Oleh Muhammad Subhan

MASA paling asyik itu SMP dan SMA. Banyak orang mengakui itu. Saya juga mengakui. Zaman sekolah itu asyik sekali. Banyak kenangan.

Meski asyik, waktunya singkat. Masing-masing hanya tiga tahun. Setelah itu tamat.

Saya masih ingat, di saat menjelang EBTANAS—ujian berskala nasional yang menjadi penentu kelulusan siswa SD, SMP, dan SMA pada era 1990-an—sekolah mengumpulkan kami di lapangan upacara. Ada acara tausiah bersama, berdoa bersama, menyalami orang tua dan guru, sehabis itu bertangis-tangisan bersama.

Di kepala, yang terbayang hanya satu: apakah lulus EBTANAS atau tidak. Sebab pada masa itu, jika NEM (Nilai Ebtanas Murni) buruk, jangan harap bisa lulus, apalagi masuk ke kampus negeri favorit atau perguruan tinggi yang diimpikan. Namun, setelah pengumuman kelulusan tiba, sebuah fenomena kontras justru terjadi.

Sebagian siswa merayakannya dengan euforia berlebihan. Mereka mencoret-coret seragam sekolah dengan cat semprot warna-warni, berkonvoi di jalan raya, melanggar rambu lalu lintas, bahkan banyak yang tak berhelm. Seketika, lupalah pada tausiah dan masa bertangis-tangisan penuh haru sebelum lulus tadi.

Alasan mereka kebahagiaan perlu dirayakan karena hanya sekali seumur hidup. Namun, hal ini justru memicu kritik, kenapa harus dengan mencoret baju? Bukankah itu bentuk nir-empati dan sebuah kemubaziran?

Syukurnya, di zaman itu saya tak ikut-ikutan. Seragam saya masih aman di lemari.

Ada untungnya saya lahir dari orang tua yang hidup susah, sehingga saya tahu persis betapa sulitnya mereka memeras keringat hanya untuk membelikan sepasang seragam itu.

Seiring pergantian waktu dan kebijakan ujian nasional yang terus berubah, aksi hura-hura ini mulai ditertibkan dan dilarang. Perlahan, banyak sekolah dan siswa mulai meninggalkan tradisi buruk tersebut. Beberapa angkatan siswa memilih cara lain yang lebih kreatif dan berkesan, seperti menggunakan stiker tanda tangan yang tidak permanen, melakukan long march, bakti sosial, donasi seragam, hingga syukuran sederhana.

Cara-cara ini tampak jauh lebih keren, elegan, dan bermanfaat.

Namun begitu, tahun ini bukan berarti aksi coret-coret benar-benar hilang. Di Instagram, ruang berkumpulnya remaja Gen Z, saya sempat mengintip story mereka. Ternyata masih ada pelajar yang bangga memamerkan seragam penuh warna cat semprot. Tradisi usang itu rupanya masih berumur panjang.

Tentu, ini adalah tindakan personal yang terkadang di luar kendali sekolah maupun orang tua. Euforia masa remaja sering kali bergerak lebih cepat daripada nasihat guru dan petuah ayah-ibu.

Realitasnya, fenomena kelulusan hari ini seolah terbagi dalam dua wajah yang bertolak belakang. Di satu sisi, potret “euforia spontan” berupa coret-coret dan konvoi masih bermunculan di sejumlah daerah dan lini masa media sosial. Sebagian siswa tetap menganggapnya sebagai simbol kelucuan dan kenangan terakhir.

Namun di sisi lain, kesadaran kolektif mulai tumbuh.

Semakin banyak siswa yang justru mempertanyakan arti kebahagiaan tersebut dan memilih merayakannya dengan kegiatan yang lebih tertib, estetik, serta memiliki nilai sosial nyata.

Saya melihat perubahan ini sebagai pertanda baik. Setidaknya, generasi sekarang mulai diajak memahami bahwa kebahagiaan tidak harus diwujudkan dengan merusak sesuatu.

Seragam sekolah bukan sekadar kain. Di dalamnya terajut perjuangan panjang orang tua. Ada uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dan ada keringat yang mungkin tak pernah benar-benar diketahui anak-anak mereka.

Siswa yang memilih tidak mencoret seragam agar bisa disumbangkan kepada adik kelas atau anak-anak kurang mampu, sungguh patut dipuji. Begitu pula mereka yang memilih merayakan kelulusan dengan makan sederhana bersama guru lalu pulang dengan tenang tanpa memacetkan jalan raya.

Di sanalah sebenarnya letak kedewasaan itu tumbuh.

Pada 2015 silam, saya menulis sebuah sajak berjudul “Ode Kelulusan”. Sajak itu lahir dari kegelisahan melihat seragam sekolah dicoret-coret seolah tak punya arti. Dalam sajak itu saya menulis bahwa setiap semprotan cat warna-warni itu sesungguhnya adalah peluh dan darah ayah-ibu yang bekerja di sawah, di pasar, dan di sudut-sudut kota. Ketika seragam itu dicoret, terasa ada rasa syukur yang ikut luruh.

Puisi memang tidak selalu mampu mengubah keadaan, tapi setidaknya ia dapat mengingatkan bahwa di balik benda yang sederhana, sering kali tersembunyi perjuangan yang tidak sederhana.

Saya percaya, setiap generasi punya cara sendiri untuk merayakan kegembiraan. Adalah wajar jika anak muda membutuhkan ruang untuk bersorak dan menandai akhir masa sekolah yang tak akan datang dua kali. Namun, ekspresi itu tetap perlu dijaga agar tidak melewati batas dan tetap menghormati lingkungan sekitar. Merayakan kelulusan tidak harus dengan merusak atau membahayakan diri di jalan raya.

Kita sadar, kelulusan bukanlah garis finis untuk berpesta pora, melainkan gerbang awal menuju realitas hidup yang sesungguhnya. Jika untuk menghargai selembar kain seragam saja kita gagal, lantas bagaimana kita akan menghargai tanggung jawab yang lebih besar di masa depan?

Kegembiraan lulus sekolah tak semestinya dirayakan dengan membuang empati. Mari kita sudahi tradisi kemubaziran ini. Alih-alih mengotori seragam dengan cat semprot, alangkah lebih mulia jika pakaian itu menjadi penyambung mimpi bagi mereka yang kurang beruntung.

Jadikan kelulusan ini sebagai pembuktian bahwa kalian bukan sekadar lulus dalam angka-angka di atas kertas, tapi juga lulus dalam ujian kedewasaan dan rasa kemanusiaan.

ODE KELULUSAN
Sajak Muhammad Subhan

/1/
baju yang kaucoret itu
dengan cat semprot warna-warni
adalah peluh dan darah ayah-ibumu;
peluh yang mereka pungut di sawah, di pasar, di jalan raya
di kantor-kantor sudut kota, dan di mana-mana
tapi peluh-peluh itu, kau balas kemubaziran
meski kau pulang menegakkan kepala
membawa angka-angka begitu bangga

/2/
mungkin saja ayah-ibumu tersenyum bahagia dan haru
tapi tahukah kau di balik itu air mata mereka menggenang, melaut
tersembunyi, dan dada mereka sesak menahan perih di bilik sepi
tapi tak mampu diucapkan kepadamu, si buah hati belahan jiwa
sebab mereka ingin kau bahagia
—hingga kelak ia menutup mata

/3/
tiga tahun kau sekolah menuntut ilmu membingkai mimpi
tiga tahun pula mereka berpayah-payah
menyulam-jahit baju agar kau terlihat indah
lalu setelah kau tamat, kau lumat-lumat itu pakaian
bagai mencekik leher ayah-ibu
setelah bertahun-tahun membesarkanmu
andai baju yang kau pakai itu bisa bicara
ia akan teriak sekeras-kerasnya, menghardik kelalaianmu dan kawan-kawanmu
—percuma sekolah jika pulang membawa kesia-siaan!

/4/
tahukah kau, di luar pagar sekolah
juga di sudut desa dan pinggiran kota
remaja-remaja seusiamu berdoa siang malam
meminta penuh harap kepada Tuhan
bercucuran air mata, seguk payah hilang dahaga
berharap berbaju baru seperti bajumu
bermimpi punya tas dan sepatu bagus, seperti sepatumu
ingin diantar-jemput orang tua dengan mobil baru seperti mobilmu
tapi semua itu hanya igau di malam-malam yang mencekam
—dan kau bernasib baik, tidak seperti nasib mereka!

/5/
andai baju yang kau coret-coret itu kau jadikan sagu hati
untuk teman-temanmu yang hidup tidak sebaik hidupmu
kau telah membangun sebuah rumah di surga
yang pintu dan jendelanya adalah permata

/6/
ayolah adik-adikku, buka mata buka hatimu
jangan lagi lakukan kesalahan masa lalu
biarkan zaman kakak-kakakmu memfosil di pohon-pohon riwayat
mari bingkai hikayat baru yang menumbuhkan ketulusan
cinta kasih, empati; kepedulian yang tinggi
tanpa pamrih, tanpa kata tak!
—tak ada yang tak bisa jika kau kuasa melakukannya

/7/
untukmu yang hari ini akan pergi meninggalkan sekolah
jemputlah masa depan tanpa tanda seru dan tanda tanya
kecuali tanda tangan di mimbar-mimbar semesta

selamat menjejakkan kaki di kehidupan baru, adik-adikku
pergi jauh, sejauh-sejauhnya ke puncak impianmu
biarlah jarak memisahkan raga, tapi kenangan padamu tetap lekat di dada.

2015—2026

Editor, Supriadi Buraerah | Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

 

Follow Insertrakyat.com di whatsapp channel