Oleh Muhammad Subhan

SUNGGUH, aku ingin hidup lebih lama. Tapi takdir berkata lain. Aku mati. Dibunuh asap karhutla yang membumihanguskan tanah dan pohon-pohon leluhurku di Bumi Borneo ini.

Hutan tempat aku dilahirkan itu habis dilumat bara. Aku mencoba menyelamatkan diri. Aku berjalan dan berlari sejauh-jauhnya. Melompat dari satu pohon ke pohon lain. Tapi api dan kepulan asap terus mengejarku. Aku terjatuh, berguling, dan berkali-kali tak sadarkan diri.

Di suatu tempat yang entah di mana, dalam ketidaksadaranku, ada tangan-tangan manusia yang menyentuhku. Aku membuka mata pelan. Aku kehausan. Mereka memberiku minum, memeluk tubuhku, dan memberikan penanganan medis. Tapi gangguan pernapasan parah yang kualami sudah di titik akhir. Nyawaku berada di ujung tanduk.

Kalaulah aku selamat dan berhasil dipulihkan oleh manusia-manusia yang masih memiliki nurani itu, ke mana aku hendak pulang? Rumahku sudah tak ada lagi. Keluargaku lenyap. Saudara-saudaraku entah di mana kini. Terakhir kulihat mereka histeris, berlarian ke sana kemari ketika lidah-lidah api terus menjalar dan mengejar, menghanguskan pohon-pohon besar yang selama ini memberi naungan dan kehidupan bagi kami.

Bukan kaumku saja yang mengalami neraka lebih cepat di bumi. Burung-burung kehilangan sarang, anak-anak mereka terpisah dari induknya. Ular keluar dari persembunyian karena tanah yang dipijak berubah menjadi bara. Rusa-rusa berlari tanpa tahu arah. Monyet-monyet memanjat pohon yang sebentar kemudian ikut terbakar. Semut, kupu-kupu, kumbang, dan makhluk-makhluk kecil lainnya binasa tanpa pernah mengerti mengapa rumah mereka mendadak hangus.

Mengapa harus hutan-hutan kami yang selama ini damai? Mengapa?

Baca Juga :  Menoleh Pernyataan BSKDN Kemendagri : Pengolahan Sampah Masuk Proyek Strategis Nasional

Siapa yang dapat menjawab? Dan masihkah ada nurani yang tersisa untuk kami? Oh, Tuhan!

Aku Sempurna. Begitulah manusia-manusia yang menyelamatkanku memanggilku. Mungkin mereka berharap aku kembali pulih. Bernapas tanpa sesak, memanjat pohon tanpa ketakutan, memeluk dahan dengan kedua tanganku, dan menatap matahari dari sela-sela daun seperti yang dulu kulakukan.

Tapi aku tahu, ada hal mendasar yang tidak akan pernah pulih seperti sedia kala.

Hutanku. Ya, hutan kami telah lenyap. Tanah bermain masa kecilku telah menjadi abu. Pohon-pohon yang menjadi tempat mencari makan dan berlindung dari hujan serta terik telah tumbang. Sungai yang dahulu jernih kini mengalirkan lumpur dan sisa-sisa jelabu. Udara yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi racun yang mematikan.

Kalaupun aku selamat, aku tetap kehilangan rumah. Bukankah manusia juga merasakan kepedihan yang sama jika rumahnya dibakar atau terbakar hingga rata dengan tanah?

Aku sering bertanya dalam diam, mengapa manusia begitu mudah menebang dan membumihanguskan pohon, padahal pohon tidak pernah meminta apa-apa selain dibiarkan tumbuh? Mengapa hutan dibakar, padahal dari sanalah udara dihirup, air disimpan, tanah dijaga, dan keberlanjutan berbagai makhluk dipertahankan?

Sebagian manusia pelaku industri mungkin akan berdalih bahwa pembukaan lahan dibutuhkan demi pembangunan, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Namun, apakah pembangunan harus berdiri di atas bangkai ekosistem yang hancur? Apakah demi keuntungan jangka pendek segelintir pihak, kita berhak mengorbankan masa depan lingkungan hidup seluruh penghuni bumi?

Apakah manusia lupa bahwa bumi ini bukan milik satu spesies saja?

Kami juga tinggal di sini. Kami juga bernapas. Kami juga memiliki kelompok dan keturunan. Kami juga ingin bertahan hidup. Hidup lebih lama seperti juga yang diinginkan manusia.

Baca Juga :  Kemendagri Warning Pemda : Harga Emas dan Pangan Mulai Merangkak Jelang Nataru, Picu Inflasi

Suara ini mungkin tidak pernah terdengar dari mulutku. Sebab aku hanyalah seekor orangutan. Aku tidak bisa berbicara bahasa manusia. Tapi lihatlah tatapan mataku yang sayu, tubuhku yang kurus, napasku yang tersengal, dan jemariku yang gemetar sudah lebih dari cukup untuk menyampaikan segalanya. Dan kini, mata itu sudah terpejam. Jantungku sudah tak berdetak lagi.

