JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Aliansi Pemuda Dan Pelajar (AP2) Indonesia melalui Kepala Devisi Pergerakan Dan Advokasi DPP AP2 Indonesia, Firmansyah
mendesak Menteri PU, Dody melakukan evaluasi terhadap Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang terkait pengelolaan anggaran APBN Rp93 Miliar pada kegiatan rehabilitasi irigasi (DI) persawahan masyarakat di Kabupaten Sinjai.

“Menteri PU, Dody idealnya melakukan evaluasi terhadap kinerja BBWS Pompengan Jeneberang. Hasil Investigasi Tim AP2 mengungkap sejumlah kejanggalan salah satunya terkait spesifikasi teknis dan pengaturan dalam subkon dari PT Waskita Karya (Persero). Jadi proyek ini dilaksanakan oleh subkontraktor yang masing-masing ditunjuk oleh PT PT Waskita Karya,” jelas Firmansyah di Jakarta, Ahad malam (17/5).

“Terkait semua inti hasil Investigasi akan dituangkan dalam dokumen yang menjadi laporan ke Kementerian PU dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),” lanjut Firmansyah.

Menurut Firmansyah AP2 juga akan mendatangi Kantor DPRI untuk menyampaikan aspirasi agar DPRRI menggelar Rapat Degar Pendapat terkait ketimpangan yang terjadi pada pengelolaan anggaran proyek Kementerian PU.

Labtas, ditanya terkait esensi kegiatan yang berkaitan dengan BBWS Pompengan Jeneberang, Firman menjelaskan bahwa berdasarkan hasil Investigasi rehabilitasi irigasi (DI) irigasi ini tersebar di 39 titik yang masuk dalam program rehabilitasi di sejumlah kecamatan di Kabupaten Sinjai.

Bahkan Firmansyah menegaskan bahwa program rehabilitasi, antara lain DI Hilalang di Desa Songing, Kecamatan Sinjai Selatan, dengan outcome lima hektare dan target saluran sepanjang 525 meter.

Kemudian DI Bole di Kecamatan Sinjai Tengah dengan outcome 16 hektare dan target rehabilitasi saluran sepanjang 650 meter.

Selanjutnya DI Tippulue-Kalobba di Desa Saohiring, Kecamatan Tellu Limpoe, dengan outcome 70 hektare dan target rehabilitasi saluran sepanjang 5.516 meter.

Ada pula DI Pattongkoe di Desa Kalobba dengan outcome 9,04 hektare yang mencakup rehabilitasi empat pintu air dan saluran sepanjang 732 meter.

Sementara itu, DI Balimengko II di Desa Pattongko disebut memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 656 meter dengan outcome tiga hektare.

Di Desa Samaturue, Kecamatan Tellu Limpoe, proyek rehabilitasi DI Pokko juga masuk dalam daftar kegiatan dengan outcome 22 hektare dan target pembangunan talang serta saluran sepanjang lebih dari 700 meter.

Selain itu, DI Aparang II di Kecamatan Sinjai Selatan juga tercatat memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 3.922 meter dengan outcome 50 hektare.

Kemudian DI Esa Songka di Desa Palangka dengan outcome 13 hektare dan target saluran sepanjang 883 meter.

Pada wilayah Sinjai Barat, DI Buke II di Desa Gunung Perak tercatat memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 1.407 meter dengan outcome 23 hektare.

Sementara DI Lembangnge di Kecamatan Sinjai Borong mencakup rehabilitasi dua talang, dua pintu air, dan saluran sepanjang 700 meter.

Hasil Investigasi juga mencatat proyek rehabilitasi DI Biroro di Kecamatan Sinjai Timur dengan target saluran sepanjang 622 meter, serta DI Borong Kalukue di Kecamatan Tellu Limpoe yang memiliki target saluran sepanjang 1.659 meter.

Di Kecamatan Bulupoddo, proyek rehabilitasi DI Bulu Ase Waeputtang di Desa Lamatti Riattang tercatat memiliki outcome 19 hektare dengan target saluran sepanjang 750 meter.

Selanjutnya DI Borong Pao di Kecamatan Sinjai Timur memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 215 meter.

DI Manalohe II di Desa Massaile, Kecamatan Tellu Limpoe, mencakup rehabilitasi dua pintu air dan saluran sepanjang 1.699 meter dengan outcome 19,5 hektare.

Sedangkan DI Liu Sirie di Kecamatan Sinjai Borong memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 1.022 meter.

