Oleh Muhammad Subhan

PADA awal menjadi mahasiswa, ketika tidak ada orang tua yang membekali uang jajan, saya berpikir keras tentang pekerjaan apa yang bisa menghidupi saya di Padang. Padang adalah kota besar pertama yang saya jejaki setelah meninggalkan Aceh setamat SMA.

Ketika pintu-pintu pekerjaan formal terasa tertutup, saya pulang ke dalam diri, mencoba mengenali potensi apa yang dapat dikembangkan. Setelah merenung panjang, jawaban itu akhirnya saya temukan: menulis.

Ya, menulis itulah yang hingga kini menjadi pekerjaan dan jalan hidup bagi saya.

Apa yang saya tulis?

Entah sebuah kelebihan atau justru kelemahan, saya menulis semua jenis tulisan. Mulai dari puisi, cerpen, novel, esai, hingga karya jurnalistik berupa berita dan feature. Jarang sekali saya hanya menekuni satu bidang kepenulisan, kecuali akhir-akhir ini, ketika saya memang lebih banyak menulis esai.

Saat pertama kali menulis di perantauan, selain cerpen dan puisi, saya banyak menulis resensi buku. Mengapa resensi? Pada masa itu, cukup sulit mendapatkan honor yang memadai dari cerpen dan puisi karena persaingannya sangat ketat. Sebaliknya, lini resensi buku belum banyak dilirik, sehingga peluangnya jauh lebih terbuka.

Modalnya hanya beberapa judul buku baru terbitan penerbit besar. Saya membelinya di toko buku, membacanya hingga tuntas, kemudian menulis resensinya. Naskah resensi itu saya kirim ke koran. Setelah terbit, kliping cetaknya saya kirimkan kembali kepada penerbit yang menerbitkan buku tersebut.

Siapa sangka, banyak penerbit yang sangat mengapresiasi langkah itu. Dua pekan kemudian, sebuah paket kiriman biasanya sampai ke rumah saya. Isinya berupa setumpuk buku baru, disertai honor beberapa ratus ribu rupiah, dan selembar surat ucapan terima kasih.

Sejak saat itulah, saya makin gigih menulis resensi buku, khususnya untuk koran-koran lokal di Padang. Setidaknya, dari aktivitas tersebut, kebutuhan hidup saya sebulan sebagai mahasiswa dapat terpenuhi. Bonusnya, saya mendapatkan koleksi buku-buku terbaru yang terus menambah isi rak perpustakaan pribadi saya.

BACA JUGA :  Merawat Ingatan di “Meja Satu” Tempoa Art Jambi

Kebiasaan membaca dan menulis ini tentu tidak lepas dari peran guru-guru saya di sekolah dulu. Mereka tidak sekadar menerangkan pelajaran di depan kelas, tapi juga selalu merekomendasikan buku-buku pengayaan untuk dilahap. Saya dan siswa lainnya kerap diminta ke perpustakaan, mencari buku yang dimaksud, lalu membacanya dengan sungguh-sungguh.

Tidak hanya buku, sekolah kami juga rutin berlangganan majalah setiap bulan. Salah satunya adalah majalah sastra Horison. Dari lembaran majalah itulah, benih kecintaan pada dunia literasi mulai bertunas di benak saya.

Pengalaman masa lalu itu menyadarkan saya bahwa membaca bukan lagi sekadar tugas, sebaliknya sebuah petualangan yang membuka banyak jalan menuju pengetahuan. Aktivitas ini menjadi jauh lebih menantang jika buku yang dibaca kemudian diresensi.

Kita tahu bahwa membaca buku memberikan ruang yang jauh lebih luas bagi perkembangan intelektual anak. Buku menghadirkan cerita, ide, dan perspektif yang memungkinkan siswa berimajinasi sekaligus mengasah daya kritis. Ketika siswa diminta menulis resensi dari buku yang dibacanya, mereka tidak hanya mengingat isi bacaan, tapi juga belajar merumuskan pendapat, menyusun argumen, dan mengekspresikan pemahaman mereka sendiri.

Sayangnya, pemandangan kontras terjadi hari ini. Anak-anak hidup dalam ekosistem yang sangat dekat dengan gawai. Banyak dari mereka jauh lebih akrab dengan layar ponsel daripada buku. Waktu luang yang dahulu mungkin diisi dengan membaca, kini sering tersedot oleh media sosial, gim daring, atau video pendek yang datang tanpa henti.