Jika masih ada nurani di dalam dada manusia, dengarkanlah…. Jangan biarkan kematianku sekadar menjadi angka statistik di antara daftar korban karhutla. Jangan biarkan kematian kami hanya menjadi berita seremonial yang ramai beberapa hari, lalu dilupakan begitu saja ketika asap menghilang dari langit. Bagi kami, kerusakan hutan bukanlah sekadar wacana atau isu musiman. Itulah pemusnahan ruang hidup.

Hari ini mungkin aku yang mati. Tapi, setelah ini, entah siapa lagi. Tidak insafkah manusia bahwa akhirnya mereka juga kelak akan menanggung bencana akibat kerusakan ekologis ini?

Bumi yang aku dan manusia tinggali bersama ini memiliki batas daya dukung dan kesabaran. Hutan pun demikian. Jika pohon terus ditebang secara serakah dan hutan terus dibakar tanpa kendali, apa yang hendak diwariskan kepada generasi mendatang? Apakah hanya tanah gersang, udara beracun, sungai tercemar, dan legenda tentang hutan yang pernah ada?

Cukuplah aku yang menjadi korban. Ya, cukuplah aku yang dipanggil Sempurna dan kini tak sempurna lagi karena nyawaku direnggut asap kebakaran hutan. Jangan ada lagi makhluk lain yang kehilangan tempat tinggal dan populasinya karena keserakahan manusia.

Baca Juga :  Otonomi Daerah dari Awal Kemerdekaan hingga Era Proyek MBG

Biarkan anak-anak dan cucu kami tetap hidup di antara rindangnya pepohonan. Biarkan hewan-hewan lain kembali membangun sarang. Biarkan saudara-saudara kami berlari bebas di antara semak belukar. Biarkan sungai mengalir jernih tanpa jelabu. Biarkan hutan menjadi benteng kehidupan, bukan kuburan massal.

Bumi bukanlah milik generasi hari ini semata, tapi titipan yang harus dijaga dan diserahkan kembali kepada kehidupan masa depan dalam kondisi baik.

Aku memang telah pergi. Selamanya…. Aku berterima kasih kepada manusia-manusia yang baik hati dan berusaha menyelamatkan nyawaku. Semoga kematianku ini mengetuk pintu kesadaran manusia, agar mereka mau berhenti sejenak dari egoisme eksplorasi tanpa batas. Menatap hutan, menatap langit, menatap sungai. Lalu bertanya ke lubuk hati paling dalam, “Sampai kapan bumi harus menanggung luka yang kian nganga?”

Aku pergi… Sungguh, di balik embusan napas terakhir yang sesak ini, tidak ada kebencian yang kubawa. Bersama pepohonan yang telah menjadi abu, aku tetap mendoakan kebaikan bagi manusia sebagai sesama ciptaan Tuhan. Semoga setelah kepergianku, tak ada lagi api yang dinyalakan di dada hutan, tak ada lagi air mata yang jatuh di tanah yang hangus. Biarkan anak cucu manusia kelak tetap mewarisi gemerisik daun dan derap kaki satwa di balik rimba, bukan sekadar cerita tentang alam yang pernah ada lalu punah oleh keserakahan. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL
FEATURE STORY

Birokrasi · Aparatur · Indonesia 2045

BerAKHLAK Menjiwai Birokrasi TR Fahsul Falah Menuju Indonesia Emas 2045

Perjalanan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, pengembangan kompetensi aparatur, dan nilai dasar ASN dalam kerangka pembangunan nasional.

Cerita TR · Perjalanan Kedinasan

InsertRakyat.com — TR Fahsul Falah menjalani tiga penugasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri sepanjang 2018–2022, mulai dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, hingga Sekretariat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri. Perjalanan kedinasannya kemudian berlanjut ke bidang strategi kebijakan. Saat ini, Oktober 2026, ia menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik pada Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri.

Pada 2018–2020, TR bertugas sebagai Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Jabatan Fungsional, Pelaksana, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, DPRD, dan Lurah di PPSDM Kemendagri Regional Bandung. Pada 2019, ia mengikuti Training of Facilitator untuk Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dengan Agenda ANEKA. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan untuk PNS yang beralih melalui mekanisme inpassing ke jabatan fungsional Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah.

Pada 2020, TR mendapat penugasan sebagai Kepala PPSDM Kemendagri Regional Makassar. Wilayah kerja lembaga tersebut mencakup sepuluh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Salah satu kegiatan pada masa penugasan itu ialah Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan III yang berlangsung pada 15 September hingga 18 Desember 2020 dengan metode blended learning. Pesertanya berasal dari Kabupaten Bone, Bantaeng, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara. TR menyampaikan laporan penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Pada November 2020, ia juga terlibat dalam evaluasi program dan pembahasan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2021 bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian evaluasi program dan perencanaan anggaran di lingkungan PPSDM Kemendagri Regional Makassar.

