggambarkan betapa cepatnya kehidupan dan impian runtuh tersapu longsor serta banjir lumpur.
Kita kutip sebait puisi Novaria Zahara: //Penghujung tahun ini kelabu/ Tak ada lagi kembang api/ hanya sirine dan suara takziah/ Yang silih berganti.//
Bait di atas menangkap kontras tajam antara perayaan akhir tahun yang biasanya meriah dengan realitas pahit yang dipenuhi kepedihan, sekaligus menyelipkan ajakan reflektif untuk memelihara bumi agar bencana serupa tak terulang.
Dilema pengabdian seorang pendidik terekam menyentuh dalam puisi “Ayah di Antara Doa dan Jarak” karya Rori Harapan. Penyair menyuarakan pergulatan batin seorang guru yang terpisah jarak dari ayahnya yang sedang terbaring sakit. Ia membimbing anak-anak orang lain di kelas, sementara di saat bersamaan merindukan sang ayah yang berjuang melawan lumpuh di rumah. //Aku mengajar anak-anak orang lain/ Sementara kau berjuang melawan lumpuh dan lelah/ Maaf jika tanganku tak selalu di sisimu/ Hanya doa selepas azan yang selalu menyebut namamu lebih dulu.//
Rasa bersalah karena tak bisa selalu mendampingi diubah menjadi bait-bait doa tulus. Puisi ini menjadi penghormatan mendalam kepada figur ayah sebagai sosok guru kehidupan pertama.
Penghormatan terhadap ketulusan pendidik juga digaungkan oleh Winda Ariani dalam puisinya, “Guru di Antara Tiang-Tiang Tua”. Puisi ini menyampaikan apresiasi mendalam kepada sosok guru pesantren yang mengabdi dalam keterbatasan fisik dan marjinalisasi fasilitas.
Kita kutip sebait puisi Winda Ariani: //Kau, guru yang statusnya entah di mana, tetapi jiwamu tegak seperti menara/ tak mencari pujian, tak menuntut kemewahan/ hanya berharap ridha Tuhan/ dan senyum murid-muridmu yang belajar arti sabar/ dan ikhlas dari setiap gerak langkahmu.//
Di tengah ketidakjelasan status dan ketidakadilan zaman, sang guru memilih untuk tetap berdiri kokoh membagikan ilmunya. Puisi ini menyajikan refleksi menyentuh tentang keikhlasan sejati seorang pendidik.
Sebagai penutup perenungan, puisi “Pusara Senja” karya Yurnalis menggambarkan kepasrahan dan kesunyian di detik-detik akhir perjalanan hidup manusia. Menggunakan metafora senja dan pusara, penyair melukiskan kelelahan fisik maupun jiwa setelah melewati perjuangan panjang di dunia.
//Tergeletak di ujung senja/ Berayun-ayun di bibir pusara/ Untaian kata kini terhenti/ Kala senja datang menyapa sepi//
Bait di atas menangkap batas tipis antara kehidupan dan kematian. Ketika gema tawa dan hiruk-pikuk duniawi tak lagi tersisa, yang tertinggal hanyalah kepasrahan mutlak saat manusia kembali ke pangkuan keabadian.
Kehadiran buku antologi Lelaki dari Rahimku karya para guru di Pasaman Barat ini memperlihatkan bahwa puisi bukanlah sekadar tempat pelarian estetis atau jeritan emosional belaka. Lebih jauh dari itu, karya-karya ini menjadi dokumen sosial dan spiritual yang merekam persinggungan nyata antara tugas pengabdian, pergulatan hidup pribadi, serta kepekaan atas dinamika kebangsaan. Di tengah riuh rendah kurikulum dan beban administratif pendidikan yang kerap mereduksi profesi guru menjadi sebatas teknisi kelas, daya cipta literer seperti inilah yang menjaga marwah serta kedalaman jiwa seorang pendidik.
Dari pelosok Pasaman Barat, para guru ini telah membuktikan bahwa keterbatasan jarak dan beban kerja bukanlah penghalang untuk terus bersuara dan berkarya. Ketika seorang guru terus merawat tradisi menulis dan membagikan refleksi hidupnya kepada publik, ia tidak hanya sedang menyembuhkan jiwanya sendiri, tetapi juga sedang menanamkan benih keteladanan literasi yang paling autentik bagi generasi mendatang. Dari rahim pemikiran para guru inilah, masa depan literasi bangsa terus dirawat dan dihidupkan. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis













