Oleh Muhammad Subhan
SEWAKTU remaja, sepulang sekolah, saya sering duduk di sebuah warung milik warga keturunan di kampung masa kecil saya, Desa Keude Kruenggeukueh, Aceh Utara. Di depan warung itu, sebuah kedai lain sering memutar kaset ceramah K.H. Zainuddin MZ. Suaranya diputar sekeras-kerasnya sehingga siapa saja yang melintas dapat mendengarnya.
Saya selalu terpikat menyimak ceramah Sang “Ustaz Sejuta Umat”. Retorikanya padat memikat, diksinya kaya nuansa sastra, dan pesan-pesannya menyejukkan hati. Terilhami oleh beliau, saya kerap mengikuti lomba pidato dan menirukan gaya bicaranya. Meski lebih banyak kalah oleh peserta lain yang lebih hebat, sesekali saya berhasil juga membawa pulang piala.
Di antara sekian banyak ceramah Ustaz Zainuddin MZ, ada tiga kisah kehidupan Rasulullah SAW yang menancap kuat dan membekas dalam ingatan saya.
Kisah pertama mengenai sikap dan tindakan seorang warga Yahudi di Madinah yang saban hari meludahi Nabi setiap kali beliau melintasi jalan menuju Ka’bah. Nabi tidak pernah membalasnya dengan kemarahan, tapi tetap tenang melanjutkan perjalanan.
Suatu pagi, Nabi SAW tidak lagi melihat orang tersebut. Setelah mencari tahu, beliau mendapat kabar bahwa orang itu tengah sakit.
Nabi bergegas pulang ke rumah, membungkus makanan, lantas membawa buah tangan itu untuk menjenguknya. Betapa terkejutnya orang tersebut ketika mendapati sosok yang selama ini ia sakiti justru menjadi orang pertama yang datang membawa perhatian dan kasih sayang. Sentuhan kelembutan itu mendobrak prasangka dan kebencian hingga akhirnya ia memeluk Islam.
Kisah kedua terjadi sewaktu Nabi berdakwah ke Kota Thaif. Beliau diusir dan dilempari batu oleh penduduk setempat hingga tubuhnya berdarah. Dalam duka dan kelelahan di Qarnul Manazil (Qarnuats-Tsa’alib), Malaikat Jibril bersama malaikat penjaga gunung menawarkan tindakan balasan untuk menimpakan gunung itu kepada penduduk Thaif. Namun, Nabi menolaknya. Beliau justru berdoa agar dari keturunan masyarakat Thaif lahir generasi yang menyembah Allah. Harapan itu kelak terbukti. Dari rahim Kota Thaif lahir tokoh-tokoh ulama besar pendukung syiar Islam.
Adapun kisah ketiga adalah momen emosional menjelang wafatnya Rasulullah. Di saat-saat terakhirnya, hal yang beliau risaukan bukanlah harta atau nasib keluarganya, melainkan jeritan kerinduan bagi pengikutnya: “Ummatii… ummatii… ummatii...” (Umatku, umatku, umatku).
Betapa cinta dan besarnya kasih sayang Rasulullah kepada umatnya, bahkan di saat ajalnya telah menjemput, yang ia pikirkan tetaplah umatnya, bukan dirinya sendiri atau keluarganya.
Banyak kisah keteladanan Rasulullah SAW yang disisipkan dalam ceramah-ceramah Ustaz Zainuddin MZ yang sangat berkesan.
Namun, ketiga kisah tersebut menyuarakan pesan universal, yaitu bahwa kesabaran dan kelembutan bukanlah wujud kelemahan politik atau kepasrahan yang pasif. Sebaliknya, kesabaran adalah kekuatan moral tertinggi yang sanggup mendobrak tembok kebencian dan mengubah konfrontasi menjadi rekonsiliasi.
Nabi SAW membuktikan bahwa perubahan sosial yang berkelanjutan tidak dibangun di atas fondasi dendam atau dominasi kekuasaan, melainkan melalui ketangguhan spiritual dan empati.
Di tengah kondisi masyarakat modern yang makin terfragmentasi, teladan kesabaran ini menemukan urgensinya. Ruang publik kita hari ini kerap diwarnai oleh budaya amarah (rage culture), amuk massa di media sosial, dan kemudahan menghakimi sesama akibat perbedaan pandangan. Kritik sering kali diartikan sebagai musuh yang harus dihancurkan, bukan ruang dialog untuk perbaikan.
Algoritma media sosial makin memperparah keadaan dengan menguatkan bilik gema (echo chamber), di mana emosi destruktif dan manipulasi kebencian lebih cepat memantik respons ketimbang argumentasi yang rasional. Dalam ekosistem yang rentan ini, kita menyaksikan bagaimana kemarahan diproduksi secara massal dan dijadikan komoditas politik maupun ekonomi. Nilai-nilai empati tergerus, digantikan oleh dorongan untuk selalu mempermalukan, menyingkirkan, dan mendiskreditkan kelompok yang berbeda pandangan.
Padahal, budaya amarah yang tak terkontrol hanya akan memperlebar celah pembelahan sosial dan membunuh iklim demokrasi yang sehat. Ketika semua isu disikapi dengan reaksi emosional tanpa konfirmasi dan pemikiran yang jernih, ruang publik kehilangan fungsinya sebagai wadah diskursus yang bermartabat. Kita menjadi masyarakat yang mudah terprovokasi, tapi miskin solusi; mahir melempar prasangka, namun gagap dalam membangun dialog yang konstruktif.
Di sinilah letak relevansi utama membumikan kembali akhlak kesabaran Rasulullah sebagai etika publik. Kesabaran dalam konteks sosial modern bukan sekadar sikap pasif menahan diri, melainkan sebuah keberanian moral untuk menghentikan rantai kebencian. Ia adalah ketahanan mental untuk tidak ikut terseret dalam arus amuk massa, serta komitmen untuk tetap mengedepankan kejelian bernalar, kelembutan tutur kata, dan rasa hormat di tengah bisingnya silang pendapat.
Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang jatuh pada hari ini, Selasa, 25 Agustus 2026, sepatutnya menjadi cermin untuk menguji kembali sejauh mana keislaman kita telah mewarisi akhlak kesabaran tersebut. Kesabaran Rasulullah bukanlah sikap diam membiarkan ketidakadilan, melainkan keberanian untuk menahan diri dari godaan membalas keburukan dengan keburukan yang serupa.
Bangsa ini membutuhkan oase kesabaran sosial. Jiwa besar untuk merangkul pihak yang berseberangan, mendoakan kebaikan bagi mereka yang membenci, serta menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok adalah warisan teragung Rasulullah. Jika kita mengaku mencintai Nabi yang di akhir hayatnya terus memanggil “Ummatii…”, maka bukti terbaik dari cinta itu adalah menjaga kerukunan umat dan tidak mengorbankan persaudaraan hanya demi ego seketika.
Peringatan Maulid Nabi sejatinya bukan semata perayaan seremonial yang berlalu tanpa bekas. Lebih jauh dari itu adalah panggilan untuk melakukan pengujian atas akhlak kita sendiri. Meneladani Rasulullah berarti berani mengambil jalan paling tangguh: meredam permusuhan dengan kebaikan dan menjadikan kesabaran sebagai pijakan dalam berbangsa. Dari sana, dari keteladanan yang dihidupkan dalam tindakan sehari-hari, kesabaran sosial tidak lagi berhenti sebagai imbauan moral, melainkan tumbuh menjadi fondasi utama yang merawat keutuhan peradaban kita. []
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis
Penulis: Muhammad Subhan
Editor: Supriadi Buraerah
































































