NEPAL, INSERTRAKYAT.COM, — Rangkaian bencana gletser dan banjir bandang di Nepal bermula dari dinamika kriosfer di kawasan elevasi tinggi Pegunungan Himalaya. Pemanasan suhu atmosfer disebut [kajian ilmiah] mempercepat pencairan es dan memengaruhi kestabilan gletser.

Menurut Dr. Daryono, anggota IABI, peningkatan lelehan es menembus celah-celah gletser gantung (hanging glacier) dan terakumulasi di antara es serta batuan penopang. Kondisi itu mengurangi daya gesek dasar gletser dan melemahkan stabilitas massa es di lereng terjal.

Baca Juga :  BPS Sulbar Gandeng KPP Mamuju Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Ketidakstabilan kemudian mencapai titik kritis hingga massa es dan batuan dalam volume besar runtuh secara mendadak (glacier collapse). Material tersebut jatuh dari ketinggian lebih dari satu kilometer menuju dasar lembah.

Benturan dengan energi kinetik besar menghancurkan material menjadi pecahan es, lumpur, dan air lelehan. Energi benturan disebut sebanding dengan guncangan tektonik skala sedang berkekuatan magnitudo 5,0–5,2.

Runtuhan es dan material longsoran menyumbat alur sungai hingga membentuk bendungan alami berupa material longsoran dan es. Penyumbatan menahan aliran sungai serta air lelehan dari hulu sehingga terbentuk danau sementara.

Baca Juga :  Kabar Gembira Datang Dari PT. PELNI

Saat struktur penahan tidak lagi mampu menahan tekanan air, bendungan tersebut jebol. Pelepasan air dalam volume besar kemudian memicu outburst flood yang membawa lumpur, batuan, es, dan material debris ke arah hilir.

Gelombang banjir bergerak cepat dan meningkatkan muka air sungai dalam waktu singkat. Aliran debris yang bermassa lebih besar daripada air biasa dapat merusak bantaran, jembatan, serta permukiman di sepanjang aliran.

Baca Juga :  Anak Ceria Ditemani Bermain Kapolsek Sinjai Timur Saat Patroli di Tempat Wisata

“Korban meninggal telah mencapai 392 orang per Jumat, 28 Agustus 2026,” kata Daryono dalam keterangannya kepada Insertarakyat.com saat dihubungi siang ini. “Fenomena ini (Bencana Nepal)  menggambarkan rangkaian — waspada bahaya (cascading hazard) dari kawasan gletser hingga wilayah hilir,” kunci Daryono mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Indonesia.

.

.

.

Penulis : Luthfi N.Syam

Editor    : Supriadi Buraerah

JELAJAHI INFORMASI

Baca berita dan informasi terbaru dari berbagai kategori. Klik tombol Baca Berita Pilihan untuk melihat selengkapnya.

BERITA TERKINI EDITORIAL

Bilik Elipsis

Ruang sastra, gagasan, dan percakapan kehidupan.

Ruang Renungan Setiap zaman berganti, tetapi manusia selalu mencari arti kehidupan. Renungan Bilik Elipsis
Jelajahi Bilik Elipsis →