BACA JUGA :  "Padangpanjang 999", Membaca Tubuh Ingatan Penyair Sulaiman Juned

Situasi ini tentu tidak bisa dibiarkan. Sekolah harus hadir sebagai ruang penyeimbang yang menjembatani kehidupan digital dengan pengalaman membaca yang mendalam. Buku memberikan sesuatu yang tidak dimiliki gawai: keheningan berpikir, kedalaman refleksi, dan kesempatan bagi pembaca untuk menelusuri gagasan secara utuh.

Namun, kebijakan membaca buku di sekolah tidak akan berjalan efektif jika tidak disertai dukungan nyata dari manajemen institusi tersebut. Perpustakaan harus dikembalikan fungsinya sebagai jantung literasi di lingkungan pendidikan. Buku-buku pengayaan perlu tersedia dalam jumlah memadai dan dengan ragam yang menarik, mulai dari sastra, agama, ilmu pengetahuan populer, biografi tokoh, hingga buku-buku inspiratif yang dapat memperluas cakrawala berpikir siswa.

Yang tidak kalah penting, buku-buku itu tidak boleh sekadar diam menjadi pajangan mati di rak perpustakaan. Guru perlu menggerakkan buku-buku tersebut melalui penugasan yang kreatif dan relevan dengan pembelajaran di kelas. Misalnya, siswa diminta membaca buku tertentu lalu mengolahnya menjadi tulisan resensi, catatan refleksi, atau mempresentasikan gagasan utamanya di depan teman-teman sekelas, plus berani mengirimnya ke media massa.

Di sinilah peran guru menjadi sangat krusial. Literasi tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori. Literasi harus diteladankan.

Guru yang rajin membaca akan lebih mudah menumbuhkan minat baca pada siswanya. Ketika guru berbicara tentang buku yang baru ia selesaikan, atau ketika ia mengutip ide segar dari bacaannya dalam proses pembelajaran, siswa akan melihat bahwa membaca adalah aktivitas yang hidup dan bertenaga.

Pendidikan sejatinya tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga membentuk kebiasaan intelektual. Salah satu kebiasaan terpenting adalah membaca. Dari membacalah lahir kemampuan memahami situasi, menyusun gagasan, dan membangun imajinasi masa depan.

BACA JUGA :  SINTESIS 2025: KPK Bentuk Armada Pemuda Anti Korupsi, Dari Literasi Menuju Aksi Terpadu

Oleh karena itu, sekolah, guru, perpustakaan, dan keluarga perlu berjalan beriringan dalam gerakan literasi ini. Anak-anak perlu melihat bahwa membaca bukan sekadar kewajiban akademis, sebaliknya jalan untuk memahami kehidupan.

Jika kebijakan membaca buku ini dijalankan dengan sungguh-sungguh dan berkelanjutan, sekolah tidak hanya akan menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal ujian. Sekolah akan melahirkan generasi yang gemar berpikir, berani bertanya, dan terus belajar sepanjang hayat. Dari halaman-halaman buku itulah, akan tumbuh benih-benih masa depan yang lebih terang bagi bangsa ini.

Mengembalikan anak ke dunia buku adalah upaya menyelamatkan kedalaman berpikir generasi mendatang dari gempuran informasi yang serba instan. Kita tentu tidak ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang hanya menyentuh permukaan, tapi hampa secara substansi. Dengan buku, kita sedang membangun fondasi karakter yang kokoh, tempat imajinasi dan nalar berjalan beriringan untuk menjawab persoalan dunia yang kian kompleks.

Mari jadikan setiap sudut sekolah dan rumah sebagai oase literasi. Jangan biarkan buku-buku itu diam membisu, tapi biarkan ia bersuara melalui diskusi-diskusi hangat di meja makan dan ruang kelas. Dukungan orang tua di rumah untuk mendampingi anak membaca adalah napas tambahan bagi kebijakan ini agar tidak layu sebelum berkembang.

Perjalanan ini memang panjang, melelahkan, dan penuh tantangan. Namun, hasilnya adalah investasi kemanusiaan yang tak ternilai harganya. Ketika seorang anak mulai mencintai buku, ia sebenarnya telah memegang kunci untuk membuka jendela dunia. Mari kita pastikan kunci itu tidak pernah lepas dari tangan mereka, agar mereka mampu melangkah dengan percaya diri menuju masa depan yang dicita-citakan. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, fouder Sekolah Menulis elipsis