Kesuksesan sering terlihat dari hasil akhirnya. Padahal, sebelum sebuah peluang diambil atau keputusan dibuat, ada proses berpikir, kebiasaan, dan pertimbangan yang tidak selalu terlihat. Tayangan Denny Santoso dan Hingdranata Nikolay mengajak melihat proses tersebut lebih dalam. Insert Rakyat.com akan mengulas secara tuntas.


JAKARTA, INSERTRAKYAT.COM — Kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat dari banyak hal, mulai dari karier, bisnis, kondisi finansial, hingga kemampuan seseorang mengambil keputusan. Namun, hasil yang terlihat hanya merupakan bagian akhir. Di baliknya ada cara seseorang membaca keadaan, mengenali peluang, berbicara kepada diri dan orang lain, mempertimbangkan pilihan, dan menentukan tindakan.

Setiap hari, manusia dihadapkan pada berbagai pilihan. Ada yang harus menentukan pekerjaan, memulai usaha, mengelola keuangan, menghadapi masalah, atau mengambil keputusan yang memengaruhi masa depan.

Situasi yang dihadapi bisa saja sama, tetapi cara setiap orang melihatnya berbeda.

Sebuah peluang kerja dapat dianggap sebagai kesempatan oleh seseorang, tetapi dinilai terlalu berisiko oleh orang lain. Masalah yang sama juga dapat dipandang sebagai hambatan oleh satu orang dan tantangan yang masih bisa diselesaikan oleh orang lain.

Perbedaan cara melihat keadaan tersebut menjadi salah satu hal penting ketika membahas kesuksesan.

Publik sering kali hanya melihat hasil akhir. Bisnis yang sudah berkembang, karier yang meningkat, kehidupan yang mapan, atau keputusan yang menghasilkan keuntungan terlihat jelas. Sementara proses yang terjadi sebelum semua itu sering tidak terlihat.

Padahal, sebelum sebuah tindakan dilakukan, ada proses berpikir yang mendahuluinya.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya, “Apa yang dilakukan orang sukses?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Bagaimana ia sampai pada keputusan untuk melakukan hal tersebut?”

Keinginan mempelajari kesuksesan sering dimulai dari pertanyaan seperti, “Bagaimana cara menjadi kaya?” atau “Bagaimana cara menjadi sukses?”

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi cakupannya sangat luas.

Jawaban seperti bekerja keras, disiplin, tekun, konsisten, atau berani mengambil risiko memang dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang. Namun, jawaban tersebut belum menjelaskan bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika menghadapi peluang, persoalan, atau ketidakpastian.

Baca Juga :  Alasan Kemenkum Pilih Undip, Kenapa?

Karena itu, proses tersebut perlu dilihat secara lebih rinci.

Apa yang pertama kali dilihat seseorang ketika menemukan peluang?

Apa yang muncul dalam pikirannya?

Apa yang dikatakan kepada dirinya sendiri?

Apa yang dibayangkan sebelum mengambil keputusan?

Mengapa ia memilih tindakan tertentu?

Pertanyaan tersebut menggeser perhatian dari hasil menuju proses.

Pembahasan mengenai proses tersebut menjadi bagian dari percakapan Denny Santoso dan Hingdranata Nikolay dalam tayangan di kanal YouTube Denny Santoso pada tanggal 12 lalu. Tayangan tersebut juga mengangkat tentang Neuro-Linguistic Programming (NLP).

Denny menggali lebih jauh apa yang terjadi di balik tindakan dan keberhasilan seseorang. Sementara itu, Hingdranata menjelaskan pentingnya memecah pertanyaan besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil ketika ingin memahami cara seseorang berpikir.

Menurut konteks pembahasan tersebut, pertanyaan tentang kesuksesan tidak cukup berhenti pada strategi yang digunakan setelah seseorang berhasil.

Yang perlu ditelusuri adalah apa yang terjadi sebelum strategi tersebut muncul.

Bagaimana seseorang mengenali peluang? Mengapa peluang itu menarik? Apa pertimbangannya? Bagaimana ia membayangkan kemungkinan hasilnya? Setelah itu, tindakan apa yang diambil?

Hingdranata memberikan ilustrasi mengenai sebuah lahan kosong.

Lahan yang sama dapat menghasilkan pemikiran berbeda ketika dilihat oleh orang dengan latar belakang berbeda.

Seorang pilot dapat melihat kemungkinan yang berkaitan dengan penerbangan. Pengusaha pusat perbelanjaan dapat melihat peluang bisnis. Sementara petani dapat melihat potensi lahan untuk kegiatan pertanian.

Lahannya sama, tetapi cara melihatnya berbeda.

Ilustrasi tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa pengalaman, pengetahuan, kosakata, keyakinan, dan gambaran mental dapat memengaruhi cara seseorang memahami sebuah keadaan.

Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan cara melihat juga dapat memengaruhi keputusan.

Sebuah masalah dapat dianggap sebagai hambatan oleh seseorang. Orang lain mungkin melihatnya sebagai persoalan yang masih memiliki peluang untuk diselesaikan.

Hal itu tidak berarti semua masalah harus dianggap sebagai peluang. Namun, cara seseorang membaca keadaan dapat menentukan pilihan yang muncul dalam pikirannya.

Baca Juga :  Kodam I/BB Dorong Gizi dan Karakter : Program Makan Sehat Jangkau 250 Anak Panti Asuhan

Pembahasan kemudian masuk pada proses yang terjadi sebelum seseorang mengambil tindakan.

Hingdranata memberikan contoh seseorang yang akan bertemu calon rekan bisnis.

Jika hanya melihat dari luar, yang tampak adalah sebuah pertemuan. Namun, untuk memahami pola pikir orang tersebut, proses sebelum pertemuan juga perlu diperhatikan.

Apa yang dipikirkan?

Apa yang dikatakan kepada diri sendiri?

Bagaimana ia mempersiapkan diri?

Apa yang dibayangkan?

Bagaimana ia membayangkan percakapan tersebut berlangsung?

Dalam contoh yang dibahas, gambaran mental dapat mencakup proses berjabat tangan, mencapai kesepakatan, menandatangani kontrak, hingga menciptakan manfaat dari kerja sama.

Detail tersebut menunjukkan bahwa tindakan yang terlihat sederhana dapat didahului proses berpikir yang panjang.

Untuk memahami seseorang yang berhasil, perhatian juga dapat diarahkan pada kebiasaan hariannya.

Bagaimana ia memulai hari?

Apa yang dilakukan setelah bangun tidur?

Apakah ia membaca?

Bagaimana ia mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan?

Bagaimana ia berbicara kepada dirinya sendiri ketika menghadapi situasi penting?

Pertanyaan tersebut membantu melihat bahwa pola pikir tidak hanya muncul ketika seseorang menghadapi keputusan besar.

Namun, kebiasaan orang lain tidak harus ditiru secara mentah.

Yang lebih penting adalah memahami alasan sebuah kebiasaan dilakukan dan bagaimana kebiasaan itu digunakan oleh orang tersebut.

Denny kemudian menggali contoh seseorang yang telah membangun bisnis besar.

Misalnya, seorang pengusaha yang kini memiliki banyak restoran ayam goreng.

Yang ingin diketahui bukan hanya bagaimana bisnis tersebut akhirnya berkembang, tetapi apa yang terjadi sebelum bisnis itu dimulai.

Bagaimana ia pertama kali melihat peluang?

Apa yang muncul dalam pikirannya?

Mengapa peluang tersebut dianggap menarik?

Bagaimana ia berbicara kepada dirinya sendiri?

Apa yang dibayangkan?

Kemudian, tindakan apa yang diambil?

Dengan cara tersebut, keberhasilan tidak dilihat sebagai satu tindakan tunggal.

Ada proses melihat, memahami, mempertimbangkan, memilih, dan bertindak.

Pembahasan tersebut juga menyinggung kecenderungan sebagian orang yang ingin menjadi entrepreneur karena tertarik pada passive income.

Keinginan memperoleh pendapatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada waktu kerja dapat menjadi salah satu alasan seseorang tertarik pada bisnis.

Baca Juga :  DPR Serap Aspirasi Publik, Revisi UU TNI Dikaji Secara Terbuka

Namun, membangun usaha membutuhkan lebih dari sekadar keinginan mendapatkan penghasilan.

Ada proses melihat peluang, menghasilkan ide, mengambil keputusan, menghadapi ketidakpastian, dan mengubah gagasan menjadi tindakan.

Karena itu, memahami kewirausahaan tidak cukup hanya dengan melihat hasil finansial. Proses yang mendahului hasil tersebut juga penting untuk dipelajari.

Lantas, belajar dari orang sukses tidak berarti harus menjalani kehidupan yang sama.

Seseorang tidak harus memiliki bisnis yang sama, rutinitas yang sama, atau mengambil keputusan yang sama.

Setiap orang memiliki pengalaman, kemampuan, sumber daya, lingkungan, dan tujuan yang berbeda.

Karena itu, tindakan yang berhasil pada seseorang belum tentu menghasilkan hasil yang sama ketika diterapkan oleh orang lain.

Yang lebih penting adalah memahami alasan di balik keputusan tersebut.

Bukan hanya bertanya, “Apa yang dilakukan orang sukses?”

Tetapi juga, “Bagaimana ia sampai pada keputusan tersebut?”

