PASAMAN BARAT, InsertRakyat.com — Sebanyak 56 siswa sekolah dasar akan mengikuti Pelatihan Mengulas Buku Cerita Anak yang ditaja TBM Pondok Buku Olalaa, Ujung Gading, Kabupaten Pasaman Barat, Sabtu (22/8/2026) mendatang, di Pendopo Yayasan Al-Mukhlisin, Ujung Gading.
Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian Program Penguatan Literasi Berbasis Komunitas dan Budaya melalui Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Literasi Tahun 2026 yang diberikan oleh Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Pelatihan Mengulas Buku menghadirkan narasumber Mutia Dessri, S.Pd., Staf Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat. Peserta akan mendapatkan pengalaman belajar untuk memahami isi bacaan, menemukan gagasan penting dalam buku, serta menyampaikan kembali hasil bacaannya melalui kegiatan mengulas buku.
“Kegiatan ini dirancang tidak sekadar untuk mendorong anak-anak membaca, tetapi juga membangun kemampuan mereka dalam memahami, mengolah, dan mengomunikasikan informasi yang diperoleh dari buku,” ujar Founder TBM Pondok Buku Olalaa, Sumira Putri, S.Pd., melalui siaran pers yang diterima InsertRakyat.com, Kamis (20/6/2026).
Dikatakan, kegiatan literasi perlu dikemas dalam bentuk yang memberikan ruang kepada anak untuk aktif berpikir dan menyampaikan gagasan.
“Anak-anak tidak cukup hanya diajak membaca. Mereka juga perlu diberikan ruang untuk menceritakan kembali apa yang mereka baca, menyampaikan pendapat, dan belajar memahami sebuah bacaan dengan cara mereka sendiri,” ujarnya.
Program Penguatan Literasi Berbasis Komunitas dan Budaya yang dilaksanakan TBM Pondok Buku Olalaa tidak hanya menghadirkan kegiatan mengulas buku untuk siswa sekolah dasar. Program ini terdiri atas tiga rangkaian kegiatan yang menyasar kelompok peserta dan kebutuhan literasi yang berbeda.
“Selain Pelatihan Mengulas Buku yang diikuti 56 siswa sekolah dasar, terdapat Lokakarya Menulis Puisi Berbasis Budaya Lokal Kabupaten Pasaman yang akan diikuti sebanyak 60 peserta. Peserta kegiatan ini terdiri atas siswa SMP dan SMA, guru, serta masyarakat umum,” ungkap Sumira.
Lokakarya tersebut menghadirkan dua pegiat literasi Sumatera Barat Muhammad Subhan dan Denni Meilizon sebagai narasumber. Melalui kegiatan ini, jelas Sumira, peserta akan diajak menggali kekayaan budaya lokal Kabupaten Pasaman dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi dalam menghasilkan karya puisi.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda dan masyarakat untuk mengenal, mengingat, serta mendokumentasikan kekayaan budaya lokal melalui karya sastra,” paparnya.
Ditambahkan, rangkaian ketiga adalah Workshop Pembinaan Komunitas Literasi yang melibatkan 20 komunitas literasi. Kegiatan ini menghadirkan Hasan Achari Harahap, Ketua Forum TBM Sumatera Barat, sebagai narasumber.
Workshop tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas komunitas literasi, berbagi pengalaman, serta membangun jejaring dan kolaborasi antarkomunitas dalam mengembangkan gerakan literasi di daerah.
Melalui tiga rangkaian kegiatan tersebut, TBM Pondok Buku Olalaa berupaya menghadirkan gerakan literasi yang tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi berkembang menjadi kegiatan yang mendorong anak-anak, pelajar, guru, masyarakat, hingga komunitas literasi untuk membaca, menulis, berkarya, berbagi, dan bergerak bersama.
Program ini juga menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu ruang gerakan literasi. Anak-anak mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan membaca dan berbicara, pelajar dan masyarakat mendapatkan ruang untuk mengekspresikan budaya melalui puisi, sementara komunitas literasi mendapatkan kesempatan untuk memperkuat kapasitas dan jejaring.
TBM Pondok Buku Olalaa berharap dukungan melalui Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Literasi Tahun 2026 dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi perkembangan ekosistem literasi di Kabupaten Pasaman Barat dan sekitarnya.
“Bagi TBM Pondok Buku Olalaa, program ini bukan sekadar rangkaian kegiatan, tetapi bagian dari ikhtiar untuk membangun ruang literasi yang hidup dan tumbuh bersama masyarakat. Membaca untuk memahami, menulis untuk mengabadikan budaya, dan berkomunitas untuk menguatkan gerakan literasi,” tutup Sumira.
Penulis: Fitrah Helmy
Editor: Muhammad Subhan






























