Pada DI Arungan di Desa Massaile, Kecamatan Tellu Limpoe, rehabilitasi saluran ditargetkan sepanjang 940 meter dengan outcome 22 hektare.

DI Galung Lappa di Kecamatan Sinjai Selatan juga tercatat dalam daftar kegiatan dengan target saluran sepanjang 1.250 meter dan outcome 20 hektare.

Sementara itu, DI Tallua/Laminnya di Kecamatan Sinjai Tengah memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 659 meter.

Untuk DI Pasalu di Desa Bonto, Kecamatan Sinjai Tengah, proyek rehabilitasi mencakup pembangunan satu bendung dan saluran sepanjang 270 meter.

Pada DI Tonasa di Desa Songing, Kecamatan Sinjai Selatan, rehabilitasi ditargetkan mencakup satu bendung dan saluran sepanjang 1.791 meter dengan outcome mencapai 32,20 hektare.

Sedangkan DI Harue di Desa Saotanre, Kecamatan Sinjai Tengah, memiliki target pembangunan satu bendung dan saluran sepanjang 400 meter.

Di Desa Sukamaju, Kecamatan Tellu Limpoe, DI Banda Banua Tobenni tercatat memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 1.021 meter dengan outcome 8,5 hektare.

Selanjutnya DI Bikali di Desa Saotengah memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 550 meter dengan outcome 50,60 hektare.

Pada Kecamatan Sinjai Barat, DI Bonto Sunggu di Desa Balakia memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 1.971 meter.

Sementara itu, pada lanjutan daftar kegiatan, tercatat DI Lappa Uranga di Desa Massaile, Kecamatan Tellu Limpoe, memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 1.250 meter dengan outcome 15 hektare.

DI Kalamisu Kanan di Kecamatan Sinjai Tengah mencakup rehabilitasi saluran sepanjang 1.252 meter dengan outcome 21,30 hektare.

Kemudian DI Bonto Paddu di Desa Polewali, Kecamatan Sinjai Selatan, memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 1.100 meter.

DI Sampaga/Batu Santung di Desa Erabaru, Kecamatan Tellu Limpoe, mencakup rehabilitasi saluran sepanjang 821 meter dengan outcome 19 hektare.

Pada wilayah Sinjai Barat, DI Arango I di Desa Barania dan Arabika memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 611 meter dengan outcome 30 hektare.

Sedangkan DI Lappa Batu di Desa Lembang Lohe dan Saotengah, Kecamatan Tellu Limpoe, mencakup rehabilitasi saluran sepanjang 927 meter.

DI Sapawae-Ajubalandae di Desa Kalobba dan Mannanti memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 5.516 meter dengan outcome 34,80 hektare.

DI Lembanna di Desa Bonto Salama, Kecamatan Sinjai Barat, memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 4.300 meter dengan outcome 32 hektare.

Kemudian DI Pappangkungan di Desa Arabika mencakup pembangunan empat pintu air dan saluran sepanjang 762 meter.

Sementara DI Galung Lohe di Desa Terasa, Kecamatan Sinjai Barat, memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 627 meter.

Salah satu proyek terbesar dalam daftar tersebut adalah DI Balakia I dan II di Desa Balakia, Kecamatan Sinjai Barat. Proyek ini memiliki outcome mencapai 186 hektare dengan target pembangunan enam pintu air dan rehabilitasi saluran sepanjang 5.543 meter.

DI Tangkulu di Desa Pattongko, Kecamatan Sinjai Tengah, juga tercatat memiliki target rehabilitasi saluran sepanjang 553 meter.

Sedangkan proyek dengan outcome terbesar tercatat pada DI Aparang I di Kelurahan Sangiasseri, Kecamatan Sinjai Selatan, yang mencapai 1.040 hektare. Proyek tersebut mencakup pembangunan satu pintu air dan rehabilitasi saluran sepanjang 4.247 meter.

“Untuk temuannya (hasil Investigasi,-red) kami akan tuankan ke dalam setiap dokumen, baik yang ditujukan ke Kementerian PU, KPK, BPK, dan DPR-RI,” imbuh Firmansyah.

Sejauh hasil Investigasi, proyek telah selesai dan menghabiskan anggaran Rp93 Miliar, namun belum diserahterimakan dari pihak PT PT Waskita Karya ke pemerintah.
“Ini juga menimbulkan pertanyaan besar,” kuncinya. (Tim Insertrakyat).