Pada 2022, TR mengemban tugas sebagai Sekretaris BPSDM Kemendagri. Penugasan berikutnya membawanya ke BSKDN Kemendagri, tempat ia kini menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik. Bidang tugas tersebut berkaitan dengan strategi kebijakan pemerintahan dalam urusan kewilayahan, kependudukan, dan pelayanan publik.

Perjalanan kedinasan tersebut berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan nasional yang terus berkembang. Sejak kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh presiden dengan agenda, kebijakan, dan tantangan yang berbeda pada setiap masa pemerintahan. Pembangunan nasional berjalan melalui rangkaian keputusan dan program yang dilaksanakan oleh lembaga negara serta aparatur pemerintahan.

Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2016 di hadapan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden RI ke-7 Joko Widodo menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi para presiden terdahulu, yakni Presiden RI ke-1 Soekarno, Presiden RI ke-2 Soeharto, Presiden RI ke-3 B.J. Habibie, Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2025, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto juga menguraikan kontribusi para pemimpin sebelumnya. Presiden RI ke-1 Soekarno dikaitkan dengan pembentukan Republik Indonesia, upaya mempertahankan keutuhan wilayah, dan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI. Pada masa Presiden RI ke-2 Soeharto, agenda pemerintahan mencakup pembangunan ekonomi, swasembada pangan, dan industrialisasi.

Presiden RI ke-3 B.J. Habibie memimpin Indonesia ketika negara menghadapi krisis multidimensi pada 1998, termasuk persoalan stabilitas ekonomi dan pengembangan teknologi. Pada masa Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, stabilitas nasional serta hubungan antarkelompok masyarakat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan. Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri memimpin pada masa pemulihan ekonomi dan penguatan kelembagaan negara, termasuk menjelang pelaksanaan pemilihan presiden secara langsung pada 2004.

Pada masa Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah menangani penyelesaian konflik Aceh dan menghadapi krisis keuangan global. Presiden RI ke-7 Joko Widodo menempatkan pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan penanganan pandemi Covid-19 sebagai bagian penting dari agenda nasional. Sementara itu, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto mengangkat ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan, dan pencapaian Indonesia Emas 2045 sebagai agenda pembangunan.

Pelaksanaan agenda nasional tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan. Aparatur sipil negara (ASN) menjalankan tugas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, pengelolaan administrasi dan anggaran, hingga pelayanan kepada masyarakat. Di tingkat pusat maupun daerah, pekerjaan aparatur menjadi bagian dari proses pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Nilai dasar ASN

Dalam penyelenggaraan tugas tersebut, nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi pedoman perilaku aparatur. Nilai ini ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021. BerAKHLAK mencakup tujuh nilai dasar, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif, dengan semboyan “Bangga Melayani Bangsa”.

Berorientasi Pelayanan menekankan pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang sesuai ketentuan. Akuntabel berkaitan dengan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas, penggunaan kewenangan, dan pengelolaan sumber daya. Kompeten menekankan penguasaan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Harmonis berkaitan dengan penghormatan terhadap perbedaan dan hubungan kerja yang baik.

Loyal berarti memegang teguh Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta pemerintahan yang sah sesuai ketentuan. Adaptif berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kolaboratif menekankan kerja sama antarpihak dalam pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan organisasi.

Ketujuh nilai tersebut menjadi bagian dari kerangka perilaku ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan. Penerapannya berkaitan dengan tata cara memberikan pelayanan, mempertanggungjawabkan pekerjaan, meningkatkan kompetensi, menjaga hubungan kerja, memegang teguh ketentuan, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta membangun kerja sama.

Dalam perjalanan kedinasan TR Fahsul Falah, penugasan di PPSDM Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, Sekretariat BPSDM Kemendagri, dan BSKDN Kemendagri tercatat dalam rentang tugas yang berbeda. Masing-masing berada pada lingkungan kerja dengan ruang lingkup tanggung jawab yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi aparatur, administrasi kelembagaan, dan strategi kebijakan pemerintahan.

Indonesia Emas 2045 merupakan sasaran pembangunan jangka panjang yang mencakup berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia, perekonomian, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik. Pencapaiannya melibatkan peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam lingkup pemerintahan, ASN menjalankan tugas sesuai kedudukan, kewenangan, dan tanggung jawabnya.

Nilai dasar BerAKHLAK menjadi salah satu pedoman bagi ASN dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut. Semboyan “Bangga Melayani Bangsa” melekat pada agenda penguatan budaya kerja aparatur, sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari berlangsung melalui prosedur, program, koordinasi, dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan. Dalam kerangka pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, birokrasi menjadi bagian dari pelaksanaan agenda nasional melalui pekerjaan aparatur di setiap tingkat pemerintahan.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL · MOBILE EDITION
TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com

Literasi

Bilik Elipsis | InsertRakyat.com

Bilik Elipsis

Sastra, sajak, cerita, dan apresiasi karya.

Karya Pilihan

Ruang Sastra