Gagasan tersebut tidak hanya berlaku dalam bisnis.

Dalam pekerjaan, seseorang dapat belajar memahami alasan ketika menerima atau menolak sebuah kesempatan.

Dalam pendidikan, seseorang dapat mengevaluasi cara menghadapi kesalahan.

Dalam keuangan, seseorang dapat memahami bagaimana menentukan prioritas sebelum mengambil keputusan.

Dalam hubungan profesional, seseorang dapat mempersiapkan diri sebelum melakukan pembicaraan penting.

Dengan demikian, memahami pola pikir orang lain dapat menjadi cara untuk belajar tanpa harus menyalin seluruh kehidupannya.

Tayangan Denny Santoso dan Hingdranata Nikolay dapat menjadi bahan untuk melihat kesuksesan dari sisi yang berbeda.

Bukan hanya tentang hasil, tetapi juga tentang proses yang mendahuluinya.

Sebelum seseorang mencapai sesuatu, ada pilihan yang dibuat. Sebelum pilihan dibuat, ada cara melihat keadaan. Dan sebelum tindakan dilakukan, ada proses berpikir yang mungkin tidak pernah terlihat oleh publik.

Persisnya, memahami pola pikir orang sukses bukan berarti mencari cara untuk menjadi salinan mereka. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana mereka membaca keadaan, mengenali peluang, mengambil keputusan, dan kemudian bertindak.

.

Penulis : Muhammad Subhan

Editor   : Supriadi Buraerah

TR Fahsul Falah — InsertRakyat.com
INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL
FEATURE STORY

Birokrasi · Aparatur · Indonesia 2045

BerAKHLAK Menjiwai Birokrasi TR Fahsul Falah Menuju Indonesia Emas 2045

Perjalanan kedinasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri, pengembangan kompetensi aparatur, dan nilai dasar ASN dalam kerangka pembangunan nasional.

Cerita TR · Perjalanan Kedinasan

InsertRakyat.com — TR Fahsul Falah menjalani tiga penugasan di lingkungan Kementerian Dalam Negeri sepanjang 2018–2022, mulai dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, hingga Sekretariat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri. Perjalanan kedinasannya kemudian berlanjut ke bidang strategi kebijakan. Saat ini, Oktober 2026, ia menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik pada Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri.

Pada 2018–2020, TR bertugas sebagai Kepala Bidang Pengembangan Kompetensi Jabatan Fungsional, Pelaksana, Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, DPRD, dan Lurah di PPSDM Kemendagri Regional Bandung. Pada 2019, ia mengikuti Training of Facilitator untuk Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dengan Agenda ANEKA. Pada tahun yang sama, ia juga mengikuti pelatihan untuk PNS yang beralih melalui mekanisme inpassing ke jabatan fungsional Pengawas Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan di Daerah.

Pada 2020, TR mendapat penugasan sebagai Kepala PPSDM Kemendagri Regional Makassar. Wilayah kerja lembaga tersebut mencakup sepuluh provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Salah satu kegiatan pada masa penugasan itu ialah Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan III yang berlangsung pada 15 September hingga 18 Desember 2020 dengan metode blended learning. Pesertanya berasal dari Kabupaten Bone, Bantaeng, dan Bulukumba di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara. TR menyampaikan laporan penyelenggaraan pelatihan tersebut.

Pada November 2020, ia juga terlibat dalam evaluasi program dan pembahasan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2021 bersama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Makassar. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian evaluasi program dan perencanaan anggaran di lingkungan PPSDM Kemendagri Regional Makassar.

Pada 2022, TR mengemban tugas sebagai Sekretaris BPSDM Kemendagri. Penugasan berikutnya membawanya ke BSKDN Kemendagri, tempat ia kini menjabat Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kewilayahan, Kependudukan, dan Pelayanan Publik. Bidang tugas tersebut berkaitan dengan strategi kebijakan pemerintahan dalam urusan kewilayahan, kependudukan, dan pelayanan publik.

Perjalanan kedinasan tersebut berlangsung dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan nasional yang terus berkembang. Sejak kemerdekaan, Indonesia dipimpin oleh presiden dengan agenda, kebijakan, dan tantangan yang berbeda pada setiap masa pemerintahan. Pembangunan nasional berjalan melalui rangkaian keputusan dan program yang dilaksanakan oleh lembaga negara serta aparatur pemerintahan.

Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2016 di hadapan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI, Presiden RI ke-7 Joko Widodo menyampaikan penghargaan terhadap kontribusi para presiden terdahulu, yakni Presiden RI ke-1 Soekarno, Presiden RI ke-2 Soeharto, Presiden RI ke-3 B.J. Habibie, Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri, dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pidato kenegaraan pada 15 Agustus 2025, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto juga menguraikan kontribusi para pemimpin sebelumnya. Presiden RI ke-1 Soekarno dikaitkan dengan pembentukan Republik Indonesia, upaya mempertahankan keutuhan wilayah, dan integrasi Irian Barat ke dalam NKRI. Pada masa Presiden RI ke-2 Soeharto, agenda pemerintahan mencakup pembangunan ekonomi, swasembada pangan, dan industrialisasi.

