ACEH UTARA, INSERTRAKYAT.COM — Akses berlumpur, genangan air, dan jalan nyaris terputus tidak menyurutkan langkah Ketua DPC PDI Perjuangan Aceh Utara, Syibral Mulasi, S.H., untuk menjangkau warga Gampong Lhok Gunci, Kecamatan Sawang.

Bersama kader dan relawan, Syibral menembus wilayah yang terisolir akibat dampak bencana dan buruknya infrastruktur jalan.

Perjalanan menuju Lhok Gunci penuh tantangan. Jalur sempit dengan lumpur tebal memaksa rombongan berjalan kaki di sejumlah titik.

BACA JUGA :  9 Kecamatan Dilanda Bencana di Sinjai Sulawesi Selatan

Beberapa kendaraan bahkan harus ditinggalkan karena tak mampu melintasi medan berat.

Namun kondisi tersebut dianggap sebanding dengan kebutuhan warga yang telah berhari-hari hidup dalam keterbatasan akses.

“Ini bukan soal pencitraan, tapi soal kemanusiaan. Ketika rakyat terisolir, maka kewajiban kami adalah hadir langsung,” ujar Syibral di sela penyaluran bantuan.

DPC PDI Perjuangan Aceh Utara menyalurkan bantuan logistik berupa sembako, kebutuhan dasar rumah tangga, serta bantuan darurat.

BACA JUGA :  POLRI UNTUK MASYARAKAT BERTINDAK CEPAT, SINJAI TERDAMPAK BENCANA! 

Penyaluran dilakukan langsung dari rumah ke rumah dan ke lokasi pengungsian agar bantuan tepat sasaran.

Prioritas diberikan kepada lansia, perempuan, dan anak-anak yang terdampak paling rentan.

Kehadiran rombongan disambut haru oleh warga Lhok Gunci. Sejumlah warga mengaku selama ini merasa terabaikan akibat sulitnya akses dan minimnya perhatian.

Bagi mereka, kehadiran PDI Perjuangan Aceh Utara menjadi harapan di tengah kondisi yang serba terbatas.

BACA JUGA :  Tahun Baru, Longsor Baru: Ketika Kebijakan Tanggap Bencana Kehilangan Arah

“Kami tidak ingin hanya menerima laporan. Kami ingin melihat langsung dan berdiri bersama rakyat,” tegas Syibral.

Ia juga mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera mengambil langkah konkret membuka kembali akses jalan ke Lhok Gunci.

“Wilayah terisolir tidak boleh dibiarkan terlalu lama karena menyangkut keselamatan dan masa depan warga,” pungkasnya.