Presiden RI ke-3 B.J. Habibie memimpin Indonesia ketika negara menghadapi krisis multidimensi pada 1998, termasuk persoalan stabilitas ekonomi dan pengembangan teknologi. Pada masa Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, stabilitas nasional serta hubungan antarkelompok masyarakat menjadi bagian dari dinamika pemerintahan. Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri memimpin pada masa pemulihan ekonomi dan penguatan kelembagaan negara, termasuk menjelang pelaksanaan pemilihan presiden secara langsung pada 2004.

Pada masa Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah menangani penyelesaian konflik Aceh dan menghadapi krisis keuangan global. Presiden RI ke-7 Joko Widodo menempatkan pembangunan infrastruktur, hilirisasi, dan penanganan pandemi Covid-19 sebagai bagian penting dari agenda nasional. Sementara itu, Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto mengangkat ketahanan pangan, pembangunan sumber daya manusia, peningkatan kesejahteraan, dan pencapaian Indonesia Emas 2045 sebagai agenda pembangunan.

Pelaksanaan agenda nasional tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintahan. Aparatur sipil negara (ASN) menjalankan tugas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing, mulai dari perencanaan, pelaksanaan program, pengelolaan administrasi dan anggaran, hingga pelayanan kepada masyarakat. Di tingkat pusat maupun daerah, pekerjaan aparatur menjadi bagian dari proses pelaksanaan kebijakan pemerintah.

Nilai dasar ASN

Dalam penyelenggaraan tugas tersebut, nilai dasar ASN BerAKHLAK menjadi pedoman perilaku aparatur. Nilai ini ditetapkan melalui Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2021. BerAKHLAK mencakup tujuh nilai dasar, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif, dengan semboyan “Bangga Melayani Bangsa”.

Berorientasi Pelayanan menekankan pemenuhan kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang sesuai ketentuan. Akuntabel berkaitan dengan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas, penggunaan kewenangan, dan pengelolaan sumber daya. Kompeten menekankan penguasaan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Harmonis berkaitan dengan penghormatan terhadap perbedaan dan hubungan kerja yang baik.

Loyal berarti memegang teguh Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta pemerintahan yang sah sesuai ketentuan. Adaptif berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan. Kolaboratif menekankan kerja sama antarpihak dalam pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan organisasi.

Ketujuh nilai tersebut menjadi bagian dari kerangka perilaku ASN dalam menjalankan tugas pemerintahan. Penerapannya berkaitan dengan tata cara memberikan pelayanan, mempertanggungjawabkan pekerjaan, meningkatkan kompetensi, menjaga hubungan kerja, memegang teguh ketentuan, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta membangun kerja sama.

Dalam perjalanan kedinasan TR Fahsul Falah, penugasan di PPSDM Kemendagri Regional Bandung, PPSDM Kemendagri Regional Makassar, Sekretariat BPSDM Kemendagri, dan BSKDN Kemendagri tercatat dalam rentang tugas yang berbeda. Masing-masing berada pada lingkungan kerja dengan ruang lingkup tanggung jawab yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi aparatur, administrasi kelembagaan, dan strategi kebijakan pemerintahan.

Indonesia Emas 2045 merupakan sasaran pembangunan jangka panjang yang mencakup berbagai bidang, termasuk sumber daya manusia, perekonomian, tata kelola pemerintahan, dan pelayanan publik. Pencapaiannya melibatkan peran pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga negara, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam lingkup pemerintahan, ASN menjalankan tugas sesuai kedudukan, kewenangan, dan tanggung jawabnya.

Nilai dasar BerAKHLAK menjadi salah satu pedoman bagi ASN dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut. Semboyan “Bangga Melayani Bangsa” melekat pada agenda penguatan budaya kerja aparatur, sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari berlangsung melalui prosedur, program, koordinasi, dan pertanggungjawaban sesuai ketentuan. Dalam kerangka pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, birokrasi menjadi bagian dari pelaksanaan agenda nasional melalui pekerjaan aparatur di setiap tingkat pemerintahan.

Penulis: Muhammad Subhan

Editor: Supriadi buraerah

INSERT RAKYATMAJALAH DIGITAL · MOBILE EDITION

Literasi

Bilik Elipsis | InsertRakyat.com

Bilik Elipsis

Sastra, sajak, cerita, dan apresiasi karya.

Karya Pilihan

Ruang